Kiri ke kanan. Dedy, Adian Saputra, Jamilah, dan Sugiono. | Bhazair Ayuningtyas

Wartalampung.id, Bandar Lampung -Tim Humas Sekolah Islam Terpadu (SIT) Daarul ‘Ilmi Bandar Lampung, Jamilah (Mila) dan Dedy, melakukan silaturahmi ke kantor redaksi wartalampung.id, Selasa, 5/11/2024.
Tim bertemu langsung dengan pemimpin redaksi Adian Saputra dan pemimpin perusahaan Sugiono.
Hadir juga Bhazair Ayuningtyas, reporter magang dari UIN Raden Intan Lampung.
Selain silaturahmi, Tim Humas SIT Daarul ‘Ilmi juga belajar seputar jurnalistik, dan pentingnya pemberitaan bagi lembaga pendidikan.
“Pemberitaan untuk sekolah atau lembaga apa pun saya katakan sifatnya wajib. Karena di sanalah kita membangun citra baik di masyarakat, yang akhirnya akan menambah kepercayaan masyarakat terhadap lembaga,” kata Adian Saputra.
Adian menuturkan peran Humas sangat penting di lembaga pendidikan.
“Sejak ada Mila di sana tahun 2017, banyak kegiatan-kegiatan di SIT Daarul ‘Ilmi dimuat di sini. Dulu banyak revisiannya, sekarang dia sudah bisa edit sendiri jadi kami tinggak memoles sedikit dan unggah,” katanya.
Adian yang juga dosen mata kuliah Peminatan Jurnalisme di Prodi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila ini juga menambahkan wartalampung.id sendiri saat ini hanya dikelola oleh tiga orang.
“Tanggal 1 November yang lalu, pas empat tahun wartalampung.id berdiri.”
Adian juga memberikan tiga bekal bagi Humas. Yakni kesediaan untuk terus membaca, mencari referensi, dan membangun relasi dengan banyak pihak.
“Membaca buku-buku yang menunjang kemampuan kita, melihat referensi wartawan-wartawan senior melalui siniar (podcast) dan bangun relasi dengan berbagai pihak. Dengan ketiganya kita akan banyak ide dalam menentukan angle berita,” kata Adian.
Dia juga memberi contoh sosok jurnalis hebat di Indonesia, Karni Ilyas. Jurnalis senior asal Sumatera Barat itu memiliki spesialisasi di bidang politik dan hukum. Ia menunjukkan biografi Karni Ilyas, Lahir untuk Berita karya Fenty Effendy.
Adian menceritakan, dalam satu kesempatan Karni ditanya sama salah satu keluarga.
“Karni, kalau sudah besar, kamu mau jadi apa?”
Karni menjawab “Saya mau jadi wartawan karena saya ingin terkenal.”
Usai lulus SMEA di Padang, Karni merantau ke Jakarta dan bekerja di media massa pertamanya, koran Suara Karya.
Tentu perjuangannya tidak mudah karena tahun 1970-an koran-koran di Jakarta sudah menjadikan standar lulusan jurnalis itu sarjana.
Adian menyarankan agar buku itu dibaca. Silaturahmi ditutup dengan foto bersama. []

Tinggalkan Komentar Anda