Berita Foto Advertorial Opini

Opini: Artefak 3D, Upaya Konservasi Koleksi Museum

Opini: Artefak 3D, Upaya Konservasi Koleksi Museum

Yuri Rahmanto. | Dokumentasi

Yuri Rahmanto. | Dokumentasi

Yuri Rahmanto, M.Kom. (Pakar Rekayasa Perangkat Lunak)

Museum merupakan salah satu tempat pelestarian, perlindungan, pemeliharaan, dan pemanfaatan benda cagar budaya. Benda cagar budaya yang merupakan koleksi pada museum atau sering disebut dengan istilah artefak merupakan semua benda yang dibuat atau dimodifikasi oleh manusia.

Merupakan sebuah fakta bahwa artefak memiliki sifat yang rapuh dan akan terus mengalami kerusakan fisik yang dikarenakan adanya interaksi dengan artefak tersebut atau bahkan dikarenakan kondisi lingkungan.

Sedangkan, setiap artefak sebenarnya memiliki cerita mengenai tradisi dan kebudayaan tertentu, hal ini dapat tergambar dari kondisi fisik artefak tersebut.

Salah satu fungsi museum adalah melakukan konservasi atau pelestarian terhadap artefak. Namun, mengingat sifat artefak yang rapuh, maka muncul pertanyaan berapa lamakah museum mampu mempertahankan keutuhan informasi yang dimiliki oleh artefak tersebut?

Salah satu upaya yang biasanya dilakukan oleh museum terkait konservasi artefak adalah membuat buku induk artefak. Buku induk ini bersifat fisik dan lambat laun akan mengalami kerusakan sejalan dengan kerusakan fisik yang akan dialami oleh artefak.

Lalu apa yang terjadi jika artefak dan buku induk rusak? Sudah dipastikan cerita artefak tersebut akan punah dan tidak dapat diteruskan ke generasi mendatang.

Di era saat ini, sudah sepantasnya museum memanfaatkan teknologi digital dalam upaya konservasi artefak. Pemanfaatan teknologi informasi saat ini memungkinkan museum memiliki basis data artefak yang bersifat digital yang disimpan secara cloud untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi.

Pemanfaatan teknologi yang paling sesuai dengan permasalahan tersebut adalah pemodelan artefak dalam bentuk tiga dimensi atau disebut artefak 3D. Proses digitalisasi artefak ini akan menggunakan teknik tertentu yang harus mampu menghasilkan artefak 3D yang memiliki tekstur sama dengan artefak aslinya sehingga artefak 3D ini tetap dapat bercerita mengenai tradisi dan kebudayaan tertentu.

Selain itu, artefak 3D yang dibuat juga harus memiliki tekstur atau detail fisik yang menyerupai artefak aslinya. Hal ini tentu akan mempermudah pihak museum untuk melakukan restorasi artefak yang rusak.

Pada intinya, jika museum memiliki basis data berupa artefak 3D, hal ini akan menjadi aset penting bagi museum dalam pelestarian koleksi atau artefak.

Sehingga urgensi dalam melestarikan informasi fisik artefak yang berisi cerita tradisi atau kebudayaan yang semakin tahun semakin pudar akan dapat teratasi.

Selain itu, aset ini juga dapat menjadi dasar pengembangan penerapan teknologi pada museum seperti pengembangan augmented reality dan virtual museum. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda