Rita Fidella. | Dokumentasi

Rita Fidella, Statistisi Ahli Muda BPS Tanggamus
Meroketnya harga pangan dan energi di tingkat domestik dan global masih terus dihadapi hingga saat ini. Kenaikan harga tersebut bahkan terjadi sejak dua tahun terakhir pada saat terjadinya Covid-19 yang melanda dunia.
Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan yaitu gandum. Komoditas ini mempunyai peran strategis sebagai komoditi global dan memiliki posisi penting dalam pemenuhan konsumsi masyarakat Indonesia.
Produk hasil penggilingan biji gandum yang paling dalam (endosperm) lebih dikenal dengan tepung terigu. Menurut Aptindo (2021) tepung terigu digunakan untuk industri kecil sebesar 71 persen dan industri menengah besar sebesar 29 persen. Kebutuhan tepung terigu terbesar digunakan pada bakery dan retailer.
Berbagai olahan makanan dari tepung terigu sangat digemari oleh rakyat Indonesia dari semua kalangan baik perkotaan maupun perdesaan. Makanan olahan tersebut berupa mi, roti, biskuit, cake, pasta, makaroni dll. Selain sebagai bahan baku pangan, gandum digunakan untuk pakan ternak sebagai substitusi jagung.
Ironisnya gandum bukanlah tanaman produksi lokal. Kebutuhan gandum domestik dipenuhi melalui impor.
Tingginya impor tentunya akan membebani APBN, karena mengurangi devisa negara. Belanja negara yang tinggi tanpa diiringi dengan pendapatan yang tinggi juga, akan mengakibatkan bertambahnya utang luar negeri.
Gandum termasuk dalam kelompok serelia yang tumbuh di daerah subtropis sehingga kurang sesuai untuk ditanam di Indonesia yang beriklim tropis.
Keunggulan gandum dibandingkan dengan tanaman serelia yang lain merupakan sumber protein pembentuk gluten yang diperlukan untuk mengembangkan adonan dalam produk roti dan pasta.
Pada awalnya gandum dan tepung terigu di perkenalkan di Indonesia sejak tahun 1969 melalui paket kerja sama ekonomi Public Law 480 oleh Amerika Serikat. Ini merupakan bentuk kerja sama kemanusiaan yang semula diberikan sebagai bantuan dengan pola hibah dalam rangka stabilisasi ekonomi dan stabilisasi harga pangan.
Pada saat itu Indonesia mengalami kesulitan mendapatkan beras dalam penyediaan konsumsi pangan. Tepung terigu mempunyai karakteristik untuk substitusi beras, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap konsumsi beras pada era tahun 1980-an.
Pada tahun 1971 impor gandum tersebut diberikan dengan pinjaman lunak kepada Indonesia oleh Amerika Serikat.
Pemerintah Indonesia pada saat itu memberikan subsidi pada tepung terigu yang dijual dengan harga 50 persen lebih rendah dari pada harga internasional.
Harga yang relatif murah dan ketersediaannya yang memadai serta mudah diperoleh, menyebabkan semakin dikenalnya terigu dalam menu makanan masyarakat Indonesia. Akhirnya menimbulkan ketergantungan pada tepung terigu yang berlanjut sampai saat ini.
Krisis ekonomi tahun 1998 pengadaan dan penyaluran tepung terigu di dalam negeri dilakukan secara bebas tanpa campur tangan pemerintah. Harga tepung terigu domestik berjalan sesuai dengan mekanisme pasar.
Pemerintah mencabut subsidi dan menghapuskan monopoli impor yang sebelumnya dilakukan oleh Bulog. Kebijakan ini memberikan peluang kepada swasta untuk melakukan impor langsung gandum dan tepung terigu. Sebelumnya swasta hanya berperan sebagai jasa penggilingan saja.
Industri pengolahan gandum semakin berkembang, ditunjukkan dengan terus bertambahnya perusahaan tepung terigu di Indonesia hingga mencapai 30 perusahaan di tahun 2022 yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.
Awalnya perusahaan penggilingan gandum hanya sebanyak 5 perusahaan di tahun 1970 (Aptindo).
Perkembangan industri yang cukup pesat ini diiringi dengan pertambahan jumlah penduduk, mengakibatkan konsumsi perkapita meningkat dan mendorong permintaan akan tepung terigu domestik semakin tinggi.
BPS mencatat rata-rata pengeluaran perkapita seminggu di daerah perkotaan dan pedesaan pada makanan olahan tepung terigu (rupiah/kapita/minggu) tahun 2021 yakni makanan gorengan 2.488, mi instan 2.286, roti manis dan roti lainnya 1.790, kue basah (kue lapis, bika ambon, lemper dsb) 1.753, kue kering, biskuit, semprong 1.364, kerupuk 446, roti tawar 471.
Gandum merupakan produk impor, pemenuhannya sangat tergantung pada negara lain. Pada beberapa bulan terakhir, produksi gandum mengalami kemerosotan.
Iklim yang buruk seperti gelombang panas dan kekeringan, mengakibatkan gagal panen di beberapa negara produsen. Diperparah lagi dengan adanya perang Rusia-Ukraina yang menghambat pengiriman ke negara-negara importir.
Kondisi ini mengakibatkan melambungnya harga gandum di pasar global, yang ikut berdampak pada tingginya harga tepung terigu di Indonesia.
Akhirnya akan berimbas pada kenaikan harga pangan olahan dari gandum tersebut. Harga gandum telah melonjak lebih dari 50 persen sejak awal tahun ini.
Ukraina merupakan salah satu produsen utama gandum dunia. Kebutuhan gandum Indonesia yang diimpor dari Ukraina sebanyak 3,07 juta ton pada tahun 2021.
Negara eksportir terbesar gandum ke Indonesia yakni Australia yang mencapai 4,7 juta ton. Total nilai impor gandum Indonesia tahun 2021 sebesar 11,48 juta ton yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 10,30 juta ton (BPS).
Indonesia merupakan importir gandum terbesar di dunia menggantikan posisi Turki dan Mesir. Menurunnya produksi gandum dan untuk menjaga tingkat inflasi, beberapa negara produsen menghentikan ekspor gandum seperti India.
Penurunan impor gandum India ke Indonesia sekitar 64 persen atau sebesar 2.000 ton di bulan April ini, tahun sebelumnya mencapai 5.566 ribu ton.
Rusia merupakan produsen minyak dan gas terbesar urutan ketiga di dunia. Negara-negara Eropa terutama Jerman, memiliki ketergantungan impor gas dan minyak serta batubara dari Rusia. Bagi Indonesia negara Rusia penyuplai pupuk dan batubara.
Konflik Rusia-Ukraina berdampak tingginya harga pupuk yang berpengaruh terhadap peningkatan biaya input produksi pertanian, sehingga ikut meningkatkan harga pangan.
Selain itu perang Rusia-Ukraina bagi Indonesia dapat meningkatkan harga BBM. Harga energi yang tinggi akan menaikkan juga harga pangan.
Keberlanjutan dampak negatif mahalnya harga gandum akan menurunkan konsumsi dan pendapatan rumah tangga, membuat pertumbuhan ekonomi melambat serta mendorong inflasi.
Impor dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian, jika produk yang diimpor berupa barang modal atau bahan mentah yang digunakan sebagai input produksi. Sehingga menghasilkan produk jadi yang mempunya nilai tambah yang tinggi.
Seperti beberapa olahan pangan berbahan baku gandum berhasil di ekspor dan terkenal di mancanegara seperti mi instan, biskuit, dan kudapan (snack).
Untuk mengurangi ketergantungan impor gandum perlu dicari substitusi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang dapat dibudidayakan dan dikembangkan di Indonesia.
Komoditas lokal tersebut harus dapat bersaing dari sisi harga dan kualitas rasa dengan gandum impor. Meskipun sulit untuk menggantikan gandum secara penuh dengan bahan pangan lokal, setidaknya terjadi pengurangan pemakaian gandum terhadap olahan makanan di masyarakat Indonesia.
Langkah awal untuk melakukan pengenalan komoditas lokal pengganti gandum, melalui sosialisasi dan promosi. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat bagaimana cara mengolah dan memasak bahan lokal tersebut, sehingga menghasilkan makanan yang lezat dan murah.
Demo masak olahan pangan lokal oleh seorang chef di bidang ahli kuliner dapat mengubah pola pikir masyarakat Indonesia terhadap panganan lokal.
Dalam jangka pendek perlu memperluas kerja sama dengan negara-negara produsen gandum yang lain untuk menambah dan menjaga keamanan pasokan kebutuhan gandum domestik.
Penyaluran bantuan sosial dapat diberikan kepada masyarakat kelas ekonomi terbawah untuk menjaga daya beli masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi dapat terus meningkat. []
