Opini

Mati Suri Kamus Era Google Translate, Ancaman bagi Perkembangan Bahasa Prancis Mahasiswa

Mati Suri Kamus Era Google Translate, Ancaman bagi Perkembangan Bahasa Prancis Mahasiswa

Setia Rini

Di tengah derasnya arus digitalisasi, salah satu benda yang dulu akrab di meja belajar mahasiswa bahasa asing kini perlahan hilang dari peredaran: kamus. Dulu, membawa kamus besar menjadi semacam simbol kebanggaan mahasiswa bahasa, kini nampaknya jarang sekali terlihat dibawa-bawa oleh mahasiswa bahasa asing.

Padahal dulu zaman saya kuliah, pergi ke kampus dengan menenteng dua Kamus Besar Bahasa Prancis-Indonesia dengan warna sampul nuansa bendera Prancis dan perpaduan kuning dan putih, juga Kamus Besar Bahasa Indonesia-Prancis dengan nuansa sampul merah adalah hal yang membuat saya sangat bangga.

Meskipun berat kedua kamus itu mencapai 1,5 kg, saya dengan gembira menentengnya dari kosan ke Gedung FPBS UPI berjalan kaki dengan jarak sekitar 300 meter. Secuil perjuangan untuk bisa bahasa Prancis pada semasa kuliah dulu.

Namun saat ini kondisinya sudah sangat berbeda. Baik kamus cetak maupun digital tampaknya harus mengalah kepada kecepatan dan kemudahan Google Translate serta berbagai aplikasi terjemahan instan lainnya. Tapi di balik kepraktisan itu, ada harga mahal yang harus dibayar, yaitu menurunnya kemampuan bahasa yang sesungguhnya.

Mahasiswa kini lebih banyak mengandalkan salin-tempel dari hasil terjemahan instan. Banyak dari mereka bahkan tidak benar-benar membaca ulang atau menelaah struktur hasil terjemahan tersebut.

Akibatnya, tulisan-tulisan bahasa Prancis yang dihasilkan menjadi kaku, tidak alami, dan sering kali tidak sesuai kaidah. Tak jarang pula ditemukan penggunaan kata atau ungkapan yang tidak sesuai konteks atau terasa aneh bagi penutur asli.

Lebih jauh lagi, ketergantungan pada aplikasi terjemahan menyebabkan proses belajar kosakata dan gramatika menjadi tumpul. Penggunaan kamus, yang sejatinya mengajak mahasiswa berpikir dan menelaah arti serta fungsi kata dalam berbagai konteks, justru ditinggalkan.

Padahal proses pencarian inilah yang memperkaya pemahaman dan memperkuat daya ingat terhadap bahasa yang sedang dipelajari.

Bagaimana berproses mencari kata yang dimaksud di dalam kamus nampaknya tidak dirasakan oleh mahasiswa bahasa asing saat ini. Rasa penasaran untuk mengetahui arti sebuah kata yang sedang dicari, mengulik kelas kata apakah verba, adjektiva, kata benda atau yang lainnya. Verba transitif ataukah intransitif, genre kata benda maskulin atau feminin.

Kamus memang tidak secepat mesin terjemahan, tapi ia mengajarkan ketekunan, rasa ingin tahu, dan kedalaman berpikir. Sudah saatnya kita merevitalisasi penggunaannya di ruang-ruang kelas dan mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar mendapatkan jawaban, melainkan memahami prosesnya. Karena dalam belajar bahasa, yang penting bukan hanya hasil akhir, tetapi bagaimana kita sampai ke sana. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda