Syukuran 54 tahun Dewan Dakwah Lampung. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Setengah abad lebih Dewan Dakwah Lampung berdiri yaitu 11 Januari 1968 dengan ketua pertama Buya Rafdi dan kini Dewan Dakwah Lampung sudah memasuki usia 54 Tahun.
Berbagai kegiatan dan kontribusi untuk masyarakat dan negara terus dilakukan. Memaknai tasyakur ke-54 tahun, Dewan Dakwah Lampung melaksanakan rangkaian kegiatan antara lain donor darah, bazar akbar, peluncuran dan sosialisasi Masjid Peduli Mualaf.
Bekerja sama dengan PMI Lampung sebanyak ratusan orang sudah memadati aula Dewan Dakwah untuk donor, terdapat bingkisan minyak goreng bagi para pendonor.
Turut hadir pada tasyakur Dewan Dakwah provinsi Lampung yakni Ketua Unit Donor Darah Provinsi Lampung Dwi Cahyo, Ustazah Wahyani, ketua Muslimat periode sebelumnya, mudir dan santri seluruh unit pendidikan Dewan Dakwah Lampung.
Tasyakur 54 Tahun Dewan Dakwah Lampung menjadikan organisasi ini meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak. Pada kesempatan ini telah diteken MoU Dewan Dakwah Lampung dan UPTD Donor Darah Lampung sebagai gerakan lumbung darah yang dibutuhkan serta peluncuran Masjid Peduli Mualaf.
Dwi Cahyo mengatakan keterbutuhan darah sangat tinggi. Banyak anak yang memiliki talasemia dan seminggu bisa sampai 2-3 kali membutuhkan donor. Keterbutuhan darah di Lampung sebanyak 5.000 sampai 10.000 kantong per bulan.
Setelah tanya jawab mengenai donor darah selesai dan didapatkan 107 kantong darah, dilanjutkan dengan penyampaian Ketua Umum dan Waketum Dewan Dakwah Lampung Mukhlis Solihin dan M Yani Marjas mengenai Masjid Peduli Mualaf.
Acara ditutup Ketua Muslimat Dewan Dakwah Lampung Sri Seneng. Ia mengatakan, mualaf membutuhkan pembinaan dan bimbingan. Sejak berdirinya Dewan Dakwah, organisasi sudah dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat untuk berkonsultasi agama khususnya bagi mualaf dan rutin setiap bulan ada yang bersyahadat.
Sehingga masjid sebagai sarana ibadah dapat menjadi salah satu cara untuk merangkul bersama saudara kita baik secara akidah, fikih, dan ekonomi.
“Dengan ini diharapkan masjid ikut serta peduli dengan mualaf,” kata Sri Seneng. []
