Berita Foto Ruwajurai Lampung Tengah

Memaknai Upacara Potong Gigi Umat Hindu Bali di Seputih Banyak Lampung Tengah

Memaknai Upacara Potong Gigi Umat Hindu Bali di Seputih Banyak Lampung Tengah

Upacara potong gigi. | I Putu Doni Marantino

Upacara potong gigi. | I Putu Doni Marantino

Wartalampung.id, Seputih Banyak – Potong gigi menurut masyarakat Hindu Bali merupakan upacara keagamaan apabila seorang anak sudah beranjak dewasa.

Ini dapat diartikan sebagai pembayaran utang karena telah menghilangkan keenam sifat buruk dari diri manusia.

“Upacara ini dinamakan manusa yadna, dilakukan dengan cara mengikis 6 gigi bagian atas yang berbentuk taring,” jelas Putu Swastika, pemuka adat di Dusun Sukabayu, Desa Siswobangun, Kecamatan Seputih Banyak, Lampung Tengah, Jumat, 17/9/2021.

Putu Swastika mengatakan, upacara manusa yadna itu bertujuan untuk penyucian diri manusia secara lahir dan batin serta permohonan keselamatan demi kebahagiaan di dunia maupun alam niskala..

Selain dikenal sebagai upacara potong gigi, masyarakat biasanya menyebutnya dengan mepandes, mesangih atau metatah.

Pemotongan gigi di sini tidak berarti gigi dipotong hingga habis, tapi dikikir agar rapi.

Gigi yang telah dipotong lalu diletakkan di atas sebuah kain berwarna cokelat kekuningan yang kemudian didoakan dengan sepiring sesaji.

Komang Nesa merupakan perempuan yang giginya hendak dipotong. Hal ini dilakukannya untuk menghilangkan 6 sifat keburukan pada manusia.

Putu Swastika mengatakan, 6 sifat buruk tersebut dinamakan sad ripu yang terdiri dari kama, loba, krodha, mada, moha, dan matsarya.

“Kama itu nafsu,  loba artinya ketamakan, krodha kemarahan, mada artinya mabuk” terangnya.

“Kalau moha itu artinya kebingungan yang ada di diri kita. Jadi kita tidak bisa menyelesaikan tugas dengan baik, sedangkan matsarya artinya sifat iri hati,” tambahnya.

Lebih lanjut dijelaskan dalam tradisi Hindu menatah gigi bertujuan sebagai menghilangkan keburukan dalam diri manusia dalam wujud bhuta, kala, picasa, serta raksasa yang artinya jiwa dan raga manusia yang diliputi oleh sad ripu tersebut. [I Putu Doni Marantino, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UBL]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda