Pementasan "Polahi". | Dini Aulia

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Sendratari Lagon yang membawakan cerita khas Lampung dan Gorontalo berhasil mencuri perhatian penonton, Sabtu malam lalu, 25/11/2023.
Sendratari kali ini memiliki jargon “Dari Lampung ke Gorontalo, Satukan Perbedaan Ciptakan Kenangan”. Setelah pementasan khaja baniting, dilanjutkan pementasan Polahi dari Gorontalo.
Polahi merupakan cerita dari Gorontalo yang menceritakan tentang asal-usul dan kehidupan suku Polahi. Polahi adalah nama yang disematkan kepada penduduk yang telah lama menetap di wilayah hutan pegunungan di Gorontalo.
Namun, makna sebenarnya dari polahi adalah pelarian. Masyarakat Gorontalo yang melakukan pelarian pada zaman penjajahan Belanda disebut dengan polahi.
Alasan masyarakat Gorontalo melakukan pelarian disebabkan oleh desas desus kekejaman Belanda kepada masyarakat Gorontalo dan adanya perpajakan. Mereka memilih untuk hidup di hutan pegunungan Gorontalo.
Pementasan Polahi melibatkan 34 pemeran. Selain dari pemeran terdapat komposer, stage crew, tata busana, tata rias, hair do, LO lighting dan lighting.
Komposer pada pementasan Polahi adalah Ahmad Wanda. Untuk stage crew beranggotakan Ade Irfan, Dinasti Kartika Putri, Irfan Wahid, Feri Setiawan, Rully Nurdagidsu, Rayya, dan Yodie.
Tata busana oleh Indah Lestari. Tata rias oleh Nilam Cahya dan Amanda Luwih Sasiwi. Hair do oleh Niar Febi A, Yuli Yanti, dan Indira Margaretha Manten.
LO lighting untuk pementasan Polahi dipegang oleh Noviza Junita. Lighting Hotlan Dandi Zuanda Gultom.
Sama dengan “Khaja Baniting” yang sebelumnya dipentaskan, para pementas “Polahi” berlatih selama kurang lebih dua bulan.
Para pementas membawakan karyanya dengan penuh totalitas. Kejutan demi kejutan diberikan. Mulai dari kemunculan pementas dari tengah penonton, hingga para pementas yang turun menghampiri penonton.
Ini semua sukses membuat penonton takjub melihat pementasan sendratari ini. [Dini Aulia Putri]

Tinggalkan Komentar Anda