Berita Foto Nusantara

IPDMIP Lampung Tingkatkan Wawasan Petani

IPDMIP Lampung Tingkatkan Wawasan Petani

Workshop PPL dan Staf Lapang di BPP Tanjung Raya, Brabasan, Kabupaten Mesuji. | Dokumentasi

Workshop PPL dan Staf Lapang di BPP Tanjung Raya, Brabasan, Kabupaten Mesuji. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Mesuji  – Bagi petani di daerah irigasi IPDMIP Proviinsi Lampung, bertambahnya wawasan tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan porduksi. Pengetahuan benih, pupuk, irigasi, alat mesin pertanian (alsintan) dan pengelolaan keuangan merupakan kebutuhan pokok petani.

Demikian kesimpulan kegiatan Workshop peninigkatan Kapasitas Petugas Penyuluh Lapangan dan staf lapangan di kabupaten sasaran IPDMIP Provinsi Lampung yaitu; Kabupaten Mesuji, Tulang Bawang, Tanggamus, Pesawaran, dan hasil diskusi dengan DPIU di Lampung Tengah yang dilaksanakan sejak 5 April hingga 10 April 2021 di masing-masing kabupaten.

Kegiatan workshop (WS) salah satu kegiatan jaring aspirasi para penyuluh dan staf lapang dengan mengidentifikasi permasalahan dan solusi pertanian di wilayahnya yang bertujuan meningkatkan produksi dan pendapatan bagi petani. Pada WS menghadirkan narasumber dari DPIU dan tenaga ahli dari Korwil Reg 3.

“Kedaulatan pangan akan terwujud jika petani milenial kerap diberikan pengetahuan dan mampu mengmplementasikan, khususnya di daerah irigasi sasaran IPDMIP di Provinsi Lampung,” kata Koordinator Konsultan Regional 3 IPDMIP Jawa Barat-Lampung, Ir. Achmad Yusuf, didampingi tenaga ahli Value Chain, Jati Nohanto, saat memberikan materi pada workshop PPL dan Staf Lapang di BPP Tanjung Raya, Brabasan, Kabupaten Mesuji.

Menurut Achmad, Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) merupakan program pemerintah di bidang irigasi yang bertujuan untuk mencapai keberlanjutan sistem irigasi, baik sistem irigasi kewenangan pusat, kewenangan provinsi maupun kewenangan kabupaten.

Upaya ini diharapkan dapat mendukung tercapainya swasembada beras sesuai program Nawacita Pemerintah Indonesia.

“IPDMIP untuk merealisasikan potensi pengurangan kemiskinan pertanian beririgasi. Berdasarkan pengalaman pembangunan irigasi yang telah dilakukan selama ini,” ujarnya.

Disadari terdapat faktor-faktor yang menghambat peningkatan produktivitas petani-penggarap di Indonesia.

“Faktor-faktor tersebut di antaranya; lemahnya kelembagaan petani, air dan irigasi; pemeliharaan prasarana sistem irigasi yang kurang; lemahnya penyuluhan pertanian; terbatasnya akses petani penggarap kepada sumber pembiayaan desa; kepemilikan lahan yang tidak jelas; kesenjangan teknologi, dan potensi komoditas bernilai tinggi yang terabaikan. Wawasan pengetahuan inilah yang harus diberikan petani melalui workshop atau pertemuan-pertemuan peningkatan kapasitas atau ajang bertukar ilmu,” tuturnya.

Nilai Tambah Petani​
Selain peningkatan kapasitas, petani daerah irigasi IPDMIP di Provinsi Lampung butuh kenaikan pendapatan. Selain padi, sangat diperlukan komoditas lain sebagai penambah pendapatan bagi petani.

Menurut Achmad, sebagai negara tropis, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu komoditas pertanian khas tropis yang potensial untuk dikembangkan dan mempunyai prospek cerah pada masa yang akan datang adalah hortikultura.

Staf Lapang sangat tertarik dengan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi untuk menambah pendapatan petani.

“Kami sangat tertarik dan mengembangkan talas. Misalnya, mengembangkan varietas talas pratamayang belum masuk ke Tanggamus, infonya varietas mampu menaikkan nilai tambah petani dengan harga yang bagus di pasaran,” kata Rani Agustin, Staf Lapang Kotaagung Timur, kepada Korwil dan para narasumber yang hadir.

Untuk tanaman bernilai ekonomis tinggi di Tanggamus petani sudah mulai menanam talas beneng yang bekerja sama dengan perusahaan swasta dalam pemasaran hasil panen daunnya, kemudian tanaman porang pun sudah ada dan dikenal sebagian petani Tanggamus dalam mengoptimalkan lahan kering untuk tambahan pendapatan keluarga petani.

“Tanaman talas beneng saat ini ditumpangsarikan dengan kebun pepaya. Saya pun sangat tertarik dengan varietas talas pratama yang saya tahu dari media sosial,” kata salah satu peserta WS, saat diskusi mengenai prospek jika mereka menanam talas pratama di wilayah Kabupaten Tanggamus yang secara geografis dikelilingi pegunungan.

Terkait dengan talas pratama yang saat ini gencar dibudidayakan di wilayah Jawa Barat, khususnya Sumedang, peserta WS DI Tanggamus mengharapkan kepada Tim Konsreg agar membuka akses pembenihan komoditas talas pratama dari Jawa Barat ke Tanggamus.

Dalam diskusi yang cukup menarik tersebut, Tim Konsreg melakukan metode dengan banyak mendengarkan pengalaman petani bersama IPDMIP, dengan sesekali memancing peserta agar lebih banyak berinteraksi saling memberikan pengalaman terbaiknya dalam bertani.

“Kami berusaha mengubah kebiasaan bahwa tidak selalu narasumber memberi ceramah dan teori, tetapi justru ilmu itu berada di peserta yang sudah berpengalaman dalam hal baik buruknya bertani dan yg penting mereka sudah ‘tamat’ urusan untung dan rugi berusaha tani,” ujar Achmad, Korwil Konsreg 3 Jawa Barat Lampung.

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Tanggamus Hasanudin juga mengharapkan petani tidak sekadar menanam, tetapi juga menjadi pedagang agar bisa hidupnya lebih sejahtera.

Peserta workshop meminta kepada pemangku kepentingan, ada kegiatan lanjutan dari pertemuan WS, seperti koperasi yang khusus menangani produksi kelompok secara korporasi atau kemitraan.

“Kami inginkan adanya koperasi khusus produksi yang dilakukan secara korporasi. Itu merupakan aspirasi dari petani di wilayah saya,” kata Didi, PPL Rawajitu Utara, Kabupaten Mesuji.

Dia juga meminta infrastruktur pertanian diperbaiki agar harga angkut tidak mahal, dan penambahan modal koprasi simpan pinjam.

Sementara, Aris Munandar, A. Md. Staf Lapangan DI Way Sebelanga Cikiri BPP Punduh Pidada, sangat antusias dengan kegiatan WS, dan perlu ada kegiatan serupa dalam menambah wawasan dan ilmu untuk petani.

“Kami berharap banyak kegiatan serupa, kalau perlu ada ada seragam biar semangat, dan kegiatan juga bisa lintas kabupaten atau provinsi untuk sharing pengalaman dan ilmu.” ujarnya.

Sementara, Kabid Penyuluhan Provinsi Lampung, selaku PPIU, Halimah, mengharapkan kegiatan IPDMIP saling sinergi dan menginformasikan agar target dan tujuan mewujudkan kedaulatan pangan dapat terwujud. [M Taufik]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda