Sely Anjelina dan Melisa
Oleh Melisa dan Sely Anjelina
Pada tulisan generasi guava sebelumnya, penulis mengatakan sangat kontra ketika generasi Z dikatakan sebagai generasi stroberi, yang dikenal terlihat indah menarik seperti halnya stroberi yang indah dan sangat menarik dari luar, namun sangat mudah busuk dan rusak.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa generasi Z adalah generasi yang dikenal kreatif, tapi lembek, cepat menyerah. Dan ada juga yang menuliskan bahwa di balik keterbukaan pemikiran dan masalnya informasi dan pengetahuan yang sangat terbuka, generasi ini telah rusak bukan hanya dari segi fisik, namun juga dari dalam, mental dan pemikiran.
Tanpa kita melihat apa saja yang sudah dilalui oleh generasi z, sehingga generasi ini banyak yang mengalami kelelahan mental dan pemikiran yang sering kita sebut burnout.
Burnout menurut Maslach dan Jackson (dalam Guilermoet, 2015) adalah masalah kesehatan kerja dan produktivitas kerja dengan prevalensi kejadian yang terus meningkat sehingga memerlukan perhatian serius dari para pemangku kepentingan.
Burnout muncul ketika seseorang merasa ada ketidaksesuaian antara apa yang diperoleh dengan apa yang diharapkan sehingga menyebabkan berkurangnya konsentrasi dan munculnya perilaku negatif yang dapat mengakibatkan kurangnya dedikasi, komitmen, dan kinerja (Ur Rehman et al., 2017).
Hal ini diperkuat dengan bukti empiris bahwa burnout dapat merusak sumber daya yang dimiliki, termasuk kinerja (Samad, 2011). Berdasarkan faktor-faktor yang menjadi faktor penentu burn out yaitu ketidaksesuaian antara apa yang diperoleh dengan apa yang diharapkan.
Hal ini sangat erat kaitannya dengan teori motivasi yaitu teori harapan. Teori ini menyatakan bahwa ketika hasil yang diperoleh seseorang tidak sesuai dengan yang diharapkan maka dapat mempengaruhi kinerja.
Burnout tidak hanya terjadi di tempat kerja, tetapi juga di lingkungan akademik, di mana mahasiswa sering dihadapkan pada tuntutan akademik yang tinggi. Banyak mahasiswa dari generasi Z yang harus berjuang untuk menyeimbangkan antara tekanan akademik, kehidupan pribadi, dan ekspektasi sosial.
Tuntutan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi, dikombinasikan dengan kebutuhan untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan ekstrakurikuler, menciptakan beban yang besar bagi banyak mahasiswa. Seringkali, tekanan ini diperburuk oleh perasaan harus selalu “berhasil” dan memenuhi standar yang sangat tinggi, baik dari diri sendiri, orang tua, maupun masyarakat sekitar.
Jika kita lihat sejarahnya mulai dari generasi Z ini menduduki bangku sekolah menengah atas (SMA), yaitu baru diterapkannya K13 yang awalnya menggunakan kurikulum 2006 atau biasa disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Pada kurikulum ini, guru dituntut mampu mengembangkan sendiri silabus dan penilaian sesuai kondisi sekolah dan daerahnya. Karena memang yang mengetahui kondisi dan situasi siswanya adalah guru yang bersangkutan.
Kemudian pada tahun 2013 baru dimulainya kurikulum K13, tentu saja generasi ini yang sangat merasakan dampak dari perubahan kurikulum tersebut karena generasi Z, yaitu orang yang kelahiran 1997-2012.
Ini berarti generasi Z baru menduduki bangka di tingkat SMA. Di dalam kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi-materi yang banyak dirampingkan atau dibuat ringkas.
Dengan materi yang tidak terlalu padat. Yang mana belajarnya hanya berpatokan kepada lembar kerja siswa (LKS).
Tidak hanya itu, setelah memasuki bangku perkuliahan, dunia ternyata tidak baik-baik saja. Kita mengalami suatu bencana yang sangat mematikan yaitu adanya covid-19 yang dampaknya bukan hanya indonesia yang merasakan akan tetapi seluruh dunia.
Pada tahun 2020, mulai bulan Maret diterapkannya work from home, semua aktivitas dilakukan dari rumah. Bekerja, sekolah, dan kuliah dilakukan secara daring. Tentu saja ada perbedaan melakukan belajar di sekolah yang dapat pendampingan dari guru/dosen yang berkaitan dengan ilmu tersebut dibanding dengan belajar sendiri atau dilakukan secara daring.
Pada momentum ini, pelajar tidak sepenuhnya mendapat sistem dukungan dari dosen dan juga teman sebaya. Tidak bisa dipungkiri generasi Z mengalami kebingungan dari proses belajar secara daring ini. Kuliah secara online dan wisuda secara online.
Generasi Z, generasi yang lahir di era digital dan tumbuh dengan teknologi AI yang semakin canggih. Mereka menganggap AI sebagai alat yang dapat meningkatkan produktivitas dan kreativitas mereka.
Mereka juga lebih percaya dan nyaman dengan AI daripada generasi sebelumnya. Mereka sadar akan manfaat dan potensi AI untuk membantu mereka menyelesaikan berbagai masalah dan tantangan di masa depan.
Namun, hal ini membuat mereka menjadi ketergantungan terhadap AI. AI juga dapat menyebabkan ketergantungan manusia pada teknologi.
Karena generasi Z ini adalah generasi pengguna teknologi yang mahir dan terhubung secara daring sejak dini.
Sejumlah penelitian menunjukkan, teknologi, termasuk AI, dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku individu. Misalnya, penggunaan teknologi secara berlebihan telah dikaitkan dengan penurunan kemampuan konsentrasi, berpikir kritis, dan kreatif (Johnson & Kress, 2019).
Ketergantungan yang berlebihan pada AI dapat membuat seseorang cenderung mengandalkan teknologi untuk mendapatkan jawaban yang cepat dan akurat, alih-alih melakukan pemikiran mendalam dan eksploratif.
Hal ini dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif mereka, yang merupakan komponen utama dari pola pikir cerdas. Pengguna AI merasa bahwa terlalu bergantung pada aplikasi ini dapat membuat mereka malas untuk mencari solusi kreatif dan inovatif.
Sebagai contoh, dalam satu kelompok diskusi, seorang mahasiswa menyatakan, “AI membuat segalanya terlalu mudah, dan saya merasa kurang termotivasi untuk berpikir di luar kotak karena AI selalu memberi saya jawaban yang saya butuhkan.”
Temuan ini menyoroti kebutuhan akan keseimbangan dalam penggunaan AI. Seperti yang diungkapkan oleh Buchanan et al. (2020), penting bagi mahasiswa untuk tetap terlibat dalam proses pembelajaran aktif yang menantang mereka untuk berpikir secara mendalam dan kritis. AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu yang memperkaya pembelajaran, bukan sebagai pengganti pemikiran manusia.
Selain itu, AI juga berpotensi mempengaruhi interaksi sosial dan kolaborasi di antara mahasiswa dengan dosen atau siswa dengan guru. Dalam lingkungan pembelajaran tradisional, diskusi kelompok dan interaksi tatap muka sering menjadi sarana penting bagi pengembangan keterampilan sosial dan kemampuan berpikir kritis.
Namun, dengan adanya AI yang dapat menyediakan jawaban dan solusi secara instan, mahasiswa mungkin menjadi kurang termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi dan kolaborasi. Hal ini dapat mengurangi kesempatan mereka untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang diperlukan dalam dunia kerja dan kehidupan sosial mereka kelak
Pada saat memasuki dunia kerja, generasi guava terdapat permasalahan, yang mana pada saat ini diterapkannya efisiensi, banyak pengurangan karyawan karena diangkap generasi Z kurang mumpuni dalam bekerja, dampak efisiensi ini juga banyak instansi menerapkan kerja dari rumah,
Untuk mengatasi permasalahan ini, generasi Z harus banyak mengasah softskill, terus belajar dan terus mencoba, butuh dukungan dari orang sekitar dari teman dan juga dari keluarga untuk menjadi support sistem yang baik bagi generasi guava.
Generasi Z merupakan generasi yang akan mendominasi dunia kerja pada masa depan. Bloomberg of United Nation memberi label generasi Z sebagai generasi realism inovative dan mandiri.
Penguatan soft skill menjadi penting bagi generasi Z sebagai bekal untuk menghadapi perkembangan zaman. Soft skill menjadi penting bagi generasi Z karena dalam salah satu laporan World Economic Forum menyebutkan jika 80% skill yang diperlukan tenaga kerja untuk dapat bersaing dalam era industri 4.0 adalah penguasaan soft skill, sedangkan sisanya merupakan technical skill.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Bappenas) menyebut fenomena generasi z banyak dipecat dari pekerjaan karena kaitannya dengan soft skill yang masih kurang. Kebutuhan dunia kerja yang semakin menuntut kereativitas dan membutuhkan banyak kolaborasi dengan berbagai pihak.
Maka itu, generasi Z tidak hanya dituntut untuk memiliki kecerdasan teknologi, tetapi juga kecerdasan interpersonal. Namun dalam penanaman soft skill yang mencakup karakter inti manusia seperti kreativitas, imajinasi, intuisi, emosi, dan etik membutuhkan waktu yang panjang. Hal ini tidak bisa dilakukan hanya dengan sekejap .
Dari pemerintah melakukan pembinaan untuk mengasah generasi muda untuk menyongsong generasi emas 2045. Pemerintah memiliki peran penting dalam membimbing generasi Z yang seringkali dicap “malas” untuk menjadi lebih produktif dan berkontribusi pada pembangunan.
Pemerintah dapat melakukan beberapa hal, termasuk meningkatkan kualitas pendidikan, menyediakan lapangan kerja yang sesuai, serta memberikan edukasi dan pelatihan yang relevan. Selain itu, pemerintah juga perlu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan generasi Z dengan mendorong inovasi dan inklusi. []

Tinggalkan Komentar Anda