Opini

Kembang Telon

Kembang Telon

Gufron Azis Fuadi

Oleh Gufron Azis Fuadi (Dewan Penasihat DPW PKS Lampung)

Keteraturan hidup adalah fitrah manusia. Oleh karena itu tidak ada satupun sistem hidup didunia ini yang bebas dari aturan.

Sejelek apa pun sebuah sistem, dia pasti punya seperangkat aturan yang mengikat anggotanya. Hidup tidak bisa bebas lepas seperti  dalam lagu Iwa K.

“Sementara tinggalkan semua aturan
yang kadang trlalu mengikat dan tak beralasan, teman…
Memang, memang benar teman
Kita perlu cooling down dan melonggarkan pakaian…

Bebas, lepas… kutinggalkan saja semua beban dihatiku.
Melayang kumelayang jauh
Melayang dan melayang…”

Sejatinya tidak ada kebebasan yang benar benar lepas tanpa kendali. Bahkan ketika seseorang “bisa melayang” di langit lepas, dia tetap terikat dengan arah angin dan hukum gravitasi.

Manusia diciptakan Allah dengan dianugerahi kebebasan yang dibatasi oleh tanggung jawab. Bebas menjadi muslim atau kafir.

Dalam surat Al-Kahf: 29 Allah berfirman: “Dan katakanlah (Muhammad), ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa menghendaki (beriman) biarlah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zalim…”

Dakwah melalui pendekatan kultural budaya salah seorang dari Walisongo menjelaskan hakikat ini dengan sangat apik.

Yakni melalui budaya tradisi kembang telon, tiga serangkai bunga yang sudah lama menjadi tradisi masyarakat  untuk berbagai keperluan terutama masalah spiritualitas. Yaitu bunga atau kembang mawar, kenanga, dan kantil.

Adalah Sunan Kalijaga (Raden Said) yang terkenal dengan strategi dakwah dengan mengutamakan pendekatan kultural (kebudayaan).

Alih-alih menghapus tradisi masyarakat Jawa kuno yang sudah melekat, beliau memilih melakukan akulturasi dengan memasukkan nilai-nilai keislaman dan tauhid ke dalam simbol-simbol lokal.

Melalui kembang telon, beliau menyisipkan sebuah nasihat hidup (pitutur luhur) yang sangat populer dalam filosofi Jawa: “Uripmu mawarno-warno (Mawar), keno ngono keno ngene (Kenanga), nanging atimu kudu kantil (Kantil) marang Gusti.”

Artinya, hidupmu (manusia) bisa bermacam macam warnanya, bisa begitu bisa begini (bebas) tetapi jangan hatimu (hidupmu) tidak bisa lepas (kantil artinya tergantung/melekat) dari pengawasan dan kehendak Tuhan, Gusti Allah.

Manusia diberi kebebasan untuk memilih beriman atau kafir, bebas memilih jalan fujur (maksiat/keji) atau takwa tapi nanti semuanya akan dipertanggung jawabkan pilihannya itu diharapkan Allah. Tetapi karena Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Dia tidak membiarkan manusia memilih sendiri pilihan tersebut tanpa petunjuk.

Dan petunjuk-Nya itu disampaikan melalui seorang Rasul. Yaitu seorang laki-laki pilihan yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk dirinya sendiri dan wajib menyampaikan wahyu tersebut kepada umatnya.

Tujuannya tentu agar manusia tidak salah pilih yang akan berakhir dengan kesengsaraan. Sebab pada akhirnya setiap orang berhadapan dengan konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Makna dalam Kembang Telon melambangkan perjalanan hidup manusia yang penuh warna, kebebasan yang bertanggung jawab, serta keterikatan batin yang kuat kepada Sang Pencipta.

Kembang telon terdiri dari tiga jenis bunga, karena kata “telon” berasal dari kata telu yang artinya tiga.

Ketiga bunga ini mengandung filosofi hidup yang mendalam.

1). Kembang Mawar: Melambangkan uripmu mawarno-warno (kehidupan yang berwarna-warni), menyimbolkan dinamika hidup yang dinamis, indah, namun juga diiringi berbagai macam ujian dan rintangan.

2). Kembang Kenanga: Melambangkan prinsip keno ngono keno ngene (fleksibel dan bebas) serta kenangen ing angga (mengenang budi luhur leluhur), yang berarti manusia memiliki kehendak bebas (free will) untuk melangkah ke mana saja asalkan tetap berada di jalan luhur (kebaikan).

3). Kembang Kantil. Bunga kantil melambangkan kesetiaan. Karena kantil berasal dari kata kumantil yang artinya melekat, terpaut atau nggantung, serta kanthi laku yang mencerminkan tekad kuat untuk menjaga laku utama dan kasih sayang spiritual.

Melalui Kembang telon, diingatkan bahwa meski kehidupan ini penuh lika-liku yang warna-warni dan manusia diberi kebebasan untuk memilih jalannya, tetapi hati kita harus tetap melekat dan terikat alias nyantel kepada Sang Pencipta

Dalam hadits qudsi diriwayatkan: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku…'” (HR. Bukhari).

Ini mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik kepada Allah saat hidup sedang sulit dan Allah akan selalu bersama seseorang yang hatinya kumantil kepada Nya.

Dalam al Quran (At Talaq, 3) Allah menegaskan: “…Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”

Ayat ini adalah perintah untuk selalu kantil atau bergantung (tawakal) kepada Allah di tengah ketidakpastian hidup. Wallahu a’lam bi shawab. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda