Opini

Paris Membara!

Paris Membara!

Endang Ikhtiarti

Musim panas di Prancis dewasa ini sangat berbeda dengan musim panas pada tahun tahun sebelumnya. Di tahun ini musim panas mengalami gelombang panas yang sangat ekstrem dan mencapai suhu di kisaran angka 41 derajat celsius. Bahkan di beberapa kota lainnya di Prancis mencatatkan rekor suhu tertinggi pada bulan Juni hingga melampaui 40 – 44 derajat Celsius.

Mengapa Prancis begitu panas sekarang? Perubahan iklim mendorong peningkatan suhu di seluruh dunia khususnya di Eropa. Benua ini mengalami pemanasan tercepat, memanas dua kali lebih cepat daripada rata-rata global, menurut layanan iklim Copernicus 24 Jun 2026.

Sementara itu pada bulan Juni hingga Agustus tahun ini, diperkirakan  periode ini merupakan masa liburan musim panas dan merupakan puncak musim liburan dengan cuaca sangat panas dan extrim. Penyebab utama gelombang panas ini adalah karena adanya fenomena heat dome atau kubah panas, yaitu tekanan tinggi yang merangkap udara panas di Eropa Barat. Kondisi ini semakin parah dengan adanya  aliran udara panas dari Afrika Utara yang bergerak ke arah Eropa

Saat terjadi gelombang panas, kondisi tempat tinggal di Paris menjadi sangat menyiksa akibat kepadatan penduduk yang tinggi. Minimnya vegetasi, dan arsitektur bangunan  yang didominasi bangunan kuno yang bertembok tebal  sudah banyak yang  diubah menjadi  apartemen, menyebabkan suasana di dalamnya  menjadi  seperti oven sungguhan, sehingga menyulitkan penghuninya untuk tidur.

Demikian juga dengan suasana di sekolah. Semua pihak berupaya sebaik mungkin menghadapi situasi di sekolah dasar dan menengah dengan hati hati.  Demi menghindari kasus kelelahan akibat panas atau kondisi yang terlalu berat, sejumlah sekolah meliburkan kegiatan belajar-mengajar.

Wali Kota Paris memaparkan langkah-langkah yang diambil pemerintah kota untuk melindungi warganya dengan memprioritaskan kelompok yang paling rentan dari gelombang panas yang sedang berlangsung yaitu anak-anak sekolah, lansia yang hidup menyendiri, dan tunawisma. Biasanya para  tunawisma dan kelompok masyarakat dengan kondisi tempat tinggal yang tidak menentu sangat mendapat prioritas.

Karena kelompok ini sangat rentan dan sangat kekurangan akses ke tempat yang sejuk. Bahkan suhu di dalam tenda  mereka dapat mencapai tingkat yang berbahaya, sehingga mendorong berbagai organisasi untuk menyerukan penyediaan tempat penampungan darurat.

Sebagai respon terhadap gelombang panas, pemerintah Prancis menerapkan rencana pencegahan yang menjamin keberlangsungan pendidikan sekaligus melindungi para siswa. Beberapa langkah nyata  yang diambil oleh pemerintah Prancis misalnya,

  1. Pengaturan ujian dengan Penjadwalan tes pada pagi hari, dimulai pukul 08.00 untuk menghindari suhu panas puncak, serta pemindahan khusus ke ruangan ber-AC atau ruangan yang dilengkapi dengan unit pendingin.
  2. Penyesuaian kegiatan dengan pembatalan karyawisata sekolah dan aktivitas fisik berat selama gelombang panas
  3. Di sekolah dan pusat penitipan anak wajib diberikan AC secara darurat  untuk melindungi anak-anak yang paling kecil.
  4. Pemerintah kota membuka berbagai ruang ber-AC dan air mancur, serta membiarkan sejumlah taman tetap buka selama 24 jam sehari.
  5. Wali Kota Paris memaparkan langkah-langkah untuk mendinginkan suhu di tempat penitipan anak, sekolah prasekolah, dan sekolah dasar. Sekitar  200 unit pendingin ruangan (AC) dibagi ke berbagai sekolah Dasar hingga Menengah  sekitar 620 unit dan  350 unit ke sekolah prasekolah. “Tujuannya bukan untuk memasang AC di seluruh area sekolah, melainkan menyediakan satu ruangan sejuk di setiap sekolah,  agar  anak-anak dapat bergantian menyejukkan diri. Pemerintah Kota membuat 210 halaman sekolah berkonsep “Oasis” yang mencakup lebih dari sepertiga total keseluruhan dengan penambahan 40 lokasi baru setiap tahunnya.
  6. Para pejabat wilayah dan wali kota setempat melakukan langkah darurat dengan cara menutup tempat usaha atau pemulangan lebih awal bagi para pekerja pada siang hari

Kementerian Pendidikan Nasional secara berkala mengeluarkan rekomendasi yang menekankan pentingnya menjaga hidrasi dengan selalu membawa botol air minum kemanapun pergi, mengenakan penutup kepala, dan mencari tempat berteduh di area bermain di sekolah.

Kondisi panas ekstrem ini sangat mengancam keselamatan kelompok yang rentan. Untuk mengurangi risiko dehidrasi dan heatstroke, pemerintah serta relawan mendirikan ruang ber-AC atau tempat penampungan darurat yang sejuk, membagikan air minum, serta menyediakan kipas angin portabel untuk pelajar dan pekerja di area yang tidak memiliki pendingin udara.

Bagi para pelajar dan mereka yang bekerja secara daring dari rumah, kegiatan belajar atau bekerja jarak jauh tentu menjadi sangat sulit. Bahkan serasa tak bisa ditahan tanpa adanya AC. Asrama universitas, terutama kamar-kamar di loteng yang sempit, bisa berubah menjadi panas bagaikan oven.

Situasi yang dialami penghuni asrama sangat bervariasi tergantung pada jenis hunian dan gaya hidup mereka. Penghuni di lantai paling tinggi  di asrama maupun apartemen yang berada tepat di bawah atap yang paling tinggi,  pasti   mengalami penumpukan panas dari siang hari yang membuat suasana terasa menyesakkan. Suasana malam hari di Paris  seperti panas di daerah  “tropis,” karena suhu tidak turun turun sehingga tidak  bisa mendinginkan tubuh.

Pekerja luar ruangan misalnya  pekerja konstruksi, staf pemeliharaan lingkungan, dan petugas pengiriman barang, terpapar secara langsung dengan matahari, sehingga menghadapi risiko tinggi terkena dehidrasi dan sengatan panas (heatstroke), dan mereka wajib menggunakan penutup kepala dan membawa botol air minum.

Pemerintah kota Paris juga mengambil langkah-langkah lainya untuk mengantisipasi hal itu. Misalnya  memberika bantuan bagi lansia  dengan  “Berkas Reflex” yang memungkinkan staf layanan untuk menghubungi atau mengunjungi individu yang terisolasi guna memastikan mereka tetap terjaga dari  dehidrasi. Hal itu dilakukan supaya para lansia tersebut tidak kehilangan banyak cairan, hingga mungkin dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan elektrolit dan fungsi  organ tubuh.

Langkah yang lain yang juga dilakukan pemerintah setempat yaitu memberikan informasi kepada penduduk tentang cara menyejukkan diri dengan mengunjungi situs web resmi Paris.fr atau Paris Climate Agency untuk menemukan lokasi tempat sejuk, keran air minum, dan ruang terbuka hijau terdekat di lingkungan mereka.[Endang Ikhtiarti, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila]

Sumber:

https://www.lejournaldugrandparis.fr/ecoliers-personnes-agees-sans-abri-fetards-les-mesures-de-paris-face-a-la-canicule/

https://meteofrance.com/actualites-et-dossiers/actualites/canicule-de-juin-2026-un-episode-historique

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda