Latifah Khoirunnisa Nurjannah dan Liza Arzikni Firliansyah. | Dandy HR
Wartalampung.id, Bandar Lampung — Dua siswi SMP Islam Az-Zahra Bandar Lampung, Latifah Khoirunnisa Nurjannah (14) dan Liza Arzikni Firliansyah (13), berhasil mencuri perhatian melalui karya ilmiah berjudul “Green Life Capsule” Kapsul Media Tumbuh Tanaman Berbahan Limbah Pisang Cavendish (Musa acuminata Cavendish) sebagai Solusi Bertani di Lahan Tandus dan Kemarau Ekstrem untuk Menyukseskan Program Nasional Swasembada Pangan.
Karya ilmiah ini membawa mereka lolos ke ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025, ajang penelitian bergengsi yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional.
Inovasi “Green Life Capsule” merupakan media tanam berbahan limbah pisang Cavendish (Musa acuminata Cavendish) yang dirancang sebagai solusi pertanian di lahan tandus dan saat musim kemarau ekstrem.
Ide tersebut lahir dari kepekaan Latifah terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya, khususnya daerah Lampung yang kerap mengalami kekeringan.
Saat diwawancarai hari ini, Latifah menceritakan bahwa gagasan itu muncul setelah membaca berita mengenai krisis pangan akibat kemarau berkepanjangan di Lampung.
Dari situ, ia bersama timnya mulai berpikir tentang inovasi yang bisa membantu petani agar tetap dapat menanam di tengah kondisi sulit.
“Aku mulai mikir, apa ya yang bisa dibuat biar saat kemarau panjang tidak terjadi krisis bahan makanan dan petani tetap bisa menanam,” ujarnya.
Selama enam bulan proses penelitian, keduanya melakukan eksperimen di laboratorium sekolah dan Jabal Az-Zahra Kedaung.
Dukungan orang tua menjadi dorongan penting bagi Latifah dan Liza. Meskipun sempat khawatir dengan jadwal yang padat, keluarga akhirnya memberi kepercayaan penuh setelah melihat kesungguhan mereka dalam meneliti.
Kapsul “Green Life Capsule” ini memiliki fungsi utama menyimpan nutrisi dan air bagi tanaman, sehingga petani tidak perlu melakukan penyiraman berkala.
Teknologi sederhana ini diharapkan dapat membantu menjaga pertumbuhan tanaman di musim kering.
Manfaat terbesar dari inovasi ini adalah efisiensi waktu dan sumber daya bagi petani.
“Di dalam GLC sudah terdapat nutrisi tanaman, jadi petani tidak perlu menyiram terus-menerus,” jelasnya.
Perjalanan keduanya menuju OPSI tidak selalu mudah. Proses penyusunan laporan penelitian dan uji coba memerlukan ketekunan serta kerja sama tim yang kuat.
Latifah mengakui, momen paling berkesan selama penelitian adalah ketika mereka bersama-sama melakukan eksperimen dan menyusun laporan akhir.
Kabar lolos ke tingkat nasional OPSI menjadi momen yang membahagiakan bagi keduanya.
Mereka mengaku bahagia, terharu, dan berdebar karena usaha panjang mereka akhirnya membuahkan hasil.
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa nama baik sekolah di tingkat nasional.
Selain fokus pada riset, Latifah juga berkomitmen untuk mengedukasi masyarakat tentang cara mengolah limbah pisang agar lebih bermanfaat.
Bagi mereka, penelitian ini bukan sekadar kompetisi, melainkan wujud kepedulian terhadap lingkungan dan ketahanan pangan nasional.
Latifah berharap lebih banyak pelajar Indonesia berani meneliti dan berinovasi. Siswa-siswi tidak takut untuk mencoba dan mengikuti ajang ilmiah seperti OPSI. [Dandy HR]

Tinggalkan Komentar Anda