Rombongan FKIP Unila. | Dokumentasi
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Pengenalan bahasa Prancis dalam kunjungan kerja sama internasional FKIP Universitas Lampung (Unila) ke Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, pada Senin, 12 Oktober 2026, menghadirkan pengalaman menarik.
Kaprodi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila, Setia Rini, bertemu dengan seorang mahasiswa bernama Arief yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Prancis, serta mampu menerjemahkan percakapan ke bahasa Inggris di hadapan teman sekelasnya.
Pertemuan tersebut berlangsung ketika Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unila, mengikuti kegiatan berbagi pengetahuan dan pengalaman di kelas mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris semester lima UiTM. Kegiatan itu mengangkat tema multikulturalisme, dengan melibatkan perwakilan bidang bahasa dan seni.
Setia Rini menuturkan, ia mengawali perkenalan menggunakan bahasa Prancis. Di luar dugaan, seorang mahasiswa langsung merespons sapaan tersebut dan menyatakan bahwa dirinya bisa berbicara bahasa Prancis.
“Ketika Madame bilang bonjour, ada satu anak yang langsung menjawab, bonjour, lalu mengatakan je parle français,” ujar Setia Rini.
Ia kemudian berdialog dengan mahasiswa tersebut menggunakan bahasa Prancis. Arief, mahasiswa yang ditemuinya, membantu menerjemahkan percakapan ke bahasa Inggris, sehingga teman-teman sekelasnya dapat mengikuti interaksi itu.
Menurut Setia Rini, kemampuan Arief menjadi kejutan bagi teman-temannya. Mahasiswa tersebut mengungkapkan, bahwa ia mulai mempelajari sejumlah bahasa asing secara mandiri, ketika merasa bosan berada di rumah selama pandemi Covid-19.
Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinan Setia Rini bahwa bahasa Prancis memiliki daya tarik dan peluang yang luas, termasuk di luar lingkungan penutur aslinya.
Ia juga mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa mengenai ketertarikan mempelajari bahasa Prancis dan keinginan mengunjungi Prancis. Respons yang diterimanya sangat positif. Seorang mahasiswa mengaku ingin belajar bahasa Prancis agar dapat berkomunikasi dengan orang Prancis, sementara seorang mahasiswi menyampaikan keinginannya mengunjungi museum di Paris.
“Madam semakin yakin bahwa bahasa Prancis itu peluangnya luar biasa. Banyak orang yang tertarik untuk belajar bahasa Prancis,” ujarnya.
Setia Rini menilai, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa bahasa asing dapat menjadi modal untuk membuka hubungan sosial, memperluas wawasan budaya, dan meningkatkan kesempatan berkolaborasi di tingkat internasional.
Ia berharap mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis Unila tidak hanya mempelajari tata bahasa dan kosakata di ruang kuliah, tetapi juga aktif menggunakan bahasa tersebut dalam interaksi nyata, mengikuti pertukaran mahasiswa, dan mencoba berbagai pengalaman internasional. [Helen Meldiana]

Tinggalkan Komentar Anda