Mari bantu adik Gibran. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Muhammad Gibran adalah salah satu pasien rawat jalan di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung yang berasal dari Kebun Tebu, Lampung Barat.
Balita mungil tiga bulan tersebut mengalami penyempitan usus sehingga harus menjalani tindakan operasi kolostomi.
Kolostomi adalah pembuatan lubang dengan cara pembedahan ke dalam usus besar melalui perut. Tujuannya adalah memungkinkan tinja melewati bagian usus besar yang rusak atau mengalami gangguan.
Anak kedua dari keluarga buruh tani pasangan Hendi (38 tahun) dan Ai Mulyati (32 tahun) ini sering menangis kesakitan karena sulit untuk buang air besar (BAB).
“Anak saya ini sering menangis karena perutnya kesakitan akibat sulit buang air besar,” ujar Mulyati.
Kasus penyempitan usus yang dialami Gibran ini kerap kali ditemukan pada pasien anak anak atau balita yang singgah di Rumah Singgah Pasien (RSP) IZI-YBM PLN Lampung.
Gejala dari penyempitan usus ini mulai diare berlendir, sakit perut hingga ditandai dengan bayi menjadi sering menangis tanpa sebab dengan demam tinggi, gestur tubuh melenting dan rewel.
Sudah dua kali pasangan muda ini menuju ke RSUD Abdul Moeloek untuk melakukan rawat jalan anak bungsunya tersebut.
“Pertama kali berobat setelah mendapat rujukan dari RSUD Alimudin Umar Liwa Lampung Barat. Kami menginap dan istirahat di masjid RS karena tidak ada saudara,” jelas Mulyati.
“Kami tidak menyewa kos atau kontrakan karena uang kami terbatas jadi lebih baik uangnya untuk kebutuhan si kecil dan makan selama di RS,” jelasnya.
Setelah mendapatkan informasi dari sesama pasien asal Lampung Barat yang pernah singgah di RSP IZI-YBM PLN Lampung, akhirnya Hendi mendaftar dan membawa anak dan istrinya mendaftarkan diri dan bisa singgah di RSP.
“Alhamdulillah sekarang kami bisa tinggal di RSP IZI secara gratis tidak lagi tidur dan menginap di masjid RS,” kata Mulyati.
Sebelumnya Gibran menjalani rawat jalan pada pertengahan Januari lalu sehingga Ia harus singgah beberapa malam di RSP. Mulyati menceritakan suasana yang nyaman dan nuansa kekeluargaan yang begitu dekat selama ia menginap di RSP IZI-BYM PLN Lampung.
“Saya sangat bersyukur bisa dibantu dan singgah di sini gratis dengan suasana RSP yang tenang dan nyaman, terlebih anak saya Gibran selalu menangis jika suasananya ramai seperti di rumah sakit,” kata Mulyati.
Saat ini Gibran sementara kembali lagi ke rumahnya di Kebun Tebu Lampung Barat sambil menunggu jadwal tindakan berikutnya dari rumah sakit.
Nanti jika jadwal sudah keluar, Gibran dan orang tuanya ke depan kembali singgah lagi ke RSP. [Fahri Galang Reinaldi/IZI Lampung]
