Opini

Opini: Ramadan, Muhasabah, dan Ilusi Perdamaian

Opini: Ramadan, Muhasabah, dan Ilusi Perdamaian

Oleh Elly Agustina, Guru SMA di Lampung 

Dalam pidatonya Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz, memberikan otokritik terhadap Organisasi Islam, “Dulu itu organisasi keagamaan itu taqorrub ilallah, mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Tapi kita hari ini lebih mendekatkan diri kepada yang berkuasa. Turun derajat kita. Jadi mungkin kita perlu muhasabah.” Pungkasnya dalam acara Puncak Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rabu (17/12) lalu.

Pernyataan itu dinilai wajar sebab berbagai organisasi islam mulai dari Nahdlatul Ulama (NU) hingga Muhammadiyah, hari ini terkesan begitu intim menjalin hubungan dengan penguasa. Tak sepenuhnya salah, namun peran ulama seyogyanya mampu mengambil peran sebagai kompas kepemimpinan negeri ini, bukan justru ikut alur dan berakhir dengan rasa sungkan untuk melempar kritik.

Bukan tanpa alasan, hal ini dapat dilihat dari bagi-bagi kue tambang di era awal kepemimpinan Prabowo kepada dua Ormas terbesar Indonesia. Hal ini jelas menimbulkan banyak pro-kontra di kalangan masyarakat luas. Selain itu bergabungnya partai-partai Islam dalam bagian dari koalisi Prabowo-Gibran hingga nyaris tak ada lagi suara-suara dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang makin tak karuan.

Namun ironi negeri ini makin lama makin membuat mual, bukan hanya perut manusia yang mual dijejal MBG bahkan saat kondisi puasa sekalipun, tapi juga bumi yang memuntahkan air bahnya dan menyisakan pekerjaan rumah yang tak kunjung diselesaikan. Masih tampak jelas sampai hari ini gelondongan kayu berkilometer masih terhampar di Aceh. Anteng.

Tak tersentuh tangan pemerintah. Namun dengan entengnya Prabowo gelontorkan dana nyaris Rp17 triliun untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) besutan Donald Trump dengan dalih perdamaian Palestina. Banyak yang menyorot bahwa itu adalah ilusi perdamaian semata.

Mengingat negara terdampak yakni Palestina tidak dilibatkan dan yang mengkhawatirkan ialah dominasi peran Trump serta potensi menyaingi posisi PBB di kancah dunia. Terlebih ada yang menyorot ini berpotensi menjadi pemantik perang dunia ketiga. Naudzubillah.

Di lain sisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang awalnya menentang keras atas sikap Presiden Prabowo untuk bergabung dalam BoP, kini seolah dibungkam dengan akan dibangunnya gedung 40 lantai untuk MUI di kawasan HI. Miris.

Untuk itu, moment Ramadhan baiknya digunakan sebagai masa kontemplasi. Muhasabah. Pemerintahan tak elok bersikap tebal telinga dan nirempati. Berbagai suara rakyat menyoal polemik bangsa ini seolah hanya angin lalu.

Mulai dari proses pemilu yang carut-marut penuh nepotisme, aksi massa yang menewaskan dan menghilangkan nyawa, MBG yang oleh Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM kini dipelintir menjadi Maling Berkedok Gizi, kisah tragis bocah di NTT, para TNI Polri yang memegang peran strategis dari SPPG hingga menjadi Direktur Utama BPJS Kesehatan, kasus pembunuhan yang dilakukan TNI/Polri, hingga yang paling baru tentang kesepakatan Indonesia-Amerika dari transfer data hingga perjanjian dagang. Fantastis!

Sejalan dengan itu di tahun 2014 saya pernah mengangkat opini yang bertajuk “Semoga Bukan Negeri Tanpa Telinga” dan dimuat di salah satu surat kabar Lampung. Saat itu saya menyorot tentang film Negeri Tanpa Telinga besutan sineas muda Lola Amaria serta korelasinya dengan kondisi negara, dengan harapan negara mampu menjamin hak bersuara warga negaranya.

Namun hari ini kondisi ini benar-benar nyata di negara kita bahkan hampir di semua sektor. Kita harus menyadari bersama bahwa kondisi negara hari ini tidak baik-baik saja. Adagium vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan, harusnya menjadi landasan berpikir para penguasa negeri yang menganut sistem demokrasi ini.

Terlebih hal ini sejalan dengan firman Allah swt dalam Alquran Surаh An-Nіѕа ауаt 58 yang mеnеgаѕkаn: “Sеѕungguhnуа Allah mеnуuruh kаmu menyampaikan аmаnаt kераdа уаng berhak mеnеrіmаnуа, dan (mеnуuruh kamu) apabila menetapkan hukum dі аntаrа mаnuѕіа ѕuрауа kаmu mеnеtарkаn dеngаn аdіl. Sеѕungguhnуа Allah memberi реngаjаrаn yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allаh Mаhа Mеndеngаr lаgі Mаhа Mеlіhаt.” Wallahualam. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda