Lampung Utara

Salimah Lampung Utara Kajian Duha Daring, Nisa’ul Fithri Mardani Syihab Jelaskan Ramadan dan Perempuan

Salimah Lampung Utara Kajian Duha Daring, Nisa’ul Fithri Mardani Syihab Jelaskan Ramadan dan Perempuan

Kajian duha daring Salimah Lampung Utara. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Kotabumi – PD Salimah Lampung Utara menggelar kajian duha secara daring via Zoom, Minggu kemarin, 9/3/2025.

Acara yang dimotori oleh Departemen Dakwah ini dihadiri Ketua Laya Manggeheskar dan perwakilan 15 pengurus cabang dan masyarakat.

Acara bertujuan mempererat silaturahmi antarpengurus.

Selain itu, meningkatkan keimanan dan ibadah Ramadan agar menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya.

Panitia mengusung tema ”Keindahan Ramadan dalam Setiap Peran Perempuan” yang disampaikan Ustazah Nisa’ul Fithri Mardani Syihab yang juga Ketua Departemen Diklat Salimah Lampung Utara.

Ia menjelaskan, “perempuan” berasal dari kata akar yang berarti empu (yang mempunyai diri). Sedangkan “wanita “berasal dari kata ”wani ditata” yang beraarti (orang yang mau di atur).

Selama ini terkadang kita selalu sibuk dengan urusan dunia, khususnya perempuan yakni ibu, membagi waktu dengan pekerjaan kantor, rumah, mengurus suami dan mengurus anak, sehingga lelah dengan urusan duniawi dan lalai akan perintah Allah.

Kata dia, ada tiga hal yang membuat manusia lalai (ghaflah), yakni perbuatan dosa (haram), perbuatan yang sia-sia, dan perbuatan yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup (halal).

Adapun lumbung pahala perempuan adalah mengerjakan amalan-amalan wajib, menjaga lisan dari perkataan dzur (bohong), mMemperbanyak interaksi dengan Alquran, memperbanyak zikir, memperbanyak sedekah, menjaga salat-salat sunah, dan mMenjalankan kepemimpinannya dalam hal mengurus rumah dan anak-anak.

Ada dua prinsip yang menjadi penenang untuk kaum perempuan dalam meraih pahala.

  1. Bersedih karena tidak dapat melakukan sebuah amalan dinilai tidak ada dosa baginya disebabkan kesedihannya itu dan niatnya dihitung di sisi Allah serupa dengan orang yang melakukannya secara sempurna (Surat At Taubah: 92)
  2. ⁠Pahala tetap dituliskan jika dia rutin melakukannya di luar masa uzur. (HR Bukhari)

“Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.”

Pada fitrahnya, perempuan mencintai proses yang dialami. Itu terkadang dalam penciptaan yang Allah lekatkan pada tubuhnya, dalam pengalaman penubuhannya.

Ramadhn adalah membebaskan diri dari destraksi (ghaflah) bahkan dari hal yang esensial sekalipum agar perempuan meraskan nikmatnya proses berhubungan dengan Allah dalam waktu yang berkualitas, menikmati komunikasi Allah kepadanya melalui kata-kata Nya di dalam Alquran dan menikmati komunikasinya kepada Allah dalam doa dan salat. [dr Artyca Wahyu Utami/Salimah Lampung Utara]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda