Mely Safitri

Oleh Mely Safitri, Mahasiswi Pendidikan Sejarah FKIP Unila
Tingkat pendidikan yang tinggi sering dianggap sebagai tanda prestasi dan kecerdasan seseorang. Gelar sarjana, master, atau doktor diartikan sebagai bukti bahwa seseorang telah mencapai tingkat pengetahuan yang luas dan mendalam.
Namun, menurut saya, ini hanya dilihat dari satu sisi sebuah koin. Pendidikan yang tinggi tidak selalu mencerminkan seberapa terdidiknya seseorang secara keseluruhan.
Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah pendidikan tinggi benar-benar menjamin bahwa seseorang menjadi orang yang terdidik?
Jawaban saya, belum tentu. Karena pendidikan formal hanya dapat mengingat pengetahuan dan keterampilan seseorang, akan tetapi terdapat perbedaan besar antara “berpendidikan” dan “terdidik”.
Di zaman sekarang yang serbamodern, pendidikan tinggi sering dianggap sebagai kunci sukses. Mereka yang fokus pada bidang akademik sering lupa dengan nilai-nilai etika dan karakter.
Sebuah gelar mungkin membuka pintu pekerjaan, namun karakterlah yang membuat seseorang tetap di dalamnya. Pendidikan bukanlah sesuatu yang berakhir setelah mendapatkan gelar.
Pendidikan seumur hidup sangat penting untuk terus mengembangkan karakter dan memperdalam pengetahuan. Individu yang terdidik selalu terbuka untuk belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di sekitarnya.
Melalui interaksi dengan banyak orang yang memiliki gelar tinggi, saya melihat bahwa meskipun mereka kaya akan pengetahuan tetapi mereka tidak memiliki karakter atau sifat yang baik.
Orang yang terdidik sejatinya memiliki karakter yang baik. Karakter yang sikap yang baik akan membawa kita ke dalam kehidupan yang baik.
Tetapi menurut pandangan saya banyak dari kita hanya fokus pada aspek “apa yang kita tahu”, tetapi tidak cukup pada “bagaimana kita menggunakan apa yang kita tahu”.
Sikap terdidik, menurut saya, melibatkan kemampuan berpikir kritis dan keseimbangan antara teori dan etika. Hal ini sangat penting dalam konteks sosial, di mana kecerdasan tanpa moral dapat menimbulkan dampak negatif.
Contoh nyatanya adalah orang-orang yang berpendidikan menggunakan kecerdasan mereka hanya untuk keuntungan pribadi dan mengesampingkan kepentingan bersama. Bukankah ini contoh nyata dari kegagalan pendidikan dalam membentuk karakter yang terdidik?
Sayangnya, sistem pendidikan kita masih terlalu terfokus pada pencapaian akademik dan kurang memberikan ruang bagi pengembangan karakter. Pendidikan karakter, yang mencakup empati, kejujuran, kerja sama, dan rasa tanggung jawab yang sering disepelekan.
Padahal, inilah yang membedakan seseorang yang terdidik secara moral dan etika dari sekedar orang yang berpendidikan tinggi.
Dalam dunia yang semakin berkembang, saya percaya bahwa masyarakat kita membutuhkan lebih banyak orang yang “terdidik” dalam pemahaman yang lebih luas, bukan hanya orang-orang yang berpendidikan tinggi. Kita memerlukan individu yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga bijak dalam bertindak.
Pendidikan tinggi, tanpa adanya pengembangan karakter dan kesadaran sosial, hanya akan menciptakan individu yang cerdas, tetapi kosong dalam hal moral dan etika. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama memikirkan kembali makna dari “terdidik”.
Pendidikan tidak hanya terdapat dalam buku teks, tetapi juga bagaimana cara kita memperlakukan orang lain serta memberikan kontribusi pada masyarakat.
Dengan demikian, pendidikan yang tinggi benar-benar akan melahirkan individu yang terdidik dalam arti yang sesungguhnya. []

Tinggalkan Komentar Anda