Mancanegara

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unila Destiani Pengajar Tamu di Vanuatu

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unila Destiani Pengajar Tamu di Vanuatu

Destiani

Wartalampung.id, Vanuatu – Destiani, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Lampung (Unila), yang saat ini menempuh studi doktoral di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kembali mencatatkan pengalaman internasionalnya.

Desti—sapaan akrabnya—berkesempatan mengajar di Vanuatu saat mengikuti Program Guru Bantu di Australia (28—29 November 2025). Di bawah koordinasi KBRI Canberra, ia ditugaskan oleh Atdikbud Canberra, Yuli Rahmawati, untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia selama dua hari di negara tersebut.

Penugasan ini menjadi wujud kontribusi nyata Desti dalam memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat global.

Pada hari pertama, Jumat, 28 November 2025, Destiani mengajar tiga sesi dengan materi pengenalan alfabet dalam bahasa Indonesia, angka, serta perkenalan diri. Pada sesi mengenalkan huruf, para pemelajar diajak memahami pelafalan vokal dan konsonan melalui metode yang menyenangkan, seperti bernyanyi, permainan fonetik, dan latihan melafalkan huruf sesuai standar bahasa Indonesia.

Selanjutnya, untuk materi angka 1 hingga 10, Desti menerapkan game hunter yang membuat seluruh kelas meski berjumlah besar, tetap aktif dan antusias. Pada sesi perkenalan diri, ia memperkenalkan kosakata sederhana, seperti nama saya, asal saya dari, dan hobi saya.

Para pemelajar lalu diminta menulis paragraf singkat dan mempraktikkannya secara lisan.

Kegiatan berlanjut pada hari kedua, Sabtu, 29 November 2025, dengan mereviu materi sebelumnya serta mengenalkan berbagai salam dalam bahasa Indonesia, seperti selamat pagi, siang, sore, dan malam.

Agar suasana tetap hidup, pengajaran kembali dibalut dengan permainan interaktif. Bersama tim pengajar lainnya, Desti berbagi tugas: ia mengajar bahasa Indonesia, sementara rekan-rekannya mengenalkan budaya Indonesia, termasuk lagu Soleram, cerita rakyat Malin Kundang, serta kegiatan membuat wayang kertas.

Para pemelajar juga diajak menari tarian Papua sambil mengenal kosakata gerak, seperti ke kanan, ke kiri, berputar, dan maju.

Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 40 peserta itu turut disaksikan Atdikbud Canberra, Yuli Rahmawati, yang juga memperkenalkan dua beasiswa dari Indonesia, yakni TIAS (The Indonesian AID Scholarship) dan KNB (Kemitraan Negara Berkembang).

Ia menegaskan bahwa peluang belajar di Indonesia kini semakin terbuka luas, terlebih setelah bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi kesepuluh dalam Sidang Umum UNESCO.

Melalui kegiatan ini, bahasa dan budaya Indonesia semakin dikenal luas, sementara kontribusi akademisi muda seperti Destiani menjadi bagian penting dari diplomasi kebahasaan Indonesia di kancah internasional. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda