Opini

Opini: Ta’aruf, Tafahum, dan Takaful

Opini: Ta’aruf, Tafahum, dan Takaful

Gufron Azis Fuadi

Saat dalam perjalanan menuju perang Tabuk, di suatu tempat Rasulullah Saw mengistirahatkan pasukannya yang berjumlah 32 ribu orang. Setelah memandang sejenak kearah pasukan, beliau pun bertanya, di mana Abu Dzar?

“Tadi keledainya kepayahan, sehingga dia tinggalkan dan Abu Dzar berjalan kaki…” jawab para sahabat.

Beberapa lama kemudian terlihat ada kepulan kecil debu dan ada bayangan orang berlari. Seketika beliau Saw berkata, “itu pasti Abu Dzar, pasti Abu Dzar… Dia datang sendirian dan kelak matinya pun sendirian…”

Pada kesempatan yang lain, Abu Bakar, disusul kemudian Umar bin Khattab bertamu ke rumah Nabi Saw. Tidak lama setelah itu terdengar suara salam tapi tidak segera masuk meskipun sudah dijawab.

Hingga kemudian Nabi Saw menarik jubahnya sampai menutup bawah lututnya. Dan masuklah Utsman bin Affan yang tadi beruluk salam.

Maka bertanyalah Umar, ya Rasulullah Saw mengapa engkau tadi menarik jubah sampai menutup lutut ketika Utsman beruluk salam, sedang di hadapan kami engkau membiar sebagian pahamu terbuka.

Rasulullah Saw menjawab, “sesungguhnya Utsman itu pemalu, dia tidak akan masuk sebelum aku memanjangkan kainnya sampai di bawah lutut.”

Apa yang dilakukan Rasulullah Saw dalam dua peristiwa diatas menunjukkan betapa Rasulullah Saw sangat mengenal para sahabat atau binaannya. Ta’aruf nya mantap!

Adapun tindakan nabi Saw menarik kain jubahnya hingga ke bawah lututnya adalah contoh apa itu tafahum. Beliau Saw tidak hanya mengenal sifatnya Utsman, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan agar Utsman merasa nyaman.

Peristiwa atau kasus yang semisal antara Rasulullah Saw dengan para sahabat sangat banyak.

Mungkin kita masih ingat dengan sahabat Julaibib yang miskin dan penampilannya pas pasan, sehingga tidak pede untuk beristri. Rasulullah Saw mengenalnya sebagai orang baik dan salah satu ahlu shufah.

Kemudia nabi Saw menjodohkan dan menikahkan dengan Zulfah seorang putri bangsawan Madinah yang kaya. Tetapi karena Julaibib miskin dan tampangnya sangat biasa saja maka Zulfah  menolak.

Tetapi setelah mengetahui bahwa perjodohan ini adalah dari (diatur oleh) nabi Saw, maka Zulfah pun menerimanya, karena dia teringat dengan firman Allah dalam surat An Nur 51.

Peristiwa bagaimana nabi Saw membantu dan menutupi kekurangan-kekurangan para sahabat, bahkan anak yatim, sangatlah banyak. Beliau bahkan tidak menikmat bagian rampasan perang yang seperlima bagian.

Begitulah takaful.

Tetapi para sahabat tidak aji mumpung. Mereka pun mengenal Rasulullah Saw dengan baik, memahami kesukaan, cita-cita dan harapannya. Sehingga mereka membantu dan menolongnya dengan sepenuh hati dan tenaga.

Karena “ta” dalam ta’aruf, tafahum dan takaful menunjukkan aksi aktif kedua belah pihak atau semua/para pihak.

Maknanya adalah semua pihak harus ingin saling mengenal, saling memahami dan saling membantu atau menutup kekurangan pihak lain.

Dalam dunia dakwah dan tarbiyah, tiga hal tersebut dikenal sebagai “rukun usrah”.

Rukun adalah sesuatu yang harus ada dalam suatu amal. Tidak sah dan tidak sempurna suatu amal yang kehilangan satu saja rukunnya.

Suatu hubungan keluarga atau usrah, akan rawan konflik bahkan hancur bila suami istri tidak mau saling mengerti. Maunya hanya ingin dimengerti.

Rapuhnya ikatan pernikahan para pesohor, misalnya, bukanlah karena masalah ekonomi atau pasangan yang kurang mempesona tetapi karena kurangnya keinginan saling mengenal, saling memahami dan saling menutup kekurangan pasangannya.

Begitupun dalam usrah tarbiyah yang, katanya, semakin hambar dan membosankan. Hal ini bisa terjadi karena para anggotanya tidak serius untuk saling mengenal, saling memahami dan saling menutup kekurangannya. Alias tidak ditegakkannya rukun usrah.

Ada nasihat bijak, “Tak selamanya orang harus mengerti dengan apa yang kita inginkan. Karenanya, jangan hanya ingin dimengerti, tapi Belajarlah untuk dapat Mengerti orang lain, karena Interaksi dan Komunikasi yang baik ketika setiap orang dapat saling memahami satu sama lain…”

Subur dan kokohnya ukhuwah pun terjadi bila semua pihak ingin saling memberi, bukan saling meminta. Kisah tentang berkelingnya gulai kepala kambing sampai ke-tujuh rumah dan berakhir di rumah pertama bisa terjadi karena masing masing ingin memberi untuk saudaranya. Sehingga satu gulai kepala kambing dapat membawa berkah (pahala) kepada beberapa rumah.

Sesuatu (termasuk perhatian) yang terlalu banyak diminati (konsumen) tetapi tidak banyak yang mau memproduksi nya maka akan mengalami kondisi minus.

Sehingga orang akan menggunakan berbagai cara tak lazim untuk mendapatkan perhatian. Kondisi minus ini bisa dikonfirmasi dengan betapa bahagianya orang sekarang bila mendapatkan “like” atau “views”.

Wallahu a’lam bi shawab. [GUFRON AZIS FUADI]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda