Berita Foto Bisnis

Siti Karimatul Lutfi, Mahasiswi UBL Berprestasi Juga Pengusaha Muda Bumbu Dapur SF Food Premix

Siti Karimatul Lutfi, Mahasiswi UBL Berprestasi Juga Pengusaha Muda Bumbu Dapur SF Food Premix

Siti Karimatul Lutfi. | Dokumentasi Pribadi

Siti Karimatul Lutfi. | Dokumentasi Pribadi

Wartalampung.Id, Bandar Lampung – Siti Karimatul Lutfi yang biasa dipanggil Vivi ini lahir di Lampung Tengah, 29 September 1997.

Ia adalah salah satu pengusaha muda yang berbakat dan pintar.

Dia adalah pemilik usaha SF Food Premix yang bergerak di bidang produk pangan pokok bumbu dapur sejak tahun 2018.

Usaha yang telah dia jalankan tidak serta merta berjalan mulus layaknya air yang mengalir. Banyak rintangan yang telah dia hadapi untuk berada di posisi saat ini.

Saat ia memasuki masa remaja, orang tua Vivi adalah seorang yang suka merantau jauh. Hidupnya selalu berpindah-pindah dari pulau ke pulau.

Hal ini membuat Vivi remaja menjadi seorang wanita yang memiliki wawasan yang cukup luas dan mental yang kuat dibandingkan dengan anak-anak yang lain.

Dia bersekolah di SMK 1 Palu, Sulawesi Tengah. Ia Juga salah satu anak yang pintar.

Ia sering kali mendapatkan peringkat di sekolahnya. Tak tanggung-tanggung dalam 3 tahun di masa sekolah menengah dia selalu berada di peringkat kedua.

Saat berada di bangku kelas 11, ia pernah mendapatkan kesempatan bekerja di Hotel Santika Palu karena dianggap melakukan pekerjaan yang baik dan kompeten saat magang.

Secara tidak langsung Vivi menjadi salah satu murid yang bersekolah sambil bekerja.

Produk usaha Fiti Karimatul Lutfi. | Dokumentasi

Kepandaian Vivi dalam mengatur waktu, menjadikan hari libur sekolahnya sebagai ladang cuan yang berlimpah.

Ia membuat kue kering yang acap kali digunakan untuk acara adat masyarakat setempat. Dalam sebulan saja bisa mencapai 1.000 sampai 3.000 kue yang dia jual.

Hal ini tidak lagi membuat orang tua Vivi mengeluarkan uang bulanan sekolah. Kebutuhan sekolah sampai dengan uang jajan sehari-hari bisa ia penuhi sendiri.

Setelah lulus sekolah, Vivi sempat mendaftarkan dirinya di Polri, pramugari, sampai dengan kapal pesiar. Dan hebatnya Ia lolos dalam tess, namun tidak bisa melanjutkan hal tersebut.

Orang tua Vivi tidak menyetujui ditambah dengan proses administrasi yang cukup rumit.

Namun hal tersebut tidak membuat ia bersedih. Ia melanjutkan dengan bekerja di hotel Santika Palu. Selanjutnya setelah lulus sekolah dia langsung diangkat menjadi front office hotel tersebut.

Jiwa berbisnis dan mental baja memang tepat dilayangkan kepada wanita ini. Seakan-akan haus pekerjaan, Vivi juga mencoba usaha-usaha lainnya seperti berbisnis kosmetik.

Ia mengatakan sempat keluar dari Hotel Santika yang telah dia naungi 2 tahun lamanya.

Setelahnya ia bekerja di Klinik Kecantikan Natsya Skin Center sebagai costumer service sampai 1 setengah tahun Lamanya.

Merasa bahwa ia sudah 2 tahun tidak melanjutkan pendidikan, Vivi pulang ke Lampung tahun 2016. Ia menguatkan niat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kuliah di Universitas Bandar Lampung Program Studi Sistem Informasi bukanlah pilihan pribadi Vivi, namun hal tersebut adalah pilihan orang tuanya. Tapi dia merasa pilihan yang diberikan oleh orang tua adalah pilihan yang terbaik untuknya.

Menjadi seorang mahasiswa tidak membuat mindset Vivi berubah. Pekerjaan freelance ia lakukan demi mengisi kekosongan saat ia tak melakukan apa-apa.

Menjadi sekretaris di kantor pajak adalah profesinya. Ia berusaha tidak bergantung pada finansial orang tua.

Masuk semester 3 dalam perkuliahan, ia tak lagi menjadi sekretaris. Sempat jenuh dengan keadaan sendiri, tak melakukan apa-apa yang bisa menghasilkan keuntungan, akhirnya ia kembali membuat usaha yang lebih tersistematis berbekal pengalaman selama ini.

Ia mulai mencari ide usaha yang tak ada matinya. Ia bahkan sempat mencari data makanan kesukaan masyarakat Indonesia dan hasilnya 80 persen masyarakat Indonesia menyukai makanan yang digoreng.

Akhirnya munculah ide untuk membuat bahan dasar makanan yaitu tepung kribo.

Pada masa ini adalah awal mulai terbentuknya usaha yang dia jalankan sampai dengan sekarang. Masa yang sangat berat.

Memulai dari menaruh barang dagangan toko ke toko, dan melakukan sistem reseller.

Dalam jangka waktu 2 bulan setengah yang terus menerus tak ada perubahan, akhirnya ia mendapatkan reseller yang konsisten.

Seorang ibu kantin sekolah di Natar yang juga memiliki toko dan warung makan sendiri. Dari sini mulailah usaha yang ia jalankan berkembang dengan pesat.

Untuk lebih mengembangkan usahanya, Vivi juga mengajak ibu-ibu di sekitar rumah yang biasanya berkumpul ngerumpi untuk bekerja di bagian produksi miliknya.

Hal tersebut disambut dengan baik oleh mereka. Selain menghasilkan uang, ibu-ibu itu juga tetap bisa mengobrol dengan teman sebayanya.

Tidak hanya manisnya saja yang di dapatkan Vivi dalam menjalankan usaha. Ia juga sempat merasakan pengkhianatan oleh karyawannya sendiri yang mencuri resep bumbu pribadi.

Usaha yang ia susah payah kembangkan dengan mudahnya dihancurkan oleh seseorang di internal perusahaan.

Ia mengalami kerugian yang cukup besar, penurunan omset secara besar-besaran, sampai-sampai ia harus mem-branding ulang usahanya.

Ia mengungkapkan salah satu alasan kuat ia membangun usaha dan selalu bekerja keras adalah, keluarganya sempat mengalami kebangkrutan yang sangat besar.

Alasan ia berpindah-pindah tempat pun dikarenakan orang tua harus membangun citra kembali perusahaan, dan ia sudah bertekad pada dirinya sendiri tak akan berada di posisi itu.

Dari Sulawesi hingga Sumatera, dari seorang pekerja tetap hingga menjadi mahasiswa, dari mahasiswa sampai jadi pengusaha muda.

Kata menakjubkan terlihat pantas untuk seorang wanita muda yang mampu membangun usaha dengan mensejajarkan kegiatan kuliah.

Pandai dalam akademik perkuliahan, cekatan dan ulet dalam usaha yang dijalankan. Ini membuat Vivi menjadi salah satu wanita yang istimewa dan berpengaruh untuk kalangan anak muda.

Menjadi mahasiswa dengan predikat lulusan terbaik se-Fakultas Ilmu Komputer Universitas Bandar Lampung dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sebesar 3.90, dan wirausahawan muda adalah hasil kerja keras yang telah ia tuai selama ini.

Ia juga berpesan pada teman-teman jangan pernah takut untuk melangkah. Ketika kita mulai kita akan tahu dimana letak kekurangan diri sendiri.

Tentunya untuk bahan pembelajaran diri ketika kota berhasil ataupun gagal.

“Jangan takut saat gagal. Enggak ada orang sukses tanpa kegagalan. Jadi lebih baik habiskan masa gagalmu sekarang,” tutup Siti Karimatul Lutfi. [Noval Perdian, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UBL]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda