Berita Foto Kacamata Adian

Mengenang Hesma Eryani: Aku Yakinkan Pemred Supaya Kau Diterima, Dek

Mengenang Hesma Eryani: Aku Yakinkan Pemred Supaya Kau Diterima, Dek

Hesma Eryani. | Dokumentasi

Hesma Eryani. | Dokumentasi

SAYA mulai menulis dan mengirim opini ke Lampung Post pada Desember 1999. Opini pertama saya dimuat pada bulan itu di harian paling tua di Lampung ini. Kala itu saya masih aktif di Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung.

Dari situ saya makin aktif menulis opini. Redaktur opini di Lampung Post acap berganti-ganti. Beberapa nama yang saya tahu dan kenal orangnya di antaranya Heri Mulyadi yang pernah jadi anggota DPRD Bandar Lampung asal PKS hasil pemilu 2004, lalu  Zulkarnain Zubairi atau biasa disapa Udo Zul yang juga dikenal sebagai sastrawan dan budayawan, serta Hesma Eryani.

Nama-nama itu saya kenal dengan baik karena acap bertemu pada forum kepenulisan. Mereka pun tahu dengan saya.

Dengan Hesma Eryani, yang akrab disapa Yuk Hesma atau Mbak Hesma, saya lumayan karib. Ia jujur kala menilai tulisan orang.

Pernah waktu hendak mengirim tulisan pakai disket ke redaksi, ketemu dia di halaman harian umum Lampung Post. Dia bilang kepada saya.

“Tulisan kau soal perempuan, anak-anak, dan humaniora lainnya bagus. Tapi aku usul kau jangan nulis semua. Ambil saja spesifikasi sehingga kau punya tema andalan.” Demikian Mbak Hesma memberikan saran.

Waktu dekat Hari Kartini, saya pun menulis. Pas ketemu dia, dia bilang. “Adian, tulisan kau bagus. Cuma karena ada akademis yang nulis hal yang sama, aku enggak pilih tulisan kamu.”
Saya pun mahfum.

Waktu seratus tahun Bung Karno pada 2001, saya menulis artikel panjang soal Bung Karno. Saya lahap semua literatur soal itu. Termasuk membeli Kompas edisi seratus tahun Bung Karno.

Mengejar tanggal lahir si Bung Besar, saya ngebut mengetik. Sejam beres. Menulis di rental komputer kala itu mesti gegas. Soalnya kalau lewat sejam saja, sewa komputernya naik.

Usai menulis, saya mikir. Ini pasti banyak yang nulis soal seratus tahun Bung Karno. Daripada enggak dimuat, saya tanya langung ke Mbak Hesma yang kebetulan menjadi redaktur opininya.

Modal duit cepek, angkat telepon di telepon umum ke nomor redaksi Lampung Post.
Di seberang telepon, suara Hesma yang khas, nyelengking bahasa saya, terdengar.

“Kau nulis apo, Dek?”

“Aku nulis soal seratus tahun Bung Karno, Yuk,”

“Ah, malas aku nurunkan nyo. Lah banyak yang nulis. Isinyo muji-muji galo.”

“Tulisan aku dak muji-muji, Yuk. Aku malah kritis.”

“Payulah aku tunggu tulisan kamu sore ini jugo.”

Naik angkot warna biru jurusan Rajabasa, saya menuju Lampost, akronim Lampung Post. Dulu ongkosnya Rp2.000. Tapi kalau mau minta diantar sampai Lampost, saya mesti nambah lima ratus perak.

Sampai di kantor redaksi, izin sama satpam, saya langsung ke ruangan para redaktur. Letaknya dulu di bawah. Tempat yang pernah jadi perpustakaan.

Di dalam saya sudah ditunggu Hesma.
Saya serahkan disket yang file-nya saya kunci di format text only. Maklum, komputer para editor dan reporter Lampost hanya bisa membaca notepad atau text only.

Saya menulis judul “Sukarno di Mata Saya” .

“Judulnya jangan mak ini. Kau kan bukan siapo-siapo. Pejabat bukan, politisi bukan. Mak ini sajo judulnyo ‘Menempatkan Sukarno’.”

Tulisan saya panjang sekali. Bisa penuh tulisan saya sendiri kalau terbit. Usai dilihat Hesma, saya pamit.

Hesma tak menjanjikan apa-apa soal tulisan. Saya pun tak cerewet bertanya apakah tulisan saya layak atau tidak. Saya diam saja.

Hari Rabu-nya, tulisan saya terbit. Judulnya sama seperti suntingan Hesma waktu saya ketemu dia. “Menempatkan Sukarno”. Satu halaman penuh. Senangnya bukan main. Itu tahun ketiga saya aktif menulis opini.

Agustus 2004, Lampost buka lowongan untuk staf perpustakaan dan staf redaksi. Kuliah saya belum rampung. Sudah di ujung tanduk.

Awalnya tak niat melamar. Kepengen melamar karena duduk sebelahan sama mbak yang mau melamar kerjaan di Lampost. Kami ketemu di angkot.

Saya seperti biasa hendak mengirim tulisan. Memang belum akrab email waktu itu. Makanya tulisan mesti saya simpan di disket lalu berangkat ke Lampost.

Saya lihat di sampul cokelat ada tulisan lamaran kerjaan.

“Mbak ngelamar di Lampost, ya.”

“Iya, Mas.”

Sore itu saya mikir. Ah ngelamar juga lah. Emang saya kepengen kerja juga di situ. Jadi bagian dari koran milik Surya Paloh itu.

Saya tidak mikir apakah jenis kerjaan yang saya tuju itu staf redaksi atau staf perpustakaan.
Saya pilih staf perpustakaan meski kayaknya jauh dari yang diminta Lampost yakni memang lulusan jurusan perpustakaan.

Tapi saya bodo amat. Surat lamaran saya bikin. Tapi ijazah jelas belum ada. Saya balik ke kampus dan minta daftar nilai ke akademik. Beres itu, berkas saya antar.

Usai memasukkan berkas ke Lampost, saya pulang. Minggu depan saya ke sana lagi, seperti biasa mengantar tulisan. Di situlah saya bertemu Hesma.

“Dek, kau masukin lamaran ya.”

“Iya, Mbak.”

“Kau udah lulus kuliah?”

“Belum, Mbak”

“Hmm. Kau masukin untuk staf perpustakaan ya. Kita memang butuh tapi yang lulusan perpustakaan. Gini aja, aku usulkan sama Pak Djadjat, supaya kamu diterima di redaksi. Sayang kamu punya kemampuan nulis tapi di perpustakaan atau typist.”

Nama Djadjat yang dimaksud Hesma adalah Djadjat Sudradjat, Pemimpin Redaksi Lampung Post kala itu. Kini, Pak Djadjat anggota DPRD Banyumas, Jawa Tengah.

Beberapa hari setelah itu, telepon rumah berdering. Suara di seberang telepon menginformasikan saya disuruh datang untuk psikotest.

Tak lama, telepon berdering lagi. Kali ini langsung Hesma Eryani.

“Dek, aku dah perjuangkan kau masuk redaksi. Mungkin korektor bahasa. Aku dah ngomong sama Pak Djadjat. Itu si Adian ngelamar. Yang pintar nulis dan sering opininya dimuat. Dia oke, doakan saja semoga kau diterima.”
Saya senang bukan main.

Ada dua kali tes yang saya jalani. Tes pertama psikotest. Lama waktunya, ya macam macam yang dikerjakan. Menghitung sampai deretan ke bawah yang panjang sekali, menggambar, soal logika, nalar, macam-macam. Syukurnya saya bisa.

Kemudian tes wawancara dengan bagian SDM Lampost, Armalia namanya. Ia biasa disapa Mbak Ame.

Ketemu saya, dia langsung ngomong.
“Ini yang namanya Adian ya. Mbak baca aja tulisan kamu bagus-bagus. Eh sekarang ngelamar ke sini.”

Banyak yang ditanyakan Mbak Ame. Dari pengalaman organisasi, soal orangtua, soal kuliah, dan lainnya. Soal kuliah, Mbak Ame wanti-wanti.

“Selesaikan ya, Adian, jangan sampai enggak. Sayang soalnya. Tanggung jawab orangtua juga.”

Siap jawab saya, eh bukan ding, belum terkenal jawaban “siap” waktu itu. “Iya, Mbak.”

Mbak Ame juga bilang IQ saya tinggi dari hasil psikotest. Dalam hati alhamdulillah.

Wawancara terakhir dengan Pemred Djadjat Sudradjat dan Redaktur Pelaksana Sabam Sinaga. Saya ingat itu hari Kamis. Saya sedang puasa. Wawancara langsung di ruangan Pak Djadjat.

“Minum, Adian,” kata Bang Sabam, demikian ia biasa disapa.

“Saya kebetulan lagi puasa Senin-Kamis, Bang.” Sabam manggut.

Wawancara pun dimulai.

Banyak yang ditanyakan Pak Djadjat. Saya sampai pusing. Ditanya bagaimana situasi ekonomi Lampung, pendapat soal politik, isu luar negeri yang sedang berkembang, sampai dunia hiburan.

Pas Pak Djadjat tanya apa pendapat saya soal Lampung Post, saya menjawab pendek.
“Lampung Post koran berkelas, Pak.” Djadjat dan Sabam tertawa senang.

Sabam giliran tanya. Apa saya bisa bekerja di ruangan ber-AC, apa saya bisa bekerja sama dalam tim, apa saya bisa bekerja sesuai dengan tenggat atau deadline, dan lainnya. Saya tentu menjawab bisa dan siap.
Pertanyaan terakhir bikin saya agak melongo. Bang Sabam tanya.

“Adian ini maaf, Islamnya apa ya,”

Saya bingung. Islam apa ya.

“Maksudku apa Adian ini NU atau Muhammadiyah,” lanjut Sabam.

Saya juga mesem-mesem. Soalnya saya berasal dari keluarga yang bukan keduanya. NU enggak, Muhammadiyah enggak.

Pak Djadjat langsung jawab.

“Adian ini Islamnya plural Pak Sabam.”

Kami tertawa.

Pak Djadjat menutup wawancara.

“Nanti Adian bekerja sebagai staf korektor bahasa ya. Bantu tim korektor membenahi logika, tanda baca, kalimat, judul, dan sebagainya. Nanti dikasih rincian kerjanya sama Lulu kasi Korektor. Selamat bekerja. Kuliahnya dirampungkan. Kalau ada slot buat reporter dan Adian sudah selesai, bisa pindah ke reporter.”

Alhamdulillah saya diterima bekerja di Lampost. Itu tanggal 30 September 2004. Selain saya ada Winarko yang diterima di bagian redaksi.

Winarko ditempatkan di sekretariat redaksi. Itu tugas di komputer sekretariat untuk mengecek email masuk, meneruskan berita-berita ke tiap redaktur, dan membantu urusan kesekretariatan.

Di ruang lobi bawah Hesma sudah menunggu.
Dia lalu minta saya duduk dulu dan memberikan masukan.

“Alhamdulillah ya, Dek, kamu diterima. Mungkin ini karena kau baik juga sama orang. Maka kau dilancarkan bisa kerja di sini. Kerja yang baik, ya, Dek. Yang sungguh-sungguh. Terus aja menulis. Selama kau belum dikontrak dan masih on job training, tulisan kau masih dikasih honor. Selamat bekerja. Niatan ibadah, niatkan dakwah untuk umat.”

Saya takzim mendengar nasihat Mbak Hesma. Usaha dia meyakinkan Pak Djadjat supaya saya diterima adalah sebuah keberkahan tersendiri. Padahal status saya masih mahasiswa. Skripsi pun belum jua tergambar.

Saat kemarin menerima kabar Mbak Hesma Eryani meninggal, hanya doa yang bisa saya lantunkan.

Semoga amal saleh Mbak Hesma semasa hidup, termasuk meyakinkan Pak Djadjat supaya saya diterima bekerja–padahal enggak ada slot buat korektor bahasa–diterima Allah swt.

Allahummagh firlaha warhamha waafiha wa’fuanha. [Adian Saputra]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda