Gufron Azis Fuadi
Hari ini adalah hari pertama kita mengakhiri pertemuan kita dengan bulan Ramadhan yang mulia, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Hari ini bergembira ria dan bersyukur merayakan lebaran atau hari raya Idul Fitri. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw:
“Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan: kegembiraan ketika dia berbuka, dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Tuhan nya”.
(Bukhari n Muslim)
Istilah lebaran yang sudah menasional digunakan, berasal dari bahasa Jawa. Yaitu dari kata lebar yang artinya “sudah” atau “sudah selesai”.
Karena pada hari ini, 1 Syawal, kita sudah menyelesaikan kewajiban berpuasa, mengekang hawa nafsu serta kewajiban membayar zakat fitrah.
Seharusnya Lebaran bukan hanya menyelesaikan suatu kewajiban tetapi juga adalah “leburan” atau melebur.
Yakni meleburnya diri kita kepada berbagai kebaikan yang muncul dibawa oleh keberkahan bulan Ramadhan. Meleburnya
sifat-sifat kebaikan dalam diri kita dan menjauhnya diri kita dari segala sifat angkara seperti dzalim, serakah, suka pamer, menipu dan mengikuti hawa nafsu.
Tetapi hari raya Idul Fitri bukan hanya lebaran. Karena Idul Fitri maknanya adalah suatu kondisi dimana manusia kembali kepada fitrah. Kembali kepada kondisi awal bagaimana manusia diciptakan untuk pertama kalinya. Yaitu sebagai hamba Allah. Bukan hamba kekuasaan, bukan hamba harta dan juga bukan hamba dunia.
Fitrah artinya kondisi awal asal kejadian, seperti saat seorang dilahirkan. Suatu keadaan yang suci dari kesombongan dan keserakahan. Sehingga Idul Fitri (kembali kepada fitrah) dalam bahasa sekarang bisa dipahami sebagai di resetting, di reset ulang atau dikembalikan kepada setelan awal yaitu sebagai muslim.
Rasulullah Saw bersabda:
“Kullu mauludin Yuu ladu alal fitrah, Fa abawahu, Au Yuhawwidanihi Au Yunassiranihi Au Yumajjisanihi”
Artinya:
“Semua anak
dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), Maka orang tuanya (lingkungan)lah yang menjadikannya (anak tersebut) Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (Hr. Muslim).
Oleh karena itu fitrah bukan hanya dimaknai sebagai bersih tanpa noda, tetapi kembali kepada Islam, menjadi hamba Allah sebagai mana untuk apa diciptakan.
Bagaimana setelan/ setting awal manusia diciptakan dan dilahirkan?
Allah Sang Maha Pencipta menjelaskan dalam Al Quran. Pertama, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Sang Maha Pencipta.
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ
“Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz dzariyat: 56)
Kedua, sebagai khalifah (wakil Allah) dimuka bumi yang bertugas untuk memakmurkan bumi. Bukan menghancurkan atau memporak porandakan bumi ini.
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰۤىِٕكَةِ إِنِّی جَاعِلࣱ فِی ٱلۡأَرۡضِ خَلِیفَةࣰۖ قَالُوۤا۟ أَتَجۡعَلُ فِیهَا مَن یُفۡسِدُ فِیهَا وَیَسۡفِكُ ٱلدِّمَاۤءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّیۤ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan (manusia) khalifah di bumi. “Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
[Al-Baqarah: 30]
Ayat pertama menunjukkan visi diciptakan nya manusia. Sedangkan ayat kedua menegaskan misi hidup manusia, yakni sebagai khalifatullah fil ard, yang bertugas memelihara dan memakmurkan bumi, dengan menjaga keseimbangan dan keselarasan semua makhluk hidup di atas muka bumi secara berkeadilan.
Bila visi dan misi ini tidak dipahami dan dilaksanakan dengan baik, maja yang terjadi sudah pasti adalah kekacauan, penindasan serta adi gang, adi gung dan adi guno.
Allahu a’lam bi shawab.
(Gaf)
“Selamat Hari Raya Idul Fitri.”
~Semoga kita termasuk orang orang yang kembali kepada fitrah~

Tinggalkan Komentar Anda