Saifudin. | Kurniati

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Saifudin (45 tahun) penjual nasi goreng asal Lahat, Sumatera selatan, sudah bertahun-tahun mengadu nasib di Bandar Lampung.
Waktu pertama datang, Saifudin mengaku tidak mempunyai modal untuk memulai usahanya.
Ia juga tidak memiliki kerabat ataupun teman yang tinggal di kota ini..
“Saya memang nekat datang ke sini, tapi mau bagaimana lagi karena ingin mengubah nasib di kampung,” tuturnya, Senin, 20/9/2021.
Awalnya Udin bekerja menjajakan siomay milik orang. Dia berjualan somay dari pagi sampai petang.
Keinginan sangat kuat mengubah nasib demi anak istri membuat Saifudin semangat bekerja.
Dia mengumpulkan modal membuka usaha sendiri dari uang yang sudah dikumpulkan sehari-hari.
Kini Saifudin membuka usahanya dengan berjualan nasi goreng di depan Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek.
Ia berjualan pada malam hari, dari pukul 18.00 WIB sampai 01.30 WIB.
Tidak hanya menjual nasi goreng, Saifudin juga menjual mi goreng dan mi rebus dengan harga Rp12 ribu per porsi.
Di masa pendemi covid-19 Saifudin tidak pernah menutup dagangannya.
“Di sini alhamdulillah tidak pernah sepi pelanggan. Mungkin karena saya berjualan di depan rumah sakit,” katanya.
Saifudin mengaku tidak merasa takut berjualan depan rumah sakit dan bertemu orang-orang banyak. Ia juga tidak paranoid dengan virus dari Wuhan, corona.
Ia lebih takut jika tidak berjualan. Jika ia setop jualan, tak ada uang yang bisa ia kirim ke anak dan istrinya di kampung.
Berkat usaha serta kerja kerasnya, keluarganya bisa hidup yang layak.
Saifudin berpesan, setiap orang punya cara masing-masing. Tetapi sukses itu datang karena kita yang cari. [Kurniati, Mahasiswa Ilmu komunikasi FISIP UBL]
