Bincang Kandidat. | Sigit Sopandi

Wartalampung.id – Selama 10 tahun Herman HN menjadi wali kota Bandar Lampung, saya belum pernah sekalipun berjumpa dalam konteks silaturahmi atau mewawancarainya. Peluang itu ada saat saya mengadakan diskusi tentang sanitasi sekitar dua tahun lalu. Bersama lembaga SNV, saya dan teman-teman redaksi mengadakan diskusi itu. Saya ingat itu jelang pemilu 2019.
Saya senang saat jadwal dari protokol Pemerintah Kota Bandar Lampung mengagendakan Herman HN hadir dan membuka acara dan menjadi pembicara pembuka. Saya berharap ia datang. Sebagai sahibul hajat tentu harapan besar tamu yang diundang datang. Sampai hari H pagi hari, masih tertera bahwa yang akan hadir Wali Kota Bandar Lampung Herman HN.
Tempat acara di Kafe Dawiels, di samping lembaga kursus bahasa Inggris, LIA, di Jalan Kartini. Kafe itu sudah berubah nama sekarang. Tapi saya lupa-lupa ingat namanya sekarang apa.
Teman saya semasa SMP dan di kampus jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, Rifky Indrawan alias Apang, sudah datang. Saya tenang. Apang ini tenaga ahli di Pemerintah Kota Bandar Lampung. Lewat dia pula saya menitip undangan. Kata Apang, Pak Herman HN insya Allah datang.
Jelang acara, Apang mendekati saya. “Sorry, Yan, Bapak enggak bisa.” Saya agak lemas. Apang melanjutkan, “Yang datang Pak Sekda Badri Tamam. Sedang meluncur ke lokasi.” Saya mengiyakan dan segera meminta semua panitia bersiap. Pembicara lain sudah siap. Dari SNV ada Nyoman, dari DPRD Bandar Lampung ada Handrie Kurniawan, sejawat saya sejak di SMAN 2 Bandar Lampung hingga kampus. Bang Dicky, dosen MIPA Unila, juga sudah siap.
Sebuah mobil datang dan Badri Tamam masuk ke ruangan. Saya menyambut dengan hangat. Usai berbincang sejenak, acara dimulai dan berakhir dengan khusnul katimah. Saat memberi sambutan mewakili Wali Kota, Badri Tamam menantang saya bikin diskusi rutin bersama Pemkot Bandar Lampung. Saya mengiyakan. Siapa takut.
Dari sinilah akhirnya saya bisa berjumpa Herman HN meski tak disengaja dan hanya lima menit. Ceritanya begini. Beberapa bulan setelah diskusi sanitasi, saya merancang lagi diskusi soal wisata. Saya audiensi langsung dengan Badri Tamam. Waktu dan tema sudah oke. Suatu waktu saya mesti ketemu Badri Tamam untuk memastikan lagi acara.
Saat datang ke Kantor Pemkot Bandar Lampung di Jalan Djuanda samping Hotel Marcopolo, suasana riuh. Rupanya ada Wali Kota Herman HN melihat pelayanan pembuatan KTP dan KK. Saya naik ke ruangan Sekda. Kosong. Rupanya di bawah menemani Wali Kota. Saya turun.
Sampai di anak tangga terakhir saya bersobok dengan Badri Tamam. Tepat di sebelahnya Wali Kota Herman HN. Badri Tamam melihat saya.
Karena sudah amprokan, saya menyalami Herman HN. Salaman pertama. Saya bilang mau ketemu Pak Sekda. Badri Tamam mahfum.
“Ini Pak Sekda. Ada kegiatan apa, Pak Sekda?”
Badri menjawab ada diskusi soal wisata bekerja sama dengan media yang saya kelola ketika itu, jejamo.com.
“Udah semuanya, oke, kan.” Begitu kata Herman HN.
“Sudah siap semua, Pak. Hanya memastikan beberapa hal lain dan supaya agenda Pak Sekda membuka acara bisa diagendakan.” Saya menjawab demikian.
Lima menit kira-kira obrolan saya dengan orang nomor satu di Bandar Lampung itu. Lepas itu, saya pamitan dan kembali menjabat tangannya. Salaman yang kedua.
Jelang Pilgub 2018, sebetulnya ada kans juga bertemu Herman HN. Saya dan lembaga yang saya bikin, Institut Demokrasi Ekonomi dan Agrikultur Lampung (iDeal), bermaksud menggelar bincang kandidat. Sayangnya, Herman HN izin tak hadir. Ia digantikan Rachmat Husen DC, salah satu orang kepercayaannya.
Hari ini Herman HN berpamitan. Tugasnya di periode kedua menjabat wali kota sudah usai. Selamat purnatugas, Pak Herman HN. Semoga sukses dan selalu dalam keberkahan Allah Swt. [Adian Saputra]
