Berita Foto Politik

Pangi Syarwi: Salim Segaf Al Jufri Pasangan Pas buat Anies Baswedan

Pangi Syarwi: Salim Segaf Al Jufri Pasangan Pas buat Anies Baswedan

Salim Segaf al Jufri dan Anies Baswedan. | Dokumentasi

Salim Segaf al Jufri dan Anies Baswedan. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Jakarta – Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al Jufri dinilai pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi berpotensi besar untuk menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Anies Baswedan.

Menurutnya, mantan Menteri Sosial RI ini punya banyak pengalaman dan tidak kalah dibandingkan dengan Wakil Presiden Indonesia saat ini Ma’ruf Amin.

“Salim bisa mengisi kekosongan di kelompok agama, menghilangkan benturan yang agak keras antara Pancasila dengan Islam, demokrasi dengan Islam, dan nasionalis dengan Islam sehingga tidak terlalu mengental dan lebih cair. Kekosongan figur kelompok religius bisa diambil dari kalangan santri dan ulama,” tuturnya dalam rilis yang diterima Humas PKS hari ini.

Selama ini, tuturnya, PKS hanya mengusung kader eksternal dan bukan kader internal. Sementara partai-partai lain saat ini mengajukan kader-kader mereka sendiri karena sudah tidak ada petahana di 2024.

“Tantangannya adalah bagaimana menjadi orang yang populis. Memosisikan diri sebagai seorang negarawan, yang bisa mengakomodir semua kelompok masyarakat dan melindungi minoritas dan juga mayoritas. Dan modal pertama adalah elektabilitas. Kalau tren beliau bagus, akan punya data tarik tersendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, jika Salim dipasangkan dengan Anies Baswedan sebagai capres-cawapres 2024, kombinasi sipil-ulama dominan dan ideal. Kombinasi seperti ini masih relevan dengan pemilu sebelumnya di mana Ma’ruf Amin lebih dipilih dibandingkan Mahfud MD.

“Anies-Salim adalah pasangan sipil dan ulama dan ini bagus. Jika Anies direpresentasikan sebagai kelompok nasionalis, koalisinya adalah nasionalis-religius.”

Terpisah, Salim menegaskan, substansi pemilu dan pilpres adalah perang gagasan dan adu ide. Ia tidak melihat pemilu dan pilpres sebagai ajang saling berhadap-hadapan antarkelompok politik.

Lebih dari itu, ia menilai, hajatan nasional lima tahun sekali itu sebagai bagian dari keharusan sejarah untuk membuat bangsa Indonesia menjadi lebih matang.

“Semakin sering kita berkompetisi secara sehat melalui pemilu, pilpres dan pilkada, efek domino yang akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia adalah semakin cerdas, kritis, dan melahirkan antitesis-antitesis baru yang nantinya bisa menjadi sumbangsih bagi kemajuan bangsa,” tutupnya. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda