Opini

Perang Iran-Israel/AS: Dari Malaka ke Hormuz, dari Minyak ke Tarif

Perang Iran-Israel/AS: Dari Malaka ke Hormuz, dari Minyak ke Tarif

Romi Aprilyansa

Oleh Romi Aprilyansa, Alumnus SMAN 2 Bandar Lampung dan Fakultas Teknik Unila

Perang hari ini tidak selalu dimulai dengan peluru.

Ia yang dimulai dari jalur.

Pada 1511, Portugis menaklukkan Malaka bukan untuk menguasai daratan, tetapi untuk mengendalikan arus perdagangan. Mereka memahami satu hal mendasar: kekayaan tidak diciptakan di sumbernya, melainkan di jalurnya. Lima abad kemudian, logika itu tidak berubah.

Hanya komoditasnya yang berganti. Hari ini, dunia tidak lagi berebut rempah. Dunia berebut energi.

Namun untuk memahami perang ini, kita harus mulai dari sesuatu yang sering diabaikan: tidak semua minyak itu sama. Minyak Timur Tengah melimpah dan relatif murah, tetapi banyak yang mengandung sulfur tinggi sehingga membutuhkan proses tambahan di kilang. Sementara itu, minyak berat seperti dari Venezuela memiliki cadangan sangat besar, namun jauh lebih kompleks kental, berat, dan mahal untuk diolah, baik di hulu maupun hilir.[1]

Artinya, nilai minyak tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya, tetapi oleh kemampuan untuk mengolahnya. Di sinilah geopolitik bekerja. Amerika Serikat memiliki kapasitas kilang yang mampu mengolah minyak berat. Namun pada saat yang sama, ia tidak dapat membiarkan sumber minyak murah tersebut sepenuhnya dikuasai oleh China. Di sisi lain, China justru agresif menyerap minyak dari Rusia, Iran, dan Venezuela sering kali dengan harga diskon akibat sanksi.[2]

Dunia energi pun mulai terbelah: satu sistem formal berbasis dolar, dan satu sistem alternatif berbasis akses dan diskon. Dalam kerangka yang lebih luas, ini adalah apa yang disebut Gabor Steingart sebagai The War of the Wealth of Nations perang untuk mengendalikan aliran kekayaan, bukan sekadar wilayah.

Dan seperti pada 1511, jalur kembali menjadi kunci.

Selat Hormuz hari ini adalah Malaka dalam versi energi. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit ini.[3] Tidak mengherankan, setiap ketegangan di Iran langsung mengguncang harga minyak globalbukan karena pasokan hilang, tetapi karena jalurnya terancam. Dalam perspektif manajemen risiko, ini adalah single point of failure dalam sistem global. Amerika menjaga jalur ini melalui kekuatan militer dan aliansi.

China merespons dengan strategi berbeda: membangun jalur alternatif serta memperbesar cadangan energi sebagai mitigasi risiko. Namun perang ini tidak hanya terjadi di laut dan pipa. Ia juga terjadi di angkamelalui tarif dan sistem keuangan. Dolar menjadi pengikat dari semua ini.

Sebagian besar perdagangan energi dunia masih menggunakan dolar, menjadikannya alat kontrol yang sangat efektif.[4] Indonesia berada di tengah semua dinamika ini.

Kita berada di jalur strategis dunia. Kita memiliki pasar besar. Kita bahkan memiliki sumber daya. Namun di sinilah paradoks itu muncul. Kita kaya gas tetapi lebih banyak dijual keluar. Di dalam negeri, kita justru mengandalkan batubara.

Kita memiliki infrastruktur energi yang tidak kecil. Namun distribusi dan pemanfaatannya belum sepenuhnya menjangkau kebutuhan strategis nasional. Dan hampir semua keputusan itu dibungkus dalam satu kata yang terdengar rasional: “ekonomis”. Proyek hulu migas harus ekonomis. Distribusi energi harus ekonomis. Industri harus ekonomis.

Namun pertanyaannya: ekonomis untuk siapa, dan dalam horizon waktu yang mana?

Dalam kerangka manajemen risiko, keputusan yang terlalu berfokus pada efisiensi jangka pendek sering kali menciptakan kerentanan jangka panjang.

Kita menjual saat harga menguntungkan. Kita membeli saat membutuhkan. Kita mengoptimalkan angka tapi kehilangan kendali.

Padahal dalam konteks geopolitik hari ini, energi bukan sekadar soal margin. Ia adalah soal posisi. Di titik inilah pertanyaan tentang “orbit” menjadi nyata.

Apakah kita sedang masuk ke orbit Barat melalui dolar dan akses pasar?

Atau terseret ke orbit alternatifmelalui jalur energi dan perdagangan baru?

Atau mencoba berdiri netral seperti Non-Blok?

Masalahnya, dunia hari ini tidak lagi menyediakan ruang netral yang aman. Tanpa strategi yang jelas, kita tidak benar-benar memilih orbit. Kita hanya mengikuti gravitasi yang paling kuat.

Sejarah sudah memberi kita pelajaran. Energi pernah diposisikan sebagai isu strategis tertinggi negara. Hari ini, ia sering direduksi menjadi persoalan teknis dan ekonomis. Dan mungkin di situlah letak risikonya. Karena dalam dunia yang sedang berperang melalui energi, jalur, dan sistem keuangan yang menentukan bukan siapa yang paling efisien.

Tetapi siapa yang paling berdaulat.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita memiliki sumber daya. Pertanyaannya adalah: Apakah kita berani berhenti hanya menjadi “rasional secara ekonomi” dan mulai menjadi strategis sebagai negara?

Atau kita akan terus merasa untung hari ini sampai suatu saat menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar mengendalikan apa pun?

Footnote

[1] U.S. Energy Information Administration (EIA), Crude Oil Characteristics and Refining Complexity
[2] Rystad Energy, Jakarta Briefing 2026 – Oil & Geopolitics Analysis
[3] U.S. Energy Information Administration (EIA), World Oil Transit Chokepoints (Hormuz ~20% global oil trade)
[4] International Monetary Fund (IMF), Dominance of the US Dollar in Global Trade and Finance
[5] Rystad Energy, Indonesia LNG Outlook and Domestic Demand Projection

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda