Berita Foto Opini

Membangkitkan Budaya Literasi

Membangkitkan Budaya Literasi

Gun Gun Nugraha. | Dokumentasi

Gun Gun Nugraha. | Dokumentasi

Oleh: Gun Gun Nugraha (Statistisi Muda BPS Provinsi Lampung)

POTRET budaya membaca masyarakat Indonesia tergolong memprihatinkan. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 yang dilakukan oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan skor literasi kita masih rendah.

Survei PISA tersebut menyasar siswa pendidikan menengah yang difokuskan pada pengukuran tiga kompetensi dasar, yaitu literasi, matematika, dan sains.

Skor kemampuan membaca siswa Indonesia mencapai 371, masih jauh di bawah rata-rata negara anggota OECD yang mencapai 487. Kemampuan membaca siswa Indonesia hanya setara dengan Arab Saudi, Kosovo, Republik Dominika, Kazakhstan, dan Filipina.

Negara dengan skor kemampuan membaca tertinggi adalah Tiongkok (555), disusul Singapura (549), dan Makau (525). Kondisi yang sama juga terjadi pada kemampuan siswa terhadap matematika dan sains.

Fakta lain disodorkan oleh UNESCO dan Central Connecticut State University. Menurut hasil survei yang diselenggarakan UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang, hanya satu orang yang berminat membaca.

Riset Central Connecticut State University pada tahun 2016 menyebutkan bahwa literasi masyarakat Indonesia berada pada urutan kedua dari bawah atau setingkat lebih baik dari Botswana.

Sementara itu, hasil Susenas Modul Sosial, Budaya, dan Pendidikan tahun 2018 oleh BPS, menyebutkan bahwa persentase penduduk berumur 5 tahun ke atas yang membaca selama seminggu terakhir mencapai 77,94 persen atau dari setiap 100 orang, yang membaca selama seminggu terakhir mencapai 77 orang. Ini pun kondisinya didominasi oleh anak sekolah dan mahasiswa karena rutinitas di sekolah/kampus.

Berdasarkan tipe daerah, masyarakat perdesaan mencapai 72,07 persen, sedangkan perkotaan mencapai 82,65 persen. Dari sisi jenis kelamin, minat baca penduduk laki-laki lebih rendah (77,00 persen) daripada penduduk perempuan (78,89 persen).

Masih rendahnya tingkat baca tulis (literasi) di Indonesia disinyalir karena masyarakat belum menyadari manfaatnya. Padahal, berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan modernisasi berangkat dari minat membaca dan menulis.

Di samping itu, dampak lain dari rendahnya budaya membaca adalah semakin terbukanya potensi risiko yang tinggi terhadap transfer konten negatif di era digital. Berita hoax, ujaran kebencian, isu radikalisme, isu toleransi merupakan ancaman di tengah masyarakat yang gagap membaca.

Sebuah survei dari CIGI-Ipsos pada tahun 2016 menjelaskan bawah sekitar 65 persen dari 132 juta pengguna internet di Indonesia percaya dengan kebenaran informasi di dunia maya tanpa cek dan ricek.

Rendahnya tingkat literasi di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kebiasaan membaca belum dimulai dari rumah. Di Italia dikenal istilah grandi lettori. Istilah ini digunakan bagi anak-anak sebagai pembaca yang hebat. Membaca sudah menjadi budaya dalam keluarga.

Indikatornya, keluarga di sana menjadikan pembelian buku, komik, dan koran sebagai pengeluaran rutin keluarga. Tidak heran jika di sana banyak lahir para pujangga dan ilmuwan terkemuka.

Di Indonesia, masih menurut survei BPS, sebanyak 86,77 persen penduduk Indonesia berumur 5 tahun ke atas menghabiskan 6–7 hari setiap minggu untuk menonton siaran televisi.

Kedua, akselerasi perkembangan teknologi yang makin cepat. Perkembangan teknologi yang makin canggih dan cepat turut menjadi penyebab menurunnya budaya literasi. Masyarakat disinyalir lebih tertarik bermain game pada gawai mereka dibandingkan membaca.

Jika pun membaca, sebagian masyarakat lebih tertarik membaca gosip dan konten media sosial yang kadangkala kebenaran informasinya masih belum jelas dan minim basis saintifik. Siauseni (2010) menjelaskan bahwa yang menjadi kendala dalam meningkatkan kegemaran membaca anak adalah derasnya arus hiburan serta permainan dari gawai.

Ketiga, minimnya sarana bacaan. Perpustakaan dan taman baca masyarakat (TBM) merupakan sarana bacaan yang paling mudah diakses masyarakat. Faktanya, tidak sedikit sarana bacaan justru sepi peminat.

Menurut BPS, persentase penduduk Indonesia berumur 5 tahun ke atas yang pernah mengunjungi perpustakaan selama tiga bulan terakhir hanya mencapai 13,02 persen dan taman baca masyarakat (TBM) hanya mencapai 1,15 persen.

Pemicunya, selain disebabkan karena minat baca masyarakat yang masih kurang, kondisi sarana bacaan yang kurang menarik, buku-buku yang ada juga masih sekumpulan buku-buku lama, dan sistem peminjaman yang terkesan kurang bersahabat. Munaf (2002) dalam studinya pernah menyatakan bahwa perpustakaan memiliki hubungan yang erat dalam menumbuhkan minat baca.

Keempat, kurangnya motivasi dari personal. Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa membaca seperti membuang waktu percuma. Bagi masyarakat menengah ke bawah, membaca bukanlah aktivitas yang harus diprioritaskan. Bagi mereka, waktu untuk bekerja jauh lebih penting dibandingkan waktu untuk membaca.

Oleh sebab itu, mind set anak-anak pada masyarakat golongan ini akhirnya mengikuti pola pikir orang tua mereka.

Melihat kondisi perkembangan budaya membaca di Indonesia yang masih rendah, langkah-langkah konkret harus segera diambil pemerintah. Kebijakan dan dukungan semestinya tidak lagi hanya sebatas temporer atau seremonial saja, seperti perayaan Hari Buku Nasional. Impelementasi Undang-Undang No. 34 Tahun 2007 tentang perpustakaan harus terus didorong agar budaya literasi semakin berkembang.

Alternatif kedua adalah dengan mewajibkan siswa untuk membaca minimal 2–3 buah buku per minggu sehingga lambat laun ini akan menjadi budaya yang biasa di masyarakat. Selanjutnya, perbedaan kualitas pendidikan antarwilayah di Indonesia juga harus terus dibenahi agar disparitasnya seminim mungkin.

Langkah lain adalah dengan menggandeng swasta, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, duta membaca agar sosialisasi program literasi menjadi lebih masif dan terarah.

Meningkatkan kemampuan literasi adalah PR kita bersama. Membudayakan baca dan tulis merupakan salah satu upaya agar sumber daya manusia masyarakat dapat berkembang secara mandiri dan alami.

Kita tentu berharap dengan semakin meningkatnya budaya literasi di tengah masyarakat kita, Indonesia mampu bersaing pada level yang lebih luas. Dengan jumlah populasi yang mencapai 271,62 juta jiwa dibarengi dengan tingkat SDM yang handal, ke depan, Indonesia adalah negara yang akan diperhitungkan dunia.

Mari, bangkitkan budaya literasi di tengah kita! Tidak ada kata terlambat. []

 

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda