Opini

Hari Lansia Nasional, Mengenal Dakwah Kultural Walisongo tentang Fase Kehidupan Manusia

Hari Lansia Nasional, Mengenal Dakwah Kultural Walisongo tentang Fase Kehidupan Manusia

Gufron Azis Fuadi

Jumat kemarin, 29 Mei diminta menggantikan teman yang sedang menunaikan ibadah haji untuk khutbah disebuah masjid. Tanpa saya sadari tema yang saya bawakan, tentang perjalanan hidup anak manusia dengan menekankan pada bagaimana menggunakan bonus umur diatas 60 tahun.

Hal ini terkait dengan sabda Rasulullah Saw: “Allah memberi udzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajal kematiannya, hingga sampai usia 60 tahun.” (HR. Bukhari 6419)

Setelah shalat Jum’at ada yang bertanya, kok tumben membahas tema umur lansia apa karena hari ini “Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN)?

Terus terang saya malah nggak ngeh kalau ternyata tanggal 29 Mei adalah hari Lansia. Tanggal tersebut mengambil momentum dari kiprah seorang lansia yang dipilih menjadi ketua BPUPKI dan membuka sidang pertamanya pada tanggal 29 Mei 1945 kemudian mengajukan pertanyaan krusial, “Apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?”. Saat itu pak Radjiman tepat berusia 66 tahun lebih 1 bulan.

Seseorang yang berusia 60-69 tahun disebut lansia muda. Usia 70-79 disebut Lansia madya dan usia 80-89 disebut Lansia paripurna. Di atas ini disebut paripurna kencana. Sedangkan 50-60 disebut pra-lansia.

Apa pun itu, usia lansia adalah siklus terakhir dalam kehidupan manusia. Ini yang harus disadari oleh, terutama, para lansia. Sehingga tidak seharusnya banyak polah.

Karena tanda tanda kematian sudah Allah kirimkan seperti, uban sudah bertabur, pandangan mata mulai kabur, gigi mulai gugur, kulit juga mulai kendur dan sebagainya. Hal ini Allah inginkan dalam firman Nya:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Artinya: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Rum: 54)

Ayat di atas diajarkan oleh Walisongo kepada masyarakat sebagai falsafah kehidupan dalam bentuk tembang atau mocopat.

Tembang macapat terkait dengan hal tersebut ada sebelas jenis yang ditulis oleh beberapa Walisongo, yaitu maskumambang, mijil, sinom, kinanti, asmarandana, gambuh, dhandhanggula, durma, pangkur, megatruh, dan pucung.

Penanaman nilai agama dalam bentuk tembang adalah bagian dari gerakan dakwah kultural disamping model dajwah yang lain. Berikut gambaran singkatnya:

Fase awal kehidupan

1). Maskumambabang (Sunan Kudus), manusia masih berupa janin yang kemambang atau terapung di dalam rahim ibunya.

2). Mijil (Sunan Kudus). Mijil artinya keluar atau lahir dari rahim. Bayi yang baru lahir tentunya sangat lemah dan belum bisa apa apa.

3). Kinanti (Sunan Muria), adalah masa kanak-kanak yang membutuhkan bimbingan dan tuntunan. Maka pada fase ini anak akan selalu ngintili orang tuanya kemanapun. Kinanti artinya dituntun atau dibimbing. Dari kata dasar “kanthi”, yang bermakna tuntunan, bimbingan, atau berjalan bersama.

Fase remaja dan dewasa

4). Sinom (Sunan Muria), adalah masa remaja. Diawali dengan mulai lebih senang berkumpul dengan teman-temannya dan mulai sulit diajak pergi bersama orang tua nya. Sudah mulai mengenal cinta monyet, biasanya setelah usia 10 tahunan.

Saat anak duduk dikelas 5 atau 6 SD, umur 11 tahun. Maka sebutan untuk bilangan 11 adalah “sewelas” karena sudah mulai mengenal welas atau cinta kasih pada lawan jenis.

5). Asmarandana (Sunan Giri), adalah fase mengenal cinta lebih serius dan mulai membayangkan berumah tangga. Kisarannya pada usia 17-24 tahun.

6). Gambuh (Sunan Giri), adalah fase menemukan pasangan yang cocok atau sesuai untuk. Gambuh artinya cocok. Masa mulai menikah, umuran di atas 21 sampai 30 tahun.

Fase kemapanan

7). Dhandhang gula (Sunan Kalijaga). Dhandhang adalah harapan, cita cita bahkan ambisi kehidupan yang manis dan indah. Dalam fase ini seseorang sudah mulai punya pekerjaan, punya uang, punya kedudukan selain anak dan istri.

Ini kisaran umur 30-40 tahun. Bedakan dhandhang dengan dandang atau se’eng, periuk alat masak.

8). Durma (Sunan Bonang). Durma singkatan dari munduring tatakrama. Ini adalah masa melebarkan sayap meraih ambisi sehingga sering menerabas aturan dan tatakrama untuk mencapai keinginannya. Ini kisaran umur 40-50 tahun.

Tentang masa ini, Rasulullah Saw mengingatkan: “Barang siapa yang mencapai usia 40 tahun, maka hendaknya ia bersiap-siap masuk neraka.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Para ulama menjelaskan makna hadits ini sebagai peringatan keras. Jika seseorang telah berusia 40 tahun namun keburukannya masih lebih banyak daripada kebaikannya, ia berada dalam bahaya. Maka berhati-hatilah!

Sebaliknya kata ulama yang setelah 40 semakin taat Allah akan memberikan rezeki inabah  yaitu kembali ke jalan-Nya (jalan kebaikan) pada usia 60 tahun.

Fase akhir kehidupan
9). Pangkur (Sunan Derajat), artinya mundur. Masa mulai kemunduran fisik, mulai mundur dari urusan duniawi, serta fokus bersedekah dan mengendalikan hawa nafsu. Masa ini, menuruti hawa nafsu, tidak seimbang antara pengorbanan dengan hasilnya.

Kata orang Cilacap, ora sumbut. Karena, “hayang tapi leuleus”. Karena umur (50-60) tidak bisa dibohongi, maka harus sadar bahwa sudah saatnya atret.

10). Megat-ruh (Sunan Giri Prapen, cucu Sunan Giri) artinya berpisahnya jasad dengan ruh. Rasulullah Saw bersabda: “Usia umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sedikit sekali di antara mereka yang memiuh (melewati) angka tersebut.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dalam hadits lain disebutkan, “Allah memberi udzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajal kematiannya, hingga sampai usia 60 tahun.” (HR. Bukhari 6419)

Umur di atas 60 tahun adalah bonus, karenanya Allah tidak lagi mentolerir atau tidak menerima alasan mengapa lansia tidak taat dan tetap bergelimang kemaksiatan.

11). Pocung (Sunan Gunungjati) atau pocong adalah masa akhir kehidupan. Mati adalah kepastian.

Karena setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Al Ankabut, 57) Bagaimana kita mati, salah satunya ditentukan dengan bagaimana perilaku kita saat sudah berusia 40 tahun.

Ulama tasawuf mengatakan bahwa banyak perilaku baik (shalih) akan memancing rejeki inabah dimasa akhir hayat.

Inabah adalah proses kembalinya seorang hamba dari jalan yang menjauhi Allah menuju jalan yang mendekat kepada-Nya. Inabah mirip dengan taubat, tetapi berada satu tingkat di atas taubat biasa; jika taubat didasari rasa takut akan siksa neraka, inabah didasari kerinduan dan kecintaan yang mendalam kepada Allah Swt.

Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda