Berita Foto Opini

Opini: Gini Amat Sih Rasanya Jadi Santri

Opini: Gini Amat Sih Rasanya Jadi Santri

Sebagian peserta ekskul jurnalistik Mahad Al Jamiah UIN Raden Intan Lampung. | Dokumentasi

Sebagian peserta ekskul jurnalistik Mahad Al Jamiah UIN Raden Intan Lampung. | Dokumentasi

Oleh Ana Yulismawati, Mahasantri Mahad Al Jamiah UIN Raden Intan Lampung

Menjadi santri bukanlah hal yang mudah. Kita dididik untuk menjadi mandiri serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Hal yang lazim kita alami adalah mengantre. Mau makan harus antre. Mau mandi juga antre. Apa-apa harus antre. Beginilah nasib jadi santri.

Belum lagi saat bulan Ramadan banyak kegiatan yang siap menjamu kita. Dari mulai bangun tidur. Sebelum sahur kita melaksanakan salat malam, walaupun melakukannya dengan keadaan belum sadar total.

Setelah sahur kita berkumpul salat subuh dan halaqkh bersama. Halakah adalah kumpulan orang yang mempelajari ajaran agama Islam dari fikih, tajwid, tahsin, dan lain sebagainya.

Selain salat malam, kita juga melakukan salat duha setelah halakah. Kegiatan aktivitas santri terjeda setelah salat duha.

Bagi santri yang masih menempuh pendidikan formal maupun santri yang sedang fokus kuliah langsung bergegas menjalankan rutinitasnya sebagai siswa maupun mahasiswa. Kita sebagai santri diwajibkan salat fardu berjemaah karena ada absen yang siap siaga selalu mendata kehadiran kita.

Hal yang tidak boleh terlewat saat bulan Ramadan di pesantren adalah mengaji kitab. Sampai seperti makan 4 sehat 5 sempurna rata-rata pondok salaf mengaji setelah salat fardu.

Ada beberapa pondok juga yang menerapkan “bolong isi kitabmu jangan harap kau bisa mendapatkan dapat pulang”. Sehingga ketika ada halaman yang kosong, langsung kita tembem.

Sebagai santri kita tidak boleh sampai ketinggalan tadarus Quran. Dan hal yang paling mengharukan adalah saat detik berbuka puasa.

Di mana kita harus mengantre makan. Makan pun hanya seadanya karena harus berbagi dengan kawan santri lainnya.

Sedangkan jikalau kita berada di rumah, makan tak perlu antre, lauk pauk tersedia, mau makan apa pun ada. Insya Allah.

Setelah berbuka kita harus bergegas berangkat salat isya dan tarawih. Kegiatan ini membuat kami kurang istirahat dan suka begadang.

Belum lagi ditambah dengan peraturan asrama yang membatasi penggunaan ponsel di pondok pesantren. Sehingga para santri merasa ketertinggalan informasi dunia maya.

Akan tetapi, dari sekian banyak kegiatan dan peraturan, kita tahu semua bahwa kegiatan tersebut bermanfaat dan semua tidak ada yang sia-sia.

Salat fardhu jamaah membuat kita disiplin dan ingat selalu dengan kewajiban kita beribadah kepada Allah swt. Peraturan kitab tidak boleh bolong isinya membuatku tanggung jawab menyelesaikan tugas yang diberikan.

Begitu pula mengantre dan berbagi membuatku selalu bersyukur dan bersabar karena orang lain belum tentu dapat berbuka dan dapat belajar sepertiku.

Kalau ditanya capek, pasti capek. Orang tidur saja capek apalagi kami yang banyak melakukan aktivitas.

Akan tetapi, bersyukurlah kita masih diberikan waktu untuk belajar dan memperbaiki diri. Masalah peraturan ponsel membuat mata kita istirahat sejenak dari cahaya ponsel.

Jangan sering mengeluh, nikmati, jalani, dan syukuri. Yakinlah semua yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang indah.

Karena sukses membutuhkan proses. “Bismillah janji betah oleh upah”.

Barang siapa yang kuat dan betah akan segala rintangan yang ada, hasil kesuksesan yang akan kita peroleh. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda