Mujiono penjual batagor. | I Putu Doni Marantino

Wartalampung.id, Seputih Banyak – Mujiono adalah salah seorang penggerak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terdampak pandemi. Ia saban hari berjualan batagor.
Gara-gara virus Wuhan, China, ini, usahanya makin gempor.
“Penjualan sekarang enggak ramai seperti dulu,” tutur pria paruh baya tersebut, Senin, 20/9/2021.
Sebelum pandemi, Mujiono biasa bekerja pagi dan sore hari. Namun setelah pandemi ia hanya berjualan sekali jalan.
Ia awalnya berjualan di sekitar sekolah di Dusun Sukabayu, Desa Siswobangun, Kecamatan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah.
Namun setelah pandemi dan sekolah diliburkan ia hanya dapat berjualan di sekitar perumahan.
Mujiono mengaku penghasilannya menurun drastis setelah adanya PPKM. Pandemi benar-benar memengaruhi penghasilan yang ia dapatkan.
“Biasanya saya bisa dapat Rp200 ribu-Rp300 ribu, sekarang Rp150 ribu kadang juga Rp100 ribu,” jelasnya.
Sebelum pandemi ia bisa menjual ratusan porsi batagor dalam sehari. Namun setelah adanya pandemi ia bahkan tidak dapat menjual lebih dari 100 porsi.
“Dulu siang saja bisa habis seratus porsi, sekarang sampai sore tidak sampai 100 porsi,” tambah Mujiono.
Ia mengakui bahwa saat ini ia hanya bisa bersabar atas pandemi yang terjadi. Sebab penghasilannya jauh berbeda dengan yang sebelumnya ia dapatkan.
Permasalahan penurunan tingkat pendapatan menjadi kekhawatiran bagi pelaku usaha.
Mujiono khawatir jika situasi ini berlangsung lama akan menyebabkan penurunan keuntungan dan gulung tikar. [I Putu Doni Marantino, Mahasiswa komunikasi FISIP UBL]
