Cici Dian Paramita. | Hengky Photograp

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Suka difoto memang sudah dijalani Cici Dian Paramita sejak lama. Namun, baru beberapa bulan terakhir ia mengisi galeri foto di Instagram-nya dengan foto bidikan fotografer.
Cici, demikian ia biasa disapa, memang senang bergaya di kamera. Ia merasa lepas begitu blitz dari kamera siap dilepaskan si empunya alat. Cici mengaku, kesukaannya difoto ini imbas dari rasa percaya dirinya yang tinggi.
Padahal sewaktu SMP ia pernah merasa tidak percaya diri. Misalnya sungkan untuk bergaul atau ngobrol dengan orang lain. Waktu di SMK, Cici mulai menampakkan perubahan.
Ia mulai suka bersosialisasi dengan yang lain. Bahkan, di kala senggang, ia mengisinya dengan bernyanyi. Namun, ia menolak kala tampil di depan khalayak. Karaoke bersama kawan sekadar mengisi waktu santainya bersama teman sebaya.
Cici menyukai difoto dalam konsep apa pun. Ia tidak menampik jika ada permintaan foto yang datang kepadanya. Namun, tetap mengenakan hijab.
Ia punya obsesi difoto dalam konsep make up yang utuh. Misalnya di-make up untuk keperluan salon sebagai model. Ia senang melihat banyak model dirias sedemikian rupa dan tampil cantik.
Apalagi, kata Cici, ia cenderung tidak menyukai riasan yang tebal. Cukup tipis-tipis dan seperlunya saja. Eyelash pun tidak. Cici berusaha tampil alami.
Ia sempat mendapat tawaran itu. Ia juga diminta mengirim foto wajahnya yang natural tanpa polesan apa-apa. Namu, kesempatan itu masih belum ia dapatkan.
“Aku kepengen banget deh difoto model khusus make up gitu. Apalagi pakai hiasan ala pengantin gitu, kayaknya keren banget,” kata pemilik akun Instagram @ccdipaa23.
Anak kedua dari empat bersaudara ini menambahkan, meski tak menggunakan scincare dan sederet lifestyle lainnya, ia terbilang modis untuk berdandan. Baginya, saat keluar dengan beragam keperluan, harus dengan riasan yang pas.
Ia tidak mau alakadarnya. Apalagi selama di kampus, Univeritas Teknokrat Indonesia, ia juga diajari mata kuliah kepribadian yang membuatnya bisa menempatkan diri kala bersosialisasi dengan orang lain.
Cici mengungkapkan, satu tekadnya dalam jangka dekat ini punya pekerjaan yang tetap. Ia punya pengalaman bekerja kala PKL dahulu di kampus.
Meski demikian, sampai sekarang bukannya Cici tidak ada “pekerjaan”. Keaktifannya di media sosial ia manfaatkan untuk mendapatkan penghasilan. Cici terbilang rajin untuk mempromosikan atau meng-endorse produk, baik makanan, pelangsing badan, baju, dan sebagainya.
Cici mengaku dari situ ia mendapatkan produk dan uang. Namun, sejauh ini ia lebih sering menerima produk.
Ke depan, Cici berharap ia mendapatkan banyak uang dari hasil endorse yang ia lakukan. Sukses ya, Cici. []
