Asyil
Oleh Asyil Aripatriansah
Perang diciptakan oleh politisi, mereka mengeluarkan kebijakan agar negaranya mempertahankan diri dari gangguan bahkan serangan bangsa/negara lain. Ada juga perang yang terjadi karena motif seperti harga diri. Rasa jemawa sebagai bangsa dengan kasta/ras tertinggi dan menganggap rendah bangsa lain, hal ini dapat ditelusuri pada sejarah Perang Dunia II.
Perang Dunia I rupanya perang antar sepupu, yang kita ketahui bersama para pangeran di benua Eropa adalah hasil perkawinan antarkerajaan di benua biru tersebut. Saling berebut pengaruh antar mereka, merasa berhak menguasai Eropa seorang diri.
Hubungan darah dan kekerabatan dikesampingkan bahkan dibuang agar dapat mencapai tujuannya yakni berkuasa di Eropa.
Perang secara langsung (konvensional) dilakukan dengan alasan politik, ekonomi, keamanan, bahkan agama. Pada dekade 2000-an Irak diserang oleh koalisi Amerika Serikat dan Britania Raya dengan alasan dugaan adanya senjata pemusnah massal. Perang yang juga disebut dengan nama Perang Teluk III berhasil menumbangkan Presiden Irak saat itu yakni Saddam Hussein. Walaupun pada akhirnya dugaan pihak koalisi bahwasanya ada senjata pemusnah massal, tidak terbukti.
Perang Dingin merupakan perang yang dilakukan secara tidak langsung antara Amerika Serikat sebagai pimpinan Blok Barat (berhaluan kapitalis) dengan Uni Soviet sebagai pimpinan Blok Timur (berhaluan komunis). Sebelumnya hubungan mereka akur dan bersekutu pada Perang Dunia II untuk mengalahkan Jerman dan Jepang.
Namun setelahnya, masing-masing ingin menjadi polisi bahkan penguasa ideologi, politik, dan ekonomi dunia, sehingga terjadilah perang dingin tersebut. Tidak terjadi pertempuran secara fisik, namun secara psikologis. Bentuknya seperti persaingan pembuatan senjata dan nuklir, spionase dan propaganda, serta embargo ekonomi terhadap negara-negara lain.
Perang juga dibuat dengan alasan ekonomi, untuk kepentingan negaranya. Sumber daya alam yang ada di masing-masing negara (darat, laut, udara) yang kaya bahkan melimpah, mengundang negara lain untuk mengambil sumber energi tersebut.
Pilihannya secara baik-baik atau secara tidak baik. Cara baik tentu dilakukan dengan investasi/kerjasama antar negara. Cara yang tidak baik dengan membuat kerusuhan bahkan langsung menyerang dengan berbagai alasan.
Energi di dunia tersebar di berbagai wilayah, yang masing-masing memiliki keunggulan tersendiri seperti jenis dan jumlah. Masing-masing wilayah memiliki macam energi yang berbeda, seperti minyak bumi yang terkonsentrasi di kawasan Timur Tengah diikuti oleh Amerika Serikat dan Rusia. Lalu ada batubara yang diproduksi dan dikonsumsi di wilayah Cina dan India.
Gas alam sebagai energi yang belum terlalu diberdayakan tersebar luas di Rusia, Iran, Qatar, dan Amerika Serikat. Sementara energi terbarukan dikembangkan di Eropa (Jerman), Cina, Amerika Serikat, dan Afrika. Sumber energi di atas hanya sebagian kecil contoh dari banyaknya jenis sumber daya alam di bumi.
Ketika godaan cadangan energi dan sumber daya alam datang kepada negara adidaya dan adikuasa, maka berbagai cara yang kotor (tidak baik) ditempuh untuk dapat memuaskan hasrat kerakusan ekonomi. Perang menjadi salah satu alat untuk mencapai tujuan itu, apalagi negara yang dituju lebih lemah dilihat dari berbagai sisi.
Tak cukup dengan perang, embargo ekonomi diberlakukan, pengucilan negara tujuan dari hubungan dengan negara lain, bahkan sampai dengan penggulingan kekuasaan (kudeta). Contohnya dapat dilihat pada negara-negara miskin (berkembang) di wilayah Asia, Afrika, Amerika Selatan, serta kawasan Timur Tengah.
Apabila cadangan energi dan sumber daya alam lainnya sudah dapat dikuasai, tak segan-segan negara (penjajah) akan menempatkan pasukan keamanan dengan membangun pangkalan militer di negara yang dikuasai untuk meminimalisasi perlawanan di wilayah tersebut. Siapa yang menguasai energi, dia akan menguasai dunia.
Lalu siapa yang menjadi korban atas peperangan atas nama penguasaan ekonomi? Tentu saja manusia di seluruh dunia. Perang antara Amerika Serikat dengan Iran di awal tahun 2026, memunculkan masalah yang berkelanjutan.
Walaupun negara-negara lain di dunia berusaha untuk mendamaikan (sebagian negara juga berusaha berkoalisi) tetap saja ambisi negara Paman Sam terus menggempur keturunan Kekaisaran Persia.
Beberapa bulan ini, setiap harinya hampir selalu ada serangan dari Amerika Serikat dan sekutunya, Israel ke Iran. Begitupun sebaliknya, Iran menyerang Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara kawasan Timur Tengah yang sudah menjalin kerjasama sebelumnya dengan Amerika Serikat.
Selat Hormuz yang masuk dalam wilayah tiga negara yakni, Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab adalah kawasan yang sangat penting bagi dunia. Pelayaran minyak bumi yang akan dikonsumsi oleh seluruh dunia melintasi perairan penting ini.
Dampak atas perang ini, beberapa kapal tanker yang membawa minyak mentah tertahan selama beberapa waktu sehingga tidak bisa melintas. Apabila kapal-kapal tersebut melanggar ultimatum dari pemerintah Iran, tidak segan-segan kapal akan ditembak dengan rudal-rudal yang dikembangkan Iran selama embargo ekonomi oleh Amerika Serikat.
Imbasnya pasokan minyak ke seluruh dunia menjadi terhambat, kekhawatiran bahkan ketakutan akan krisis minyak membayangi negara-negara di dunia. Indonesia juga merasakan hal tersebut, gejolak ekonomi sudah mulai terjadi. Minyak bumi setidaknya menurunkan beberapa jenis komoditi, diantaranya bensin, solar, avtur, oli kendaraan bermotor, plastik dan lainnya.
Tidak lama setelah perang berkecamuk, harga minyak dunia mengalami kenaikan. Kondisi geopolitik hanya salah satu faktor yang menyebabkan fluktuasi harga minyak dunia.
Faktor lain seperti pasokan dan permintaan global, tingkat produksi negara-negara penghasil minyak, serta stok minyak dunia. Namun, pertukaran rudal yang terjadi terlanjur menyebabkan naiknya harga minyak dunia.
Indonesia, sebagai salah satu negara yang kapal tankernya juga sempat tertahan di Selat Hormuz, mau tidak mau terkena imbasnya. Pertamina sebagai BUMN yang mengelola olahan minyak bumi, pada akhirnya menaikkan harga bensin dan solar non-subsidi.
Lonjakan yang lebih tepat dinamakan dengan istilah ganti harga membuat rakyat Indonesia kelas menengah juga ikut bersuara, kalau tidak mau dikatakan menjerit.
Selain harga minyak mentah dunia, faktor yang juga memengaruhi kenaikan harga BBM dalam negeri yakni harga di pasar internasional, nilai tukar rupiah, biaya distribusi hingga kebijakan pemerintah.
Klaim yang disampaikan oleh pemerintah atas kenaikan harga tersebut sebenarnya seharusnya dilakukan sejak tiga bulan lalu. Namun dengan pertimbangan kemaslahatan rakyat, baru sekarang pemerintah menaikkan harga BBM.
Manusia sebagai pengguna BBM (turunan dari minyak bumi) sangat terkena dampak negatif atas pihak-pihak yang bertikai dengan dalih memperebutkan energi. Dampaknya bukan hanya dalam hal pergerakan kendaraan bermotor yang ‘meminum’ bensin dan solar.
Namun, kenaikan harga barang-barang terutama kebutuhan pokok manusia seperti pangan. Angkutan pangan (kendaraan niaga) sangat membutuhkan solar. Apabila BBM ganti harga atau bahkan menjadi langka, ya sudah, siap-siap saja, matilah (kehidupan) kita. Terkesan berlebihan, namun itulah kenyataan. []

Tinggalkan Komentar Anda