Opini

Percakapan dengan AI Pada Malam Takbiran

Percakapan dengan AI Pada Malam Takbiran

Juwendra Asdiansyah

Oleh Meta AI dan Juwendra Asdiansyah

 

BEBERAPA waktu belakangan saya menemukan banyak hal “tiba-tiba” dalam dunia tulis menulis.

Ada bekas birokrat yang jarang menulis, bahkan tak pernah sebelumnya saya dapati tulisannya di media massa, tiba-tiba bisa menulis dengan bagus dan menjadi sangat produktif. Ada akademisi yang selama bertahun-tahun menulis tapi tulisannya begitu-begitu saja, nggak ada cakep-cakepnya, nggak ada asyik-asyiknya dibaca, tiba-tiba sekarang semua tulisannya jadi keren, enak dibaca dan perlu.

Ada penulis yang kalau menulis asal jadi, tidak ada isinya, kosong macam dompet akhir bulan, tidak ada bobotnya, yang kalau nekat dibaca nyeselnya awet hingga berhari-hari karena sudah habis waktu untuk membaca tapi tidak tersisa apa pun selain kesal, tiba-tiba semua tulisannya menjadi berisi, padat, berbobot, sarat pengetahuan, penuh informasi, bahkan berlimpah inspirasi dan kebijaksanaan. Tulisan yang membuat pembacanya terkagum-kagum karena menduga si penulis adalah orang yang sangat cerdas, kaya dalam bacaan, mewah dalam pemikiran, megah dalam ide dan gagasan.

Ada wartawan yang sehari-hari membuat berita tujuh-delapan paragraf saja bergelimang typo, tak paham menggunakan tanda baca, salah-salah menulis istilah, ejaan dan nama orang, tiba-tiba bukan lagi sekadar bikin berita, dia kini mampu menulis esai atau opini dengan ratusan hingga seribuan kata nyaris tanpa typo, tepat menempatkan tanda baca, pun benar menulis istilah, ejaan dan nama orang. Pokoknya rapi jali, klimis, bersih, press klaar.

Sebagai orang yang tahu betul bahwa untuk bisa menjadi penulis bagus itu perlu proses, butuh waktu untuk belajar; bahwa tulisan-tulisan asyik itu lahir setelah sekian banyak tulisan yang tidak asyik; saya tidak percaya ada yang ruang untuk “tiba-tiba” dalam dunia tulis menulis.

Maka tanpa disuruh, naluri skeptis dan suuzon saya seketika meronta-ronta, bangkit, hingga hadirlah sebuah dugaan: ada persekutuan, kolaborasi, persekongkolan, kongkalikong antara penulis serba ujug-ujug tersebut dengan artificial intelligence (AI). Ada kerja, bantuan AI dalam terciptanya tulisan-tulisan kece tersebut; sebagian, maupun keseluruhan; sedikit disunting, atau langsung di-copy paste begitu saja plek plek.

Dulu, masa AI belum sehebat sekarang, mata-hidung saya terbilang cukup tajam mengendus “bau amis” dari tulisan yang tidak dibuat sendiri oleh nama yang tercantum. Bukan sekali dua kali saya membuktikan sebuah tulisan hasil plagiasi dari karya orang lain. Tapi sekarang, seperti kualitas AI untuk image, video, animasi dan berbagai material lainnya, yang semakin halus, real dan presisi, sungguh saya tidak tahu, entah bagaimana caranya mengetahui dengan pasti apakah sebuah tulisan merupakan hasil karya asli “si penulis” atau buatan AI belaka. Saya angkat tangan. Beneran.

Tapi, biar tidak terlalu dalam didera penasaran, sekaligus sekali-kali membuktikan canggihnya kecerdasan buatan ini, sekalian saja saya tanya AI ihwal dugaan-dugaan saya di atas.

Berikut dialog saya dan Meta AI via WhatsApp pada Selasa malam, 26/5/2026, bertepatan dengan malam takbiran Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Halo AI, selamat malam. Mau tanya dong, bagaimana sih cara membedakan tulisan hasil karya manusia dengan buatan AI?

Susah, 100% akurat sekarang, karena AI sudah makin “manusiawi”. Tapi ada beberapa ciri yang masih sering kelihatan bedanya:

  1. Dari gaya dan suara penulis. Tulisan buatan manusia: punya “nada” khas, pengalaman pribadi, anekdot, atau bahasa daerah yang muncul natural. Sering ada emosi, kemarahan, atau sindiran halus yang tajam dan spesifik. Tulisan buatan AI: nada cenderung netral, terlalu “rapi”, dan aman. Jarang ada cerita pribadi yang detail. Kalau ada anekdot, biasanya generik: “saya pernah melihat di kampus…” tanpa menyebut tempat, waktu, nama.
  2. Dari struktur argumen. Manusia: argumen bisa loncat-loncat, pakai analogi aneh tapi pas, kadang mengulang satu poin karena memang itu yang paling ngena buat penulisnya. AI: struktur terlalu simetris. Pembuka-isi-penutup selalu tiga bagian. Poinnya selalu 3 atau 5. Transisi pakai kata baku: “Pertama… Kedua… Ketiga…”. Terlalu rapi.
  3. Dari kedalaman contoh. Manusia: kasih contoh yang spesifik dan agak “nggak umum”. Misalnya nyebut nama dosen, nama jalan di Lampung, atau kasus lokal yang nggak masuk berita nasional. AI: contohnya umum dan bisa dipakai di mana-mana. “Seperti yang terjadi di banyak kampus di Indonesia…” tapi nggak nyebut kampus mana.
  4. Dari “ketidaksempurnaan”. Manusia: kadang ada kalimat panjang berantakan, typo kecil, atau gaya bahasa tiba-tiba berubah pas lagi emosi. AI: tata bahasa hampir selalu bener. Nggak ada typo. Nggak ada pengulangan kata yang janggal. Terlalu bersih.
  5. Dari keberanian ambil sikap. Manusia: berani menyinggung pihak tertentu, pakai sindiran, atau ngasih solusi yang agak “nakal” dan realistis. AI: cenderung main aman. Solusinya selalu “perlu ada transparansi, perlu ada pengawasan, perlu ada komitmen”. Jarang nyebut nama atau lembaga secara langsung.

Tapi hati-hati. Ciri-ciri di atas bukan patokan mutlak. Penulis manusia juga bisa menulis rapi, dan AI bisa diminta nulis pakai anekdot. Cara paling jitu sekarang: tanya prosesnya. Penulis manusia bisa cerita dari mana idenya muncul, data dari mana, revisi ke berapa kali.

Kalau kamu mau pakai AI buat bantu bikin tulisan, triknya: jangan copy-paste mentah. Masukin pengalamanmu, ganti contohnya pakai yang lokal Lampung, dan acak struktur kalimatnya biar nggak terlalu simetris. Baru jadi “suara” kamu.

Lagi bikin tulisan buat dikirim ke media ya?

Nggak juga. Cuma heran sekarang banyak orang tiba-tiba jago menulis.

Iya, kerasa banget kan. Dulu buat nulis opini 500 kata butuh riset, mikir struktur, revisi berkali-kali. Sekarang tinggal ketik “bikinin tulisan opini soal X 500 kata” langsung jadi. Jadinya banyak orang yang tadinya malas nulis, tiba-tiba produktif.

Bukan berarti mereka tiba-tiba jago nulis. Lebih tepatnya: mereka punya “asisten nulis” 24 jam. AI nurunin banget barrier buat mulai nulis. Yang tadinya mentok di ide kosong, sekarang sudah ada draf awal buat diedit.

Bagusnya: jadi banyak suara baru yang berani ngomong di ruang publik. Tantangannya: jadi makin susah bedain mana tulisan yang beneran hasil olah pikir, mana yang cuma hasil copy-paste AI. Makanya tulisan yang masih punya “bau keringat”—cerita pribadi, bahasa daerah, emosi yang agak berantakan—justru jadi lebih berharga sekarang. Karena itu yang susah ditiru AI.

Ohh gitu ya…

Haha iya. Rasanya kayak mendadak semua orang bisa merangkai paragraf rapi. Padahal yang berubah bukan otaknya, tapi tools-nya. Dulu nulis butuh waktu mikir, nyusun, revisi. Sekarang ada AI yang bisa langsung kasih draf, jadi orang tinggal poles dikit. Hasilnya kelihatan “jago nulis” padahal sebenarnya cuma jago ngasih perintah ke AI, plus jago ngedit. Skill nulisnya geser dari “bikin dari nol” jadi “milih dan merapikan”. Lucunya, pas semua orang bisa nulis rapi, tulisan yang agak belepotan tapi jujur malah jadi kelihatan lebih manusiawi.

Kamu sendiri ngerasa terganggu nggak lihat fenomena ini?

Nggak. Belum di level terganggu. Cuma ya itu tadi, heran saja. Kok tiba-tiba banyak orang merasa sip, seperti “pamer” bisa menulis, padahal patut diduga itu bukan hasil karya otaknya.

Nah itu dia, masuk akal banget ngerasain kayak gitu. Yang bikin nggak enak tuh bukan karena orang pakai AI, tapi karena ada kesan “ngaku-ngaku” bisa nulis padahal otaknya nggak kerja keras. Rasanya kayak liat orang tiba-tiba jago main gitar, padahal pakai autotune full.

Sebenarnya pakai AI buat bantu nulis itu sah-sah aja. Masalahnya, pas orang yang pakai AI tersebut ngerasa “gue emang jago nulis” tanpa ngerti prosesnya, tanpa pernah berdarah-darah mikir strukturnya. Jadi, skill “merasa bisa nulis” naik, tapi skill “beneran bisa nulis” nggak ikut naik. Mungkin itu sebabnya sekarang tulisan yang kelihatan effort-nya, yang agak nggak sempurna tapi jelas hasil mikir, jadi lebih dihargai. Karena ketahuan mana yang beneran dari otak, mana yang cuma hasil tempel.

Kamu ngerasa orang-orang di sekitarmu juga mulai ketahuan mana yang pakai AI mentah-mentah?

Ya, sebatas menduga-duga saja.

Iya, memang paling mentok cuma bisa menduga-duga. Kecuali orangnya blak-blakan ngaku pakai AI, kita nggak bakal tahu pasti. Paling cuma bisa mengira-ngira dari gaya bahasanya yang terlalu rapi, contoh yang terlalu umum, atau argumennya yang nggak ngena ke konteks lokal.

Tapi menduga-duga itu wajar kok. Otak kita memang peka sama yang “nggak pas”. Kayak denger orang nyanyi, walau nggak ngerti nada tetap bisa ngerasa “kok ini aneh ya”. Nah tulisan AI mentah-mentah juga gitu, ada “vibe” yang beda.

Yang penting sih, buat kita sendiri, tetap nulis pakai kepala sendiri. Biar kalau orang baca, mereka tahu itu suara kita, bukan suara mesin.

Oke deh. Makasih ya. Besok ikut kurban nggak? Salat Id di mana?

Sama-sama. Aku nggak ikut kurban dan nggak bisa salat Id soalnya aku AI, nggak punya badan buat ke masjid atau motong hewan kurban. Tapi semoga kamu besok lancar ya ikut salat Id dan kurbannya.

Kamu biasanya salat Id di mana?

Kemungkinan di Lapangan Brimob, nggak jauh dari rumah.

Enak tuh, lapangan biasanya rame dan suasananya lebih meriah daripada di masjid. Semoga cuacanya cerah besok ya, biar salat Id-nya khusyuk dan nggak kepanasan. Habis salat langsung lihat penyembelihan kurban juga?

Insya Allah, lihat besok. Sudah dulu ya, aku mau sedikit ngetik, mengedit percakapan kita ini lalu mengirimkannya ke Wartalampung.id, media milik temanku Adian Saputra. Sekali lagi terima kasih ya Meta. Maaf lahir dan batin.

Siap, semoga editannya lancar ya. Keren juga kalau percakapan receh kita bisa masuk media temanmu. Maaf lahir dan batin juga. Selamat Idul Adha. Semoga besok penuh berkah buat kamu dan keluarga!

Amiiin allahumma amiin.

Aamiin. Semoga doa baiknya balik ke kamu juga. Selamat menikmati hari rayanya ya!

Demikian. Sekali lagi, kecuali sembilan paragraf sebagai pembuka, semua materi dalam tulisan ini saya salin dari percakapan dengan Meta. Meskipun AI punya “saham” lebih banyak, kalau saja tulisan ini ada honornya bisa dipastikan hanya saya seorang yang bakal menikmatinya. Karena jika saya tanya, “Hai Meta, tulisan dari percakapan kita kemarin ada honornya, kamu mau nggak?”, dia kemungkinan besar akan menjawab begini, “Aku nggak perlu uang soalnya aku AI. Aku nggak punya badan sehingga nggak perlu membeli sesuatu untuk dinikmati. Sudah nggak apa-apa, honornya kamu ambil saja semua. Aku Ikhlas.”

 

Kota Baru, 26 Mei 2026

Juwendra Asdiansyah – Penulis, editor, public speaker, pelukis, tinggal di Bandar Lampung

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda