Dedy Triyadi. | Dokumentasi

LAGU Farewell to you dari grup band White Lion hampir tiap malam saya dengar di meja kerja fotografer Lampung Post Dedy Triyadi. Dibandingkan meja kerja lain, kubikel milik Dedy Triyadi memang lumayan istimewa.
Kala itu, saat saya masuk ke Lampung Post, hanya beberapa komputer yang dilengkapi fasilitas memadai. Selebihnya hanya komputer kerja berbasis Dos yang cuma bisa dipakai mengetik.
Boro-boro internet. Awal-awal kerja, hanya ada 1 komputer yang tersambung dengan internet. Yang mau memakai ya mesti antre. Ada juga satu komputer kerja khusus untuk mengambil berita dari kantor berita Antara. Dari situ redaktur yang butuh foto dan berita dari kantor berita itu bisa mengunduh.
Dedy Triyadi biasanya keluar kantor sekitar jam 11 malam usai memastikan semua foto di semua halaman terpasang dengan baik. Ia tidak mematikan komputernya. Ia tahu bakal ada kru lain yang singgah di meja kerjanya. Salah satunya saya.
Dari komputer itu, suara musiknya mantap. Dedy mempersenjatai meja kerjanya dengan speaker yang lumayan kencang dan bagus suaranya. Lagu Farewell to You yang punya ciri khas gebukan drum mantap, makin enak didengar. Itulah salah satu lagu yang paling demen saya dengar.
Saya masuk Lampung Post tahun 2004 sampai dengan 2014. Sedangkan Dedy Triyadi, senior di kantor. Ia masuk duluan sekitar tahun 1999. Tahun 2009, ia cabut dari Soeta 108–sebutan lumayan akrab untuk kantor Lampung Post. Lepas itu, saya lama tak bersua Dedy.
Ada kalanya bertemu sebentar saat saya main ke Kantor Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Lampung. Lepas dari Lampung Post, Dedy diterima sebagai salah satu komisioner KPID.
Perjumpaan saya agak intens jelang pemilu 2019. Saya diminta salah satu komisioner KPU Bandar Lampung Fadilasari untuk memperkuat relawan demokrasi basis warganet. Dedy juga sudah pindah ke KPU Bandar Lampung. Ia komisioner KPU Bandar Lampung. Ketuanya Fauzi Heri.
Ketiga orang ini punya latar belakang jurnalis semua. Fauzi Heri eks wartawan Indosiar, Fadilasari eks wartawan Tempo dan Metro TV, dan Dedy eks fotografer Lampung Post.
Beberapa kali bertemu Dedy pada kegiatan sosialisasi pemilu legislatif dan pemilu presiden tahun 2019. Tapi obrolan kami relatif biasa. Basis warganet yang saya dapuk menempatkan Fadilasari sebagai komisioner yang bertanggung jawab di situ.
Lepas pemilu 2019 dan jelang pilkada Bandar Lampung 9 Desember 2020, KPU Bandar Lampung kembali merekrut relawan demokrasi. Situasi di KPU Bandar Lampung sudah berubah. Hasil pemilihan di KPU menempatkan Dedy Triyadi sebagai ketua.
Nama Fadilasari dan Fauzi Heri sudah tidak ada. Hanya ada dua nama yang lawas saya ketahui: Ika Kartika dan Fery Triatmojo. Dua komisioner yang baru adalah Robiul dan Hamami.
Sekitar Oktober 2020, ponsel saya berdering. Saya sedang di anjungan tunai mandiri BCA di swalayan Ftrinof Hajimena. Di layar tertera nama Dedy Triyadi.
“Assalamualaikum. Adian sibuk apa sekarang?” Dedi tanya itu ke saya.
Saya jawab, biasa saja. Hanya mengurus web jejamo.com.
“Bantu saya lagi di relawan demokrasi ya bro. Untuk sosialisasi pilkada Bandar Lampung. Siapin aja lamaran, curriculum vitae, dan foto. Bawa aja ke kantor besok.”
Saya mengiyakan. Besoknya saya ke kantor KPU Bandar Lampung. Basis relawan masih sama seperti pemilu legislatif. Ada 10 basis yang dibentuk. Bedanya, kru di tiap basis sekarang hanya 2, dahulu ada 5.
Dedy membawahkan dua basis, warganet dan pemilih pemula. Robiul menggawangi basis disabilitas dan agama. Fery Triatmojo didapuk basis marginal dan komunitas. Ika Kartika di berkebutuhan khusus dan keluarga. Sedangkan Hamami di pemuda dan perempuan.
Saya ditaruh di posisi koordinator basis warganet. Dedy menaruh Khusnul Asyaifah sebagai tandem. Cewek cantik dan selebgram ini rupanya sengaja dipasang Dedy di basis saya.
“Supaya elu semangat dan awet muda,” kata Dedy. Saya ketawa saja.
Di basis pemilih pemula ada Hania Saputri dan Roida. Mereka dan Khusnul adalah mahasiswi Ilmu Pemerintahan FISIP Unila. Sejak itu intensitas saya bertemu Dedy cukup sering.
Sebagai bagian dari penyelenggara pemilu, semua relawan demokrasi bergerak di basis masing-masing. Kami selama dua bulan diberikan kesempatan lima kali menggelar sosialisasi. Dua kali pada bulan Oktober, tiga kali pada November 2020.
Secara tidak resmi Dedy meminta saya menjadi manajer program relawan demokrasi. Itu membuat saya leluasa datang ke kegiatan basis lain. Demikian pula basis lain bisa datang ke kegiatan basis yang kami adakan.
Jika dibandingkan pemilu 2019, aktivitas relawan demokrasi 2020 lebih guyub. Pertemanan kami hangat. Seringnya bertemu membuat kami sehati untuk menyukseskan pemilu di tengah pandemi.
Dedy berkali-kali bilang, target partisipasi suara 77 persen. Ini angka yang tinggi. Apalagi masa pandemi. Angka partisipasi pemilih pada pilkada 2015 hanya 66 persen.
Dalam hati saya membatin, sama seperti tahun 2015 saja sudah bagus. Syukur-syukur naik. Soal mencapai target nasional itu saya hakulyakin saja. Dengan kerja keras dan bareng-bareng basis lain, angka itu insya Allah tercapai. Setidaknya mendekati.
Kepada jurnalis, Dedy juga intensif berkomunikasi. Ia membuat grup untuk semua wartawan peliput pilkada. Dedy lumayan aktif membuat rilis resmi KPU. Apalagi saat Bawaslu meminta KPU membatalkan pasangan Eva Dwiana dan Deddy Amarullah sebagai peserta pilkada. Bawaslu bilang, pasangan ini terbukti melakukan pelanggaran pilkada secara terstruktur, sistematis, dan masif.
Di sini Dedy lumayan sibuk. Bahkan, mungkin, lebih berat tekanan publiknya ketimbang menyelenggarakan pilkada. Tapi, KPU Bandar Lampung mengikuti saja aturan hukumnya. Sampai dengan mempersiapkan jawaban ke Mahkamah Agung lantaran Eva membawa perihal itu ke MA. Dedy dan komisioner lain juga mesti mempersiapkan jawaban untuk gugatan di Mahkamah Konstitusi.
Akhir dari drama panjang itu, hemat saya adalah pada Kamis, 18 Februari 2021. KPU resmi menetapkan Eva Dwiana dan Deddy Amarullah sebagai pemenang pilkada. MA mengabulkan gugatan Eva. Di MK, permohonan tak jadi bergulir lebih lanjut. Pendek kata, Eva menang.
Di Swiss Belhotel, 18 Februari 2021, siang hari Kamis itu, Eva dan Deddy Amarullah sujud syukur. Di foto yang saya lihat, ada Dedy Triyadi di belakang.
Dedy tenang saja, sama seperti saya melihatnya memimpin KPU Bandar Lampung. Termasuk saat gugat-menggugat ramai usai putusan Bawaslu Lampung yang meminta KPU Bandar Lampung mendiskualifikasi Eva Dwiana-Deddy Amarullah.
Yang jelas, Dedy tak ikutan sujud syukur. Cukuplah Deddy yang satunya yang bersujud syukur.
Selama masa sosialisasi pilkada, memang banyak yang minta agar KPU menunda pilkada. Banyak pihak khawatir ada klaster baru dari penyelenggaraan pilkada. Lantaran sudah ketok palu jadi hajat nasional di lebih dari 200 daerah di Indonesia, pilkada tetap jalan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.
Dedy berkali-kali meyakinkan bahwa KPU sudah mempersiapkan protokol yang ketat untuk mencegah penularan covid-19. Ada 15 hal baru yang akan diterapkan di TPS.
Dedy juga keliling kesana kemari mensosialisasikan pilkada. Kali lain ia bicara di depan seluruh Babinsa se-Bandar Lampung. Ia meminta bantuan TNI untuk sama-sama menjaga keamanan pilkada.
Kerja menyukseskan pilkada sudah selesai. Tahapan pun berakhir khusnul khatimah. Tinggal menunggu Eva Dwiana dan Deddy Amarullah dilantik saja pada 25 Februari 2021–jika tak ada aral melintang.
Dan di dalam eskalasi selama ini, ada Dedy Triyadi di dalamnya. Tak mudah bekerja menyukseskan hajat orang banyak dalam masa pandemi. Tak berlebihan kiranya jika saya bilang begitu: Dedy Triyadi, laki-laki di tengah pandemi. Oh iya, ini lirik lagu Farewell To You jika Anda ingin melantunkannya.
Well it’s time to say goodbye my friend
I’m glad you stayed until the end
I hope that you’ve enjoyed the time we spent
Though I know that I’ll be back again
I don’t know just how soon my friend
Until we meet again just think of me
I’ll think of you
It was easier to say hello
Than to say goodbye
Now the bus is leaving once again
I bid farewell to you
Oh oh yeah
I remember all the fun we had
And all the tears when times were bad
But you were there when we were down and out
And I know that I will not forget
What was written and what was said
And who was there when we were not on top
Of the world
It was easier
Yes it’s…[Adian Saputra, Pemimpin Redaksi Wartalampung.id]
