Opini

Jangan Lebih Menonjol dari Atasanmu

Jangan Lebih Menonjol dari Atasanmu

Gufron Azis Fuadi

Saya pernah membaca dan menonton cerita atau kisah seorang kaisar yang memecat perdana menterinya.

Bukan karena melakukan kesalahan atau karena tidak cakap dan tidak setia, melainkan justru karena terlalu cakap dalam memimpin pemerintahan dan tangguh dalam mengatur strategi perang, sehingga namanya lebih populer dan lebih harum dari dirinya, sang kaisar.

Kaisar atau pemimpin yang tidak terlalu kuat biasanya memang menghindari memilih bawahan yang terlalu pintar karena takut akan menjadi saingan di masa depan.

Di Jepang, dengan sistem monarki konstitusional, ada aturan yang mengatur agar perdana menteri tidak lebih populer dibanding kaisar Jepang.

Karena bila perdana menteri lebih populer dikhawatirkan dapat mengikis legitimasi kaisar sebagai simbol surga (titisan dewa tertinggi, Amaterasu Omikami), simbol persatuan nasional dan kepala negara.

Perdana menteri yang terlalu menonjol pada gilirannya dapat melemahkan stabilitas politik dan merusak keseimbangan.

Dalam cerita klasik China dikisahkan, suatu hari Raja Huan, penguasa Kerajaan Qi bermaksud menganugerahkan gelar kebangsawanan kepada Guan Zhong, perdana menterinya karena jasa jasanya.

Kemudian dia mengundang para menteri dan penasihatnya untuk didengar pendapatnya.

Setelah menyampaikan maksudnya dia meminta yang setuju untuk berdiri di sebelah kanannya dan yang tidak setuju di sebelah kirinya. Tetapi ada satu orang yang tidak ikut berdiri alias abstain, dialah Dong Guo.

“Dong Guo, mengapa kamu tidak berdiri (abstain), apa maksudmu,” tegur raja Huan kepada peserta yang abstain itu. Maka terjadilah dialog berikut:

“Menurut pendapat Yang Mulia, apakah Guan Zhong mampu memimpin negara ini?”

“Ya, mampu”

“Apakah dia cukup mampu dan kritis untuk melaksanakan sebuah rencana besar?”

“Dia pasti mampu,” kata raja.

“Apakah raja merasa aman bila dia menggabungkan kecakapannya dengan kekuatan penuh yang didapat dari posisi barunya,” lanjut Dong Guo.

“Sekarang, saya tahu maksudmu!”

Kemudian raja men-split jabatan Guan Zhong dan membagi sebagiannya kepada Xi Peng. Sehingga mereka bisa saling mengontrol dan tidak ada yang memonopoli kekuasaan. Equal!

Kontrol dan keseimbangan adalah hal penting dalam suatu struktur organisasi bila ingin mencegah penyalahgunaan kekuasaan.

Bahkan perang pun kadang diperlukan untuk membuat keseimbangan baru, karena tatanan yang lama sudah terlalu njomplang.

Mungkin kita pernah melihat seorang sekretaris atau sekjen organisasi yang sering tampil lebih menonjol dari ketuanya. Pasti sepet kan melihatnya?

Karena seorang sekretaris organisasi biasanya memiliki tugas pokok dalam urusan umum, perencanaan, pengorganisasian (orgainizing), administrasi keuangan, dan keanggotaan atau kepegawaian.

Bukan menonjolkan diri saat seharusnya ketua yang harus tampil. Karena masing masing posisi (baca, jabatan) memiliki tugas yang berbeda. Oleh karena itu setiap orang dengan posisi jabatan tertentu harus membaca dan memahami uraian tugasnya.

Dengan adanya uraian tugas pada setiap bidang atau departemen maka kekhawatiran akan terjadinya monopoli kekuasaan bisa diminimalkan.

Begitupun dengan orang yang terlalu pintar, juga tidak perlu dikhawatirkan. Karena uraian tugas itu biasanya selalu memperhatikan keseimbangan antar bidang dan bahkan saling mengontrol.

Adapun ungkapan, “Terlalu banyak (pintar) kadang sama buruknya dengan terlalu sedikit (kurang pintar)”, berlaku bila organisasi dikelola dengan cara atau manajemen tradisional, bukan dengan cara atau manajemen yang modern.

Seorang pemimpin harus percaya kepada orang yang direkrutnya sebagai staf atau bawahannya. Agar mereka tidak ragu ragu untuk tampil optimal sesuai tupoksinya.

Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda