Hasbullah. | Dokumentasi

Hasbullah, Dosen UMPRI /Pendiri Tadarus Kehidupan
Pergantian dalam tubuh elite Islam sebenarnya sudah menjadi keniscayaan. Seperti munculnya tokoh-tokoh muda dalam kalangan Islam merupakan hal yang wajar. Sebab, tidak dipungkiri bahwa akan terjadi regerasi dalam menahkodai keteladanan dalam Islam itu sendiri.
Kehadirian elite Islam baru-baru ini memperlihatkan karakter dan corak tersendiri. Hal ini dipandang sebagai bentuk ketebaruan dan kemajuan di sebagaikan kalangan.
Namun di sebagian kalangan juga mengatakan corak dan karakter itu sendiri bisa merusak tatanan kearifan Islam yang telah dibangun selama ini.
Di sinilah ujian keberadaan elite Islam dimulai. Padangan yang berbeda ini merupakan kewajaran dalam padangan pertumbahan keterbaruan pemikiran, gerakan, karakter serta dinamika.
Sebab, bisa jadi kehadiran elite Islam baru di Indonesia akan mengganggu kekuasaan politik yang telah berjalan. Kenyamanan elite Islam yang ada juga secara otomatis terganggung, baik itu eksistensi maupun kedudukan politik.
Karena secara politik akan menjadi pesaing baru dalam menggerakan politik, baik itu praktis maupun teori. Sebenarnya padangan inilah yang selama ini menjadi merusak nilai-nilai keIslaman secara muamalah awalnya dan selanjutnya akan merusak nilai akidah, ibadah, dan akhlak.
Sehingga Islam menjadi asing di rumahnya sendiri dan tidak menghadirkan kenyamanan dikarenakan elite-elite Islam melakukan kebiasaan di luar kebiasaan dan nalar Islam demi kekuasaan dan eksistensi pribadi.
Semestinya kehadiran elite-elite Islam ini diorganisasikan sehingga menjadi kolektif yang memiliki kesamaan dalam tujuan walaupun gerakan berbeda. Di mana setiap gerakan akan dipertanggung jawabkan bersama, menjadi kekuatan bersama dan keberhasilan bersama bukan sendiri.
Keberadaan elite Islam memiliki fungsi yang jelas dalam kehidupan politik kekuasaan yaitu untuk menghidupkan kebaikan Islam dalam kekuasaan.
Sehinga elite Islam perlu menata, menyusun serta mendesain usaha-usaha yang akan dilakukan secara untuk tercapainnya tujuan kekuasaan politik dalam pandangan Islam. Sebab politik kekuasaan adalah media dakwah risalah keIslaman.
Penting kiranya seluruh elite Islam dengan bersama mampu beradaptasi dengan keadaan iklim politik, ekonomi, sosial, budaya bahkan media. Di sini setiap elite Islam akan dengan sendirinya membuat serta mengembangkan alat dan metode dakwah dalam rangka mewujudkan tujuan Islam dalam kekuasaan politik.
Ini yang perlu diakui bahwa selama ini elit Islam masih gengsi untuk bersatu serta menyatu. Egois keilmuan dan kepentingan menutupi segala potensi yang dimiliki para elite Islam.
Akhirnya dengan mudah diporak-porakdakan oleh pemikiran- pemikiran yang tidak menyukai kebangkitan pemikiran politik Islam. Dan parahnya lagi ketidaksukaan itu hadir dari kalangan elite Islam itu sendiri.
Hal ini dapat kita lihat diberbagai kejadian selama ini, Islam dipermalukan oleh orang Islam sendiri. Dalam pandangan politik kekuasaan di Indonesia, elite Islam secara kolektif harus mengintergratifkan semua usaha pada nilai-nilai kebaikan bersama.
Bahwa selama ini persoalan yang sering menjatuhkan elite Islam dalam perhelatan politik adalah pesoalan perilaku, dalam hal ini buruknya moral. Kebaikan di setiap kata dan tindakan itulah yang akan menjadikan nilai tersendiri bagi elite Islam hari ini.
Diakui atau tidak, konsumen dari keberadaan elite Islam itu sendiri bukan dari kalangan umat Islam saja, melainkan orang yang ada di luar Islam.
Konsumen di luar Islam inilah harus disajikan menu-menu moral yang anggun, menyejukkan, menentramkan dan pantas untuk dijadikan suri teladan.
Bagaimanpun politik kekuasaan di Indonesia, menjadikan moralitas sebagai kunci utama keberhasilan tanpa memandang agama, ras, suku, dan golongan.
Elite yang merupakan kumpulan individu pemiliki keunggulan dituntut menjadi orang yang memiliki kepedulian tinggi. Dalam hal ini respons cepat terhadap persoalan yang menghampiri umat Islam, baik itu persoalan yang bersifat internal maupun eksternal.
Sebab nantinya umatlah yang akan menjadi penentu keberadaan elite Islam dalam wadah politik untuk menyukseskan kekuasaan.
Secara sosial umat Islam sudah harus dipastikan lebih baik dengan keberadaan elite Islam itu sendiri. Sebab, pembinaan terhadap kehidupan umat dalam hal ini politik sudah pada tataran implementasi serta penguatan.
Maka kehadiran elite-elite Islam dalam kancah kekuasaan politik di Indonesia sudah menjadi keharusan. Keberadaan elite ini juga harus dibuktikan dengan aksi nyata yaitu mengatur semua keberagaman pola orentasi dari organisasi Islam yang ada dalam kancah politik.
Elite Islam memiliki tugas dan tanggung jawab mengatur irama sehingga gerakan politik kekuasaan realitis dan dapat diukur. Egois keilmuan dan kepentingan sepihak sudah semestinya ditanggalkan untuk kepentingan besar Islam yaitu menghadirkan Islam rahmatan lilallamiin melalui politik kekuasaan.
Keberagaman kemampuan dan potensi elite Islam ini akan dengan mudah sebenarnya beradaptasi dalam percepatan perubahan yang terjadi dalam politik kekuasaan.
Kunci lain yaitu sumbedaya alam Islam di Indoensia sangat kuat dan besar. Dan sebenarnya perubahan politik kekuasaan di Indonesia memiliki rekam jejak yang sama dan masyarakat Indonesia pun memiliki perilaku sama dalam merespons politik kekuasaan selama ini.
Di sinilah peran elite Islam memainkan diri sebagai orang yang mampu memengaruhi individu-individu, baik itu umat Islam dan atau di luar Islam.
Sementara elite Islam yang ada di dalam kekuasaan, melakukan perjuangan untuk memengaruhi kebijakan serta keputusan penguasa sehingga tidak merugikan dan melemahkan umat Islam dalam bidang apa pun.
Selain itu perlu kiranya elite Islam juga menghadirkan figur Islam, secara nilai memiliki jiwa kepemimpinan yang dinamis, responsif, berpikir maju dan berkembang untuk kemajuan kehidupan keumatan, kebangsaan dan kenegaraan.
Akhirnya elite Islam dalam kancah kekuasaaln politik di Indonesia adalah imam dalam membaca peta kehidupan berbangsa dan bernegara yang begitu kompleks. Sehingga elite Islam harus berani tampil dengan maksimal, memiliki visi misi luas, ketajaman dan kontruksi pemikiran yang kuat, keteduhan dalam berkatan serta memiliki benteng diri yang kokoh dalam menghadapi dinamika politik kekuasan. []
