Berita Foto Ruwajurai Tulang Bawang Barat

Purnama Tiyuh-Tiyuh Jadi Pidato Terakhir Umar Ahmad Sebagai Bupati Tulangbawang Barat

Purnama Tiyuh-Tiyuh Jadi Pidato Terakhir Umar Ahmad Sebagai Bupati Tulangbawang Barat

Umar Ahmad. | Dokumentasi

Umar Ahmad. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Panaragan Jaya – Kolektif Seni Tubaba kembali menggelar Purnama Tiyuh-Tiyuh edisi ke-2. Edisi sebelumnya diselenggarakan Maret lalu.

Sejak pertama kali digelar, Purnama Tiyuh-Tiyuh diciptakan sebagai ruang perlintasan gagasan dan jaringan antarkomunitas seni di berbagai tiyuh di Tubaba dengan warga.

Seni dalam Purnama Tiyuh Tiyuh menjadi cara setiap yang terlibat (warga seni maupun warga negara) membincangkan dan melihat kembali atas berbagai persoalan yang berlangsung di sekitar tiyuhnya beserta seluruh pengetahuan lokal dan falsafah hidup ketiyuhan maupun ke-Tubaba-an yang tidak sebatas mengalami geografi.

Apa artinya menjadi tiyuh dan menjadi Tubaba? Sejak awal pula, acara ini bukan bertujuan menampilkan karya-karya seni yang ideal, adiluhung dan sempurna, melainkan menampilkan karya-karya seni dari generasi baru Tubaba yang sedang tumbuh mencari kemungkinan-kemungkinan pengungkapan dari sebuah proses yang mengandung nilai-nilai kebersamaan untuk menuju masa depan Tubaba yang lebih baik.

Tumbuh Jejamo kemudian dipilih sebagai tema Purnama Tiyuh-Tiyuh edisi 2 untuk menggambarkan bagaimana generasi muda Tubaba hidup bersama fasafah dan pengetahuan lokal seperti nemen, nedes nerimo (nenemo), serta setara, sederhana dan lestari.

Kesemuanya mendorong setiap orang untuk saling mengerti dan berjalan bersama atau sakai sambayan ke masa depan.

Ada pun rangkaian acara Purnama Tiyuh-tiyuh edisi ke 2 terdiri dari Diskusi 10 Tahun Equator Biennale Yogyakarta “Membaca Pendidikan Seni dalam Siasat Khatulistiwa” dengan pembicara Alia Swastika (Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta), Semi Ikra Anggara (Direktur Sekolah Seni Tubaba), Karen Hardini (Staf Program dan Peneliti Yayasan Biennale Yogyakarta), dengan moderator John Heryanto. Ini diselenggarakan kerja sama Sekolah Seni Tubaba dan Yayasan Biennale Yogyakarta.

Kemudian  ada Lomba Baca Puisi Se Tubaba Tingkat SMP dan SMA 2022 yang diselenggarakan kerja sama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Tubaba, Komunitas Literasi Tubaba, dan Sekolah Seni Tubaba.

Lalu peresmian Studio Kramik Tubaba, dan puncaknya adalah Malam Purnama Tiyuh-Tiyuh. Seluruh acara tersebut berlangsung di Kota Budaya Ulluan Nughik, Tubaba.

Puncak acara Purnama Tiyuh-Tiyuh itu akan dilaksanakan pada 21 Mei 2022 di Rumah Baduy, pukul 19.30. Dalam cara tersebut, Bupati Tubaba Umar Ahmad rencananya menyampaikan pidato kebudayaan sekaligus membuka acara.

Kemungkinan, demikian disebutkan dalam rilis, itulah pidato terakhir Umar Ahmad sebagai bupati menyapa warga.

Dalam sambutan rangkaian pertama Purnama Tiyuh-Tiyuh edisi 2, Diskusi 10 Tahun Bienale Yogyakarta “Membaca Pendidikan Seni Siasat Khatulistiwa”, Umar Ahmad sempat pula berpamitan.

Ia berkata, upaya-upaya membangun orang dan membangun ruang adalah upaya untuk menuju masa depan. Kalau di Dinas Pendidikan itu ada Tubaba Cerdas, pihaknya mengundang pengajar-pengajar cerdas se Indonesia untuk hadir ke tempat ini.

Mereka bersedia menghibahkan waktunya selama satu tahun. Berkolaborasi dengan pemerintah daerah membangun pendidikan alternatif.

Ada Tubaba Camp yang peserta didiknya itu siswa-siswi SD, model pendidikan yang diperkenalkan soal budaya dan ekologi.

“Lulusannya kami beri gelar ksatria nenemo. Setiap lulusan diberi satu pohon yang akan menjadi teman hidup mereka selama menumpang di atas bumi,” kata dia.

Bupati menambahkan, ada juga kesantrian Tubaba. Ini adalah model pendidikan yang mengirim muda-mudi Tubaba kepada orang-orang yang kita anggap layak Tubaba kepada seniman, kepada arsitek, kepada praktisi lingkungan dan lain-lain yang sedia dititipi anak-anak.

Sehingga anak-anak dapat belajar langsung pada orang-orang yang memengang prinsip-prinsip. Kemudian ada Sekolah Seni menjadi penyelenggara kegiatan ini.

Ada tari, musik, sasta, teater, dan film. Dalam sekolah seni ini bukan siapa yang lulus jadi seniman atau artis. Ini upaya membentuk karakter Tubaba.

“Saya bahagia dan mohon doanya karena ini mungkin terakhir kalinya. Saya pamit jadi bupati di forum yang diadakan Sekolah Seni Tubaba. Mohon doanya supaya tetap sehat dan selamat, saling mendoakan,“ tutup Umar. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda