Tanggamus

Mahasiswa KKN Itera Kembangkan Inovasi Pangan Kreatif Berbasis Kulit Manggis di Pekon Payung

Mahasiswa KKN Itera Kembangkan Inovasi Pangan Kreatif Berbasis Kulit Manggis di Pekon Payung

Pengabdian mahasiswa KKN Itera. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Kotaagung – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengembangkan produk pangan kreatif berbasis komoditas lokal manggis melalui inovasi pembuatan kerupuk kulit manggis, teh herbal kulit manggis, dan selai buah manggis.

Inovasi tersebut diperkenalkan kepada masyarakat Pekon Payung, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus, melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang diselenggarakan pada Senin, 10 Agustus 2026, sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, mengurangi limbah pertanian, serta memperkuat pengembangan produk UMKM desa yang inovatif dan berdaya saing.

Inovasi ini berangkat dari potensi buah manggis yang melimpah di Pekon Payung. Selama ini, pemanfaatan manggis masih didominasi pada daging buahnya, sedangkan kulit manggis yang jumlahnya cukup besar sering kali belum dimanfaatkan secara optimal dan berakhir sebagai limbah.

Padahal, kulit manggis memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah.

Melalui proses pembersihan, pengambilan mesokarp (bagian lunak), pencampuran dengan bahan tambahan, hingga pengeringan, kulit manggis dapat diolah menjadi kerupuk yang renyah. Selain itu, kulit manggis juga dimanfaatkan sebagai bahan baku teh herbal yang kaya akan senyawa bioaktif.

Sementara itu, daging buah manggis diolah menjadi selai dengan cita rasa khas yang berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan daerah. Ketiga inovasi tersebut diharapkan mampu menjadi alternatif diversifikasi pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas manggis.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Internal Pengabdian kepada Masyarakat Skema Program Desa Binaan–Kuliah Kerja Nyata (PDB-KKN) Itera yang diketuai oleh Muhammad Rizky Ramanda dengan melibatkan 12 mahasiswa dari berbagai program studi, yaitu Teknologi Pangan, Sains Aktuaria, dan Teknik Elektro.

Dosen Pendamping Lapangan, Yosi Syafitri, berharap program ini dapat terus berlanjut dan berkembang menjadi pendampingan usaha berbasis potensi perkebunan lokal, sekaligus berkontribusi dalam mengurangi limbah pangan (food loss).

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat juga optimistis bahwa Kelompok Wanita Tani (KWT) mampu menerapkan inovasi ini untuk memperkuat pengembangan UMKM di desa. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda