Pasar Untung. | I Putu Doni Marantino

Wartalampung.id, Bandar Lampung – UMKM menjadi hal yang rentan untuk terkena imbas pandemisetelah diberlakukannya kebijakan PPKM oleh pemerintah.
Halimah, 52 tahun, menghabiskan setengah hidupnya sebagai pengusaha UMKM di Pasar Untung, Bandar Lampung.
Ia berjualan sejak tahun 1998 sebagai penjual bahan pokok atau sembako. Ia berjualan dari terbitnya fajar hingga sore hari.
Biasanya orang hilir mudik untuk membeli dagangannya, sehingga tak jarang ia dapat pulang lebih awal.
Namun semenjak diberlakukannya kebijakan PPKM, dagangannya menjadi sepi pelanggan. Ia mengakui omzet penjualannya menurun secara signifikan.
Ia bercerita, banyak kehilangan pelanggan setianya. Harga yang melonjak tinggi, serta menurunnya pendapatan masyarakat menjadi indikator penting mengapa Halimah kehilangan pelanggannya.
“Biasanya saya bisa bawa pulang Rp500 ribu-Rp1 juta per hari, sekarang Rp300 ribu alhamdulillah. Sudah saya kurangi jatah pembelian dari tengkulak, biasanya saya ambil beras 100 kg, sekarang 50 kg saja belum tentu habis,” tambah Halimah, Kamis, 9/9/2021.
Halimah adalah seorang istri yang membiayai sekolah ketiga anaknya. Ia khawatir tak dapat melanjutkan membayar biaya sekolah anak-anaknya sementara suaminya hanya seorang pekerja serabutan.
Ia tak tahu harus bagaimana karena omzetnya kian hari kian menurun. Sementara biaya sekolah harus tetap dibayar.
Ia bercerita, sekarang ia harus pintar-pintar mengatur pengeluaran agar tetap bisa memenuhi kebutuhannya.
“Saya bingung, jangankan bayar sekolah anak, untuk makan dan kebutuhan sehari-hari saja ketar-ketir. Suami juga kadang dapat uang, kadang nggak.”
Kini Halimah mesti pintar putar otak. Bagaimana caranya bisa cukup untuk menutup semua biaya hidup,” tambah Halimah. [I Putu Doni Marantino, Mahasiswa Komunikasi FISIP UBL]
