Opini

Sekolah Tinggi, Harapan Rendah

Sekolah Tinggi, Harapan Rendah

Romi Aprilyansa. | Dokumentasi

Oleh Romi Aprilyansa, Alumnus SMAN 2 Bandar Lampung dan Fakultas Teknik Unila

Bayangkan ini: seorang anak kuliah empat tahun, lulus dengan IPK 3,8, pulang dengan toga, tapi tetap bingung—mau ke mana selanjutnya?

Itu bukan cerita fiksi. Itu realitas kita hari ini.

Sekolah, kuliah, belajar—semua diarahkan untuk satu tujuan: dapat kerja. Sejak kecil, banyak dari kita dijejali pesan bahwa semakin tinggi sekolah, apalagi semakin mahal, maka semakin besar peluang untuk sukses dan jadi orang kaya.

Seolah sekolah adalah pintu tol menuju kemapanan. Padahal faktanya tidak sesederhana itu.

Secara alami, manusia memang bekerja untuk bertahan hidup. Bergerak, berupaya memenuhi kebutuhan. Tapi ketika sekolah hanya dimaknai sebagai sarana mencari kerja, kita kehilangan fungsi utamanya: membentuk pola pikir.

Pendidikan seharusnya bukan hanya soal “kerja apa nanti?”, tapi juga tentang “bagaimana berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan di tengah dunia yang terus berubah.” Tapi hari ini, cara berpikir itu justru dikebiri.

Kita diajari untuk mengejar angka, bukan makna. Diajari rumus, bukan logika. Didorong menyelesaikan soal, tapi lupa belajar bertanya.

Akibatnya, tidak heran kalau banyak lulusan merasa kecewa. Sudah bayar mahal, sudah capek kuliah, tapi tidak siap menghadapi dunia nyata.

Menurut data BPS tahun 2023, jumlah pengangguran dari kalangan sarjana mencapai lebih dari 1 juta orang. Sebagian karena tidak ada lapangan kerja yang cocok.

Tapi sebagian lagi karena memang sistem pendidikannya tidak mengasah kemampuan dasar manusia: berpikir, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah.

Penelitian di kampus pun ikut terseret. Banyak yang sibuk mengejar jurnal internasional demi akreditasi, padahal problem di sekitar tidak tersentuh.

Petani tetap pakai alat usang. UMKM kesulitan masuk pasar digital. Industri mencari solusi praktis, tapi kampus sibuk membahas metodologi.

Padahal, seperti kata Ki Hadjar Dewantara: “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”

Artinya, sekolah itu bukan pabrik buruh korporat. Tapi tempat untuk membentuk manusia seutuhnya.

Profesor Howard Gardner dari Harvard bilang: “The world doesn’t just need more smart people. It needs people who are wise.” Dunia tak butuh sekadar orang pintar. Tapi butuh orang yang bisa berpikir jernih, punya nilai, dan tahu kapan harus bertindak atau diam.

Sudah saatnya kita luruskan orientasi. Sekolah bukan sekadar lorong menuju kerja.

Ia adalah ruang menempa cara pandang. Bila pendidikan gagal mengajarkan anak-anak kita bagaimana berpikir, maka apalah arti semua gelar dan IPK?

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya soal kerja dan gaji. Tapi soal bagaimana kita memahami dunia, dan peran kita di dalamnya. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda