Edi Huadi. | Kurniati

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Seorang kakek bernama Edi Huadi (76 tahun) harus terus berjualan dan menahan dinginnya angin malam .
Sejak merantau dari daerah asalnya yaitu Palembang, Kakek Edi memutuskan untuk berjualan .
“Awalnya saya berjulan es keliling, tetapi ternyata usaha itu kurang memenuhi kebutuhan. Akhirnya saya berjualan roti sampai dengan sekarang,” katanya , Rabu, 15/9/2021.
Kakek Edi tinggal bersama istri dan anaknya di Kelurahan Kepayang, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung.
Sehari-hari setiap pagi Kakek Edi membantu istrinya bekerja mencuci dan menggosok untuk menambah penghasilan.
Pada sore harinya, sekitar pukul 16.30 ,Kakek Edi berangkat dari rumah untuk berjualan roti di depan Alfamart Jalan Pramuka.
Setelah Alfamart tutup, ia pindah ke Direktorat Lalu Lintas Polda Lampung.
Penghasilan sehari-hari Kakek Edi tidak menentu. Kalau sedang ramai ia bisa mendapatkan Rp150 ribu, Kalau sepi, Rp50 ribu.
Melihat anak-anaknya yang masih kecil membuat Kakek Edi berjualan sampai pukul 23.30.
Di umur yang tidak muda lagi, ia berusaha kuat menahan dinginnya angin malam untuk mencari pelanggan.
Kehidupan Kakek Edi ternyata penuh dengan lika-liku. Selama 22 tahun menikah, ia tidak mempunyai keturunan dan akhirnya bercerai .
“Setelah bercerai, saya merantau ke Lampung. Saya menikah dengan orang sini. Tapi baru beberapa tahun menikah, istri saya meninggal,” tuturnya .
Setelah kepergian istri keduanya, ia kemudian menikah lagi dan memiliki 4 anak. Anak tertua berumur 20 tahun dan yang terakhir berumur 13 tahun.
Anak tertuanya tidak bisa menggantikannya mencari nafkah disebabkan anaknya tidak bersekolah sehingga sulit mendapat pekerjaan.
Akibat tangan yang pernah jatuh di sebelah kanan, ia selalu tidur menghadap ke kiri.
Kakek Edi pernah dirawat selama 4 bulan di rumah sakit. Sementara waktu itu ia tidak bisa berjulan. Usai sembuh dari sakitnya, Kakek Edi hanya bisa berjualan sampai pukul 22.00.
Banyaknya kesulitan dan ujian dalam hidupnya tak membuat Kakek Edi putus harapan. Ia malah merasa bersyukur.
“Alhamdulillah Allah Swt masih beri saya umur untuk hidup dan kesehatan. Selagi masih kuat, saya akan terus berjualan,” katanya.
Kakek Edi mengatakan, ia memang orang susah. Tetapi prinsipnya sangatlah kuat. Ia pantang meminta atau menyusahkan orang lain.
“Jangan mengemis dan meminta sekalipun dengan keluarga. Bersyukur karena masih bisa mencari uang tanpa meminta-minta,” pungkasnya. [Kurniati, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UBL].
