Berita Foto Nusantara

Memaknai Hari Gajah Sedunia

Memaknai Hari Gajah Sedunia

Gajah sumatera. | Vivin Adi Anggoro/TNBBS

Gajah sumatera. | Vivin Adi Anggoro/TNBBS

Wartalampung.id, Kotaagung – Sebagian besar orang pasti awam akan peringatan Hari Gajah Sedunia. Hari gajah sedunia adalah acara tahunan antar bangsa setiap tanggal 12 Agustus yang didedikasikan untuk pelestarian dan perlindungan gajah dunia.

Tujuan Hari Gajah Sedunia ini adalah untuk menciptakan kesadaran mengenai kehidupan gajah Asia dan Afrika yang terdesak, serta berbagi pengetahuan dan penyelesaian yang pasti bagi perawatan dan pengurusan gajah yang ditangkap dan diliarkan kembali di alam.

Gajah termasuk salah satu mamalia besar dilindungi berdasarkan PermenLHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Mamalia ini ditetapkan juga statusnya kedalam kategori Critically Endangered (CR) atau kritis berdasarkan redlist IUCN.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) merupakan salah satu habitat yang tersisa bagi gajah sumatera di Pulau Sumatera. Seiring berjalannya waktu populasi gajah terus mengalami penurunan begitu pula halnya dengan populasi gajah sumatera di TNBBS.

Hasil survei tahun 2017-2018 dengan menggunakan metode yang akurat dan terpercaya, diketahui hanya sekitar 122 individu populasi gajah berada di bagian tengah kawasan TNBBS. Sementara 16 tahun silam sebanyak 498 individu gajah pernah mendiami kawasan TNBBS.

Perubahan fungsi kawasan menjadi lahan perkebunan kopi di daerah Sekincau dan Suoh merupakan salah satu pemicu berkurangnya populasi gajah di TNBBS.

Di samping itu, keberadaan invasive species mantangan di daerah Tampang Belimbing bagian ujung selatan kawasan TNBBS berdampak pada menurunnya kualitas habitat bagi satwa liar termasuk gajah sumatera.

Pemicu lain yang menyebabkan terancamnya populasi gajah di alam adalah tindakan perburuan.

Gajah merupakan “petani hutan”. Sebagai satwa herbivora yang memiliki wilayah jelajah yang sangat luas, gajah membantu perbaikan hutan dengan menyebarkan biji-biji dari buah yang dimakan dan dikeluarkan melalui kotorannya.

Untuk itu jika populasi gajah terus menurun maka salah satu kerugiannya adalah perbaikan hutan yang rusak tidak lagi murah. Perlu anggaran dan sumber daya yang besar untuk memperbaiki hutan yang rusak dengan sengaja melakukan penanaman/pemulihan ekosistem.

Gajah merupakan ikon dan merupakan salah satu landmark dari provinsi yang terletak paling ujung selatan di Pulai Sumatera ini.

Keberadaan Tugu Gajah di jantung ibu kota menandakan masyarakat Lampung mempunyai keterikatan emosional yang kuat dengan liman, sebutan gajah di masyarakat Lampung. Mari kita jaga dan lindungi satwa untuk tetap berada di habitatnya. [Tri Sugiharti, S. Hut./PEH Madya dan Susan Saputri/PEH Pelaksana pada Balai Besar TNBBS]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda