Ilustrasi siaran televisi. | Dokumentasi

Oleh Zahara Nurfaizah, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung
Media massa adalah sarana untuk menyampaikan pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas. Di era digital ini, media massa berkembang dengan sangat pesat. Contoh dari media massa adalah surat kabar, televisi, dan radio.
Saat ini, peran media massa memang tidak dapat diragukan lagi. Sebagai alat komunikasi masif yang selalu ada, media massa memiliki pengaruh yang sangat besar terharap politik suatu negara dan bahkan terhadap kualitas masyarakat.
Meski demikian, tidak semua media massa menyikapi hal tersebut dengan serius. Banyak media massa yang memublikasikan kabar dengan tidak objektif, memprovokasi, atau bahkan menyesatkan.
Hal ini dilakukan karena media massa menganggap berita yang menyeleweng mendapat respons yang lebih banyak dari audiens.
Contoh yang paling tersorot adalah televisi. Siaran di televisi dapat diakses secara gamblang oleh seluruh lapisan masyarakat dari segala usia.
Berbeda dengan ponsel yang agak sulit penggunaannya, televisi yang sangat mudah dioperasikan menjadi daya tarik tersendiri untuk anak di bawah umur atau bahkan lansia.
Sayangnya, masih banyak dijumpai acara-acara yang tidak mendidik. Misalnya ajang mencari jodoh, sinetron yang kurang mendidik, atau bahkan ajang pencarian bakat yang justru menjadi tempat adu kemolekan tubuh.
Memang, acara ini memiliki fungsi hiburan. Namun tidak dapat dipungkiri, acara ini memancing anak-anak muda atau anak di bawah umur untuk melakukan hal serupa.
Mencari pasangan hingga memicu terjadinya kenakalan remaja, memakai pakaian yang tidak sesuai dengan usia dan norma yang ada, mencari huru-hara dengan harapan dapat terkenal dengan mudah.
Berbanding terbalik dengan media massa internasional, kebanyakan negara akan menghentikan kegiatan artis yang terlibat skandal, yang mana skandal tersebut dapat menjadi cerminan negatif untuk masyarakat.
Nahasnya media massa lokal justru menganggap hal tersebut menjadi suatu yang harus diberitakan dan menarik banyak keuntungan. Buktinya, banyak figur publik saat ini yang melejit hanya karena kontroversi dan bukannya prestasi.
Banyaknya media massa yang menyebarkan informasi seperti ini tentunya menurunkan kualitas masyarakat. Perpecahan yang terjadi di masyarakat baik karena situasi politik maupun perbedaan budaya lokal pun makin menjadi-jadi karena provokasi media massa.
Seharusnya media massa dapat bersifat objektif, tidak memublikasikan sesuatu yang bersifat provokasi, serta dalam memilih dan memilah mana yang pantas untuk disebarkan ke khalayak ramai dan mana yang tidak pantas untuk dipublikasikan. []
