Opini

Pendidikan Bahasa Prancis: Antara Ancaman dan Harapan di Era Kebijakan Baru 

Pendidikan Bahasa Prancis: Antara Ancaman dan Harapan di Era Kebijakan Baru 

Setia Rini

Oleh Setia Rini, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila

Kebijakan pendidikan tinggi Indonesia saat ini semakin menekankan relevansi program studi dengan kebutuhan pembangunan nasional. Perguruan tinggi dituntut untuk menyesuaikan diri dengan arah link and match bersama dunia usaha dan industri, serta memperkuat bidang sains, teknologi, dan inovasi.

Konsekuensinya jelas: ada program studi yang mendapat dukungan penuh karena dianggap strategis, namun ada pula yang menghadapi ancaman pengurangan kuota bahkan penutupan bila dinilai tidak relevan dengan kebutuhan zaman.

Di tengah dinamika tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis (PS PBP) berada dalam posisi yang menantang sekaligus menjanjikan. Sebagai bagian dari rumpun humaniora, PS PBP sering dipandang kurang “produktif” dibandingkan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Namun, jika dicermati lebih dalam, justru di sinilah peluang besar terbuka. Bahasa Prancis bukan sekadar bahasa asing, melainkan pintu masuk menuju banyak bidang yang jauh lebih luas: diplomasi, pariwisata, industri kreatif, hingga kolaborasi akademik internasional.

Bahkan di PS PBP FKIP Unila menawarkan bidang-bidang yang jarang disorot tetapi memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan masyarakat. Mata kuliah jurnalistik, misalnya, membuka jalan bagi mahasiswa untuk terjun ke dunia media, menulis berita, opini, dan konten kreatif dalam bahasa Prancis maupun Indonesia.

Di era informasi global, kemampuan jurnalistik multibahasa menjadi aset yang sangat berharga. Begitu pula dengan penerjemahan, yang berperan sebagai jembatan penting dalam diplomasi, bisnis, dan akademik. Lulusan dengan kompetensi penerjemahan memiliki peluang besar di lembaga internasional, penerbitan, hingga perusahaan multinasional.

Bidang lain yang tak kalah penting adalah BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Dengan meningkatnya minat warga asing untuk belajar bahasa Indonesia, PS PBP dapat memanfaatkan keunggulan pedagogisnya untuk menawarkan program BIPA.

Hal ini bukan hanya memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional, tetapi juga menegaskan bahwa prodi humaniora mampu berkontribusi langsung pada diplomasi budaya dan penguatan identitas nasional.

Namun, tantangan tetap nyata. Risiko penggabungan atau penutupan prodi selalu menghantui bila dianggap tidak mendukung agenda pembangunan berbasis teknologi dan industri.

Dominasi bahasa Inggris sebagai prioritas utama kebijakan bahasa asing juga membuat bahasa lain harus berjuang keras membuktikan keunggulannya. Jika kurikulum tidak segera menyesuaikan dengan kebutuhan pasar maupun industri masa kini, maka Prodi bisa dianggap kurang relevan.

Oleh karena itu, PS PBP tidak boleh hanya bertahan sebagai Prodi yang berkecimpung pada “pengajaran bahasa.” Ia harus direposisi sebagai pusat keunggulan multibahasa yang melahirkan tenaga profesional di berbagai bidang. Integrasi lintas disiplin—misalnya menggabungkan bahasa dengan teknologi pendidikan, manajemen pariwisata, penerjemahan, BIPA atau media digital—akan memperkuat relevansi sekaligus membuka peluang baru.

Dosen dan pimpinan prodi juga perlu aktif melakukan advokasi akademik, menunjukkan bahwa humaniora bukan penghalang pembangunan, melainkan fondasi yang memberi makna pada kemajuan teknologi.

Pada akhirnya, Pendidikan Bahasa Prancis memiliki peluang besar bila mampu menyesuaikan diri dengan arah kebijakan terbaru. Ancaman pengurangan kuota atau penutupan seharusnya tidak dilihat sebagai akhir, melainkan sebagai pemicu untuk bertransformasi.

Justru di tengah tekanan kebijakan inilah prodi humaniora bisa membuktikan diri: bahwa bahasa, budaya, dan komunikasi lintas bangsa adalah kunci untuk menjadikan pembangunan lebih manusiawi dan bermakna. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda