Berita Foto Ruwajurai Pesawaran

Menikmati Ketenangan Kawasan Konservasi Mangrove Desa Gebang Pesawaran

Menikmati Ketenangan Kawasan Konservasi Mangrove Desa Gebang Pesawaran

Mangrove Petengoran Desa Gebang. | Agatha Monica Silaban

Mangrove Petengoran Desa Gebang. | Agatha Monica Silaban

Wartalampung.id, Gebang – Keindahan alam Lampung tidak ada habisnya. Banyak pantai dengan pemandangan unik di masing-masing tempat.

Salah satu pantai yang berada di Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, menghadirkan pemandangan dan suasana tersendiri bagi para pengunjungnya.

Pantai ini dikenal dengan beberapa nama yaitu pantai mangrove, ekowisata mangrove, atau kawasan konservasi hutan mangrove, hutan bakau Petengoran, dan hutan mangrove Gebang.

Pantai ini dikelilingi pohon mangrove yang rimbun dan disediakan beberapa pondok untuk bersantai melepaskan rasa lelah menghadapi kegiatan yang padat. Jauh dari kebisingan kota, tempat ini menjadi pilihan tepat untuk mendapatkan ketenangan.

Angin berhembus menyentuh dedaunan pohon mangrove ditemani suara burung dan desiran ombak laut yang terdengar memenuhi kepala seakan membawa kelelahan pergi. Suasana ini dapat menumbuhkan ide dan inspirasi.

Ekowisata mangrove berjarak 27 km dari pusat Kota Bandar Lampung dan dapat ditempuh selama 1 jam 30 menit dengan menggunakan kendaraan beroda dua atau empat.

Lokasinya berada di Jalan Dewi Mandapa, Gebang Petengoran, Kecamatan Teluk Pandan, Pesawaran. Biaya yang untuk parkir kendaraan beroda dua sebesar Rp3.000, sedangkan untuk kendaraan beroda empat atau lebih mencapai Rp5.000.

Biaya masuk ditetapkan sebesar Rp15 ribu per orang. Pantai ini mengizinkan membawa makanan atau minuman dari luar dan buka selama 24 jam.

Fasilitas yang diberikan adalah kamar mandi, kedai makanan dan minuman, dan beberapa perahu kecil untuk penyebrangan atau mengelilingi hutan mangrove.

Hutan mangrove Gebang telah dibuka sejak empat tahun lalu dan dikelola oleh badan usaha milik desa (BUMDes) setempat dengan sistem penjagaan yang berganti tiap minggunya.

Selain menjadi tempat wisata, kawasan ini menjadi tempat penelitian dan pelestarian pohon mangrove yang telah dilakukan oleh dosen serta mahasiswa dari beberapa universitas yang ada di Lampung. Tercatat sebanyak 30 jenis pohon mangrove telah dibudidayakan sejak tahun 2018.  [Agatha Monica Silaban, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda