Sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung Darmawan Purba. | Adian Saputra

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung mengajak pemilih pemula pilkada Banda Lampung tidak jadi “Jenewa”. Jenewa yang dimaksud Sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan ini bukan sebuah kota di Swiss. Jenewa yang dimaksud Darmawan Purba adalah akronoim dari “jenuh, nervous, dan kecewa”.
“Tingkatan Jenewa ini lebih tinggi daripada kecewa,” kata dia saat menjadi narasumber sosialisasi tahapan pilkada di Kafe Ambarukmo gelaran Relawan Demokrasi Basis Pemilih Pemula hari ini, Selasa, 1 Desember 2020.
Darmawan bilang, “Jenewa” akan terjadi jika kaum milenial tidak kritis terhadap demokrasi. Juga akan makin mewujud jika kalangan muda malah golput alias tidak memilih pada pemilu atau pilkada.
Dalam konteks pilkada Bandar Lampung pada 9 Desember mendatang, Darmawan meminta pemilih pemula menyalurkan hak pilihnya dan tidak golput.
Darmawan juga mengajak peserta sosialisasi tahapan pilkada gelaran Relawan Demokrasi Basis Pemula KPU Bandar Lampung hari ini di Kafe Ambarukmo menelaah urgensi pemilihan. Darmawan mengabstraksikan adanya kenaikan retribusi dan pajak yang mesti dibayar jika kita makan di kafe atau restoran.
Jika pajaknya rendah, mungkin konsumen tidak keberatan. Tapi jika pajak dan retribusinya tinggi, kalangan milenial yang terdiri dari anak sekolah dan mahasiswa pasti menjerit.
“Tahu sendiri uang anak SMA dan mahasiswa paling berapa,” kata Darmawan setengah bercanda.
Kebijakan semacam ini tentu saja berpeluang terbit jika wali kota yang terpilih tidak prorakyat. Artinya, jika ingin mencegah peluang itu, pemilih pemula punya kans memilih calon kepala daerah yang dianggap punya rekam jejak yang baik dan punya program yang memihak rakyat. Darmawan bilang, seratusan kepala daerah ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan. Di Lampung, ada beberapa kepala daerah yang ditangkap KPK.
“Apa kita rela kalau suatu waktu kepala daerah kita ditangkap KPK karena mereka korupsi. Apa kita rela memilih seseorang yang bakal punya kans besar ditangkap KPK,” tanya Darmawan Purba yang disambut teriakan “tidak” dari peserta.
Darmawan bilang, golput bukanlah pilihan bijak dalam konteks demokrasi. Itu terjadi dahulu ketika Orde Baru menjadi kekuatan yang tidak tertandingi dan memanipulasi hasil pemilu.
“Maka ada golput dengan tokohnya salah satunya mendiang Arif Budiman,” kata dia.
Darmawan juga dengan menarik menguraikan peran generasi milenial dalam konteks demokrasi. Saat mengisi sosialisasi, Darmawan mengedepankan diskusi dan curah gagasan. Terlihat peserta aktif memberikan ide atas isu pilkada dan demokrasi. [Adian Saputra]
