Opini

Menjadi Manusia di Era Artificial Intelligence – Ketika AI Memberi Jawaban, Karakterlah yang Menentukan Keputusan

Menjadi Manusia di Era Artificial Intelligence – Ketika AI Memberi Jawaban, Karakterlah yang Menentukan Keputusan

Romi Aprilyansa

Oleh Romi Aprilyansa (Alumnus SMAN 2 Bandar Lampung dan Fakultas Teknik Unila)

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan bertemu dengan Krisnadi Ramajaya Hoegeng, cucu Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Berbeda dengan banyak orang yang mengenal Hoegeng dari buku sejarah atau kisah ketegasannya sebagai Kapolri, Mas Rama memiliki pengalaman yang sangat berharga.

Ia pernah tinggal bersama sang kakek dan membersamai masa-masa pensiun beliau. Dari kedekatan itulah ia mendengar banyak petuah, menyaksikan kebiasaan sehari-hari, dan melihat bagaimana seorang tokoh besar menjalani hidup setelah semua jabatan dan kekuasaan ditinggalkan.

Dalam perbincangan kami, Mas Rama bercerita bahwa perjalanan hidup Hoegeng dapat dipahami dalam tiga fase.

Fase pertama adalah masa muda. Pada masa itu, cara pandang Hoegeng sangat sederhana. Hitam adalah hitam. Putih adalah putih. Aturan adalah aturan. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Ketegasan itulah yang kemudian membentuk reputasinya sebagai sosok yang lurus, jujur, dan tidak mudah diintervensi.

Fase kedua adalah ketika beliau mencapai puncak pengabdiannya sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

Di posisi itu, dunia ternyata tidak selalu sesederhana hitam dan putih. Setiap keputusan membawa konsekuensi. Ada tekanan, kepentingan, dan berbagai persoalan yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah. Namun satu hal tidak pernah berubah. Integritas tetap menjadi kompas dalam setiap keputusan.

Lalu datang fase ketiga. Masa pensiun. Pada masa inilah Mas Rama paling banyak membersamai kakeknya. Banyak orang mengenang Hoegeng sebagai Kapolri yang sederhana dan berani.

Namun di rumah, beliau lebih sering menghabiskan waktu dengan melukis. Awalnya yang memenuhi kanvas adalah wajah-wajah manusia, tokoh perjuangan, dan para pahlawan.

Namun lama-kelamaan, lukisan-lukisan itu berubah. Yang lebih sering muncul justru bunga.

Suatu hari Mas Rama bertanya,
“Kung, kenapa sekarang lebih sering melukis bunga?”
Hoegeng tersenyum lalu menjawab,
“Karena manusia bisa berubah. Hari ini baik, besok bisa berubah. Hari ini dipuji, besok bisa mengecewakan. Tetapi bunga ciptaan Tuhan tetap menjadi dirinya. Mawar tetap mawar. Melati tetap melati. Warnanya tetap sama sampai ia layu dan mati.”

Saya terdiam ketika mendengar cerita itu. Kalimat tersebut bukan sekadar penjelasan tentang lukisan. Itu adalah kesimpulan seorang manusia yang telah melewati masa muda, puncak pengabdian, hingga kehidupan yang tenang setelah pensiun.
________________________________________
Hari ini kita hidup di zaman yang berubah jauh lebih cepat dibandingkan zaman Hoegeng.
Artificial Intelligence berkembang hampir setiap hari. Model baru terus bermunculan.
Kemampuannya semakin mengagumkan.

AI mulai membantu memilih calon karyawan, membaca hasil pemeriksaan medis, menilai risiko kredit, menyusun jadwal proyek, hingga memberikan rekomendasi keputusan bisnis.

Semakin banyak data yang dimiliki AI, semakin tinggi pula tingkat keyakinan terhadap jawabannya.

Lalu muncul pertanyaan sederhana. Di tengah AI yang semakin cerdas, apa yang harus tetap dijaga oleh manusia?

Saya teringat kembali pada bunga yang dilukis Hoegeng. Teknologi akan terus berubah.

Model AI akan terus berkembang. Data akan terus bertambah. Tetapi apakah nilai yang kita pegang juga harus ikut berubah?

Apakah kejujuran masih bisa dipertahankan ketika AI mampu membuat laporan yang tampak sempurna?

Apakah keberanian masih diperlukan ketika sistem telah memberikan rekomendasi yang dianggap paling benar?

Apakah integritas masih mempunyai tempat ketika keputusan cukup diambil dengan menekan satu tombol approve?

Di sinilah saya teringat pada pemikiran Peter Drucker. Drucker berulang kali mengingatkan bahwa tugas seorang pemimpin bukan sekadar memiliki informasi atau mengetahui semua jawaban.

Tugas pemimpin adalah menentukan apa yang benar untuk dilakukan, kemudian berani memikul tanggung jawab atas keputusan tersebut. Informasi dapat dibantu oleh data. Analisis dapat dibantu oleh AI. Tetapi karakter tidak pernah dapat diproduksi oleh algoritma.
________________________________________
Film Minority Report menggambarkan sebuah masa depan ketika teknologi mampu memprediksi pembunuhan sebelum terjadi. Sistem itu begitu meyakinkan sehingga orang ditangkap bukan karena telah melakukan kejahatan, melainkan karena sistem mengatakan bahwa ia akan melakukannya.

Semua orang mempercayainya. Sampai akhirnya sistem menuduh orang yang selama ini paling percaya kepada sistem itu sendiri.

Di situlah muncul pertanyaan yang sangat relevan bagi kita hari ini. Apakah sebuah prediksi harus selalu menjadi kenyataan?

Ataukah manusia masih memiliki kebebasan untuk memilih jalan yang berbeda? Bukankah AI pada akhirnya juga bekerja dengan cara yang serupa?

Ia mempelajari miliaran data, menemukan pola, lalu memberikan prediksi yang dianggap paling mungkin terjadi. Namun prediksi tetaplah prediksi. Keputusan tetap berada di tangan manusia. Karena hanya manusialah yang akan hidup bersama konsekuensi dari keputusan itu.
________________________________________
Sebelum kami mengakhiri pertemuan, Mas Rama menceritakan satu kisah lagi.

Suatu hari ia melihat sebuah dokumen lama milik Hoegeng. Pada dokumen itu, nama lengkap Hoegeng Iman Santoso tampak dicoret.

Yang dibiarkan tetap terbaca hanya satu kata: Hoegeng. Di bawahnya terdapat tanda tangan yang sangat khas. Garis huruf H ditarik tegas, sederhana, tanpa hiasan.

Mas Rama bercerita filosofis mengapa nama lengkap itu dicoret. Hoegeng menjawab, “Semoga iman saya sentosa sampai akhir.”

Saya tidak tahu apakah kalimat itu telah lama beliau siapkan atau lahir begitu saja pada saat itu. Namun bagi saya, kalimat tersebut merangkum seluruh perjalanan hidupnya.

Semasa muda ia menjaga prinsip. Saat memimpin ia menjaga integritas. Ketika pensiun ia menjaga hati.

Pada akhirnya, yang ingin ia bawa sampai akhir kehidupan bukanlah pangkat, jabatan, atau nama besar. Melainkan iman yang tetap teguh.

Di era Artificial Intelligence, kita mungkin akan terus berlomba membuat mesin yang semakin pintar. Tetapi mungkin pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apakah nilai-nilai yang kita pegang hari ini masih akan tetap kita jaga sampai akhir kehidupan?

Karena kecerdasan akan terus berkembang. Teknologi akan terus berubah.
Namun karakter adalah pilihan yang harus dijaga setiap hari. Mungkin itulah warisan terbesar yang ditinggalkan Hoegeng.

Bukan sekadar ketegasan. Bukan sekadar keberanian. Melainkan keteguhan untuk tetap menjadi diri sendiri sampai akhir. Dan mungkin, itulah pula tantangan terbesar kita di era Artificial Intelligence.

Bukan menjadi lebih cerdas daripada mesin. Melainkan tetap menjadi manusia. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda