Gufron Azis Fuadi
Salah satu tradisi masyarakat kita dalam menyambut bulan Ramadan adalah ruwahan. Masyarakat Jawa khususnya menyebut bulan sebelum Ramadan yakni Syakban dengan bulan Ruwah. Sebuah istilah atau nama khas Jawa tapi dari bahasa Arab, arwah.
Disebut bulan Ruwah karena pada bulan ini berlangsung tradisi penghormatan atau mengirim doa untuk para arwah yang sudah meninggal.
Ruwahan adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan pada bulan Ruwah (Syakban) menjelang bulan suci Ramadan, dengan tujuan mengirim doa kepada (arwah) leluhur dan orang (tokoh penting) yang telah meninggal dunia.
Dalam ruwahan, masyarakat melakukan aktivitas ziarah dan bersih kubur, kenduri, tahlilan, Yasinan, dan berbagi sedekah, seperti makanan khas ketan, kolak, ketupat dan apem. Oleh karena itu, tradisi ruwahan dibeberapa tempat disebut sedekah bumi, manganan dan nyadran.
Tradisi ini biasanya dilakukan pada hari ke 15 bulan Ruwah atau tiga hari terakhirnya. Tetapi tidak baku.
Dari mana tradisi ini? Tradisi ini merupakan akulturasi budaya yang menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal dengan ajaran Islam.
Akulturasi budaya adalah proses sosial percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan memengaruhi, sehingga menghasilkan kebudayaan baru tanpa menghilangkan ciri khas atau unsur kebudayaan aslinya.
Kita ketahui bahwa praktik keislaman di Indonesia sangat dipengaruhi oleh praktik keagamaan Islam di Yaman. Itulah mengapa para habaib di Indonesia, yang mayoritasnya, berasal dari Yaman sangat dihormati di sini.
Di Yaman, pada bulan Syakban ada tradisi haul untuk menghormati Nabi Hud. Sejarah mencatat bahwa Nabi Hud as hidup dan tinggal di negeri Al-Ahqaf, tempat bermukimnya kaum ‘Ad.
Al Ahqaf adalah wilayah berbukit pasir di wilayah Yaman. Sekarang letaknya antara Hadramaut dan Oman.
Dari tradisi haul dan mengirim doa pada bulan Syakban di Yaman inilah lahir tradisi haul kepada para tokoh kiai di Jawa dan tradisi Ruwahan (mengirim doa untuk arwah para leluhur atau pepunden) pada masyarakat.
Sampai disini, ada kemungkinan bahwa tradisi Ruwahan juga dipengaruhi oleh tradisi Qing Ming (Hanzi) atau Cheng Beng (Hokkian) yang lebih dulu dilakukan oleh masyarakat China.
Tradisi Ruwahan biasanya disebut (dan disamakan) Nyadran, karena waktunya bisa dikatakan bersamaan.
Bedanya, Ruwahan merujuk pada waktunya yakni bulan Ruwah, sedangkan Nyadran merujuk pada aktivitas yang dilakukan seperti ziarah dan bersih kubur, makan bersama dan bersedekah makanan.
Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, sraddha, yaitu tradisi pemujaan atau penghormatan kedua (atma wedana) kepada leluhur atau tokoh yang sudah meninggal.
Disebut atma wedana (penghormatan kedua) karena sraddha dilakukan setelah 12 tahun kematian. Jadi tidak dilakukan setiap tahun seperti haulan atau nyadran.
Negarakertagama, misalnya, mencatat, Sri Gayatri Rajapatni yang meninggal tahun 1350 upacara sraddha-nya dilakukan pada tahun 1362.
Gayatri Rajapatni adalah perempuan paling berpengaruh di Majapahit. Dia istri yang paling kuat dari raja pertama Majapahit Raden Wijaya, ibu dari Tribuwana Tungga Dewi penguasa Majapahit berikutnya, dan nenek dari Raja Hayam Wuruk.
Apa pun itu, Ruwahan atau Nyadran adalah woro woro atau pengumuman kepada khalayak ramai bahwa bulan Ramadan akan tiba.
Tujuannya agar masyarakat segera mempersiapkan diri untuk melakukan amaliah Ramadan secara lebih optimal. Itu juga adalah woro woro agar segera menjauhi perilaku maksiat, dengan laku (melakukan) mohlimo (moh artinya enggak mau, 5 M): madat (narkoba), mendem (mabuk minumam keras), madon (main perempuan), main (judi), dan maling (mencuri/korupsi).
Tradisi ini adalah inovasi para penyebar Islam jaman dulu yang memanfaat kearifan lokal sebagai wadahnya kemudian mengganti isi atau nilainya sehingga masyarakat tanpa gejolak dapat menerimanya. Wallahu a’lam bi shawab. [GUFRON AZIS FUADI]

Tinggalkan Komentar Anda