Opini

CLBK dengan China, Nego dengan Amerika: Dilema Ekonomi Indonesia di Tengah Geopolitik

CLBK dengan China, Nego dengan Amerika: Dilema Ekonomi Indonesia di Tengah Geopolitik

Romi Aprilyansa

Oleh Romi Aprilyansa, Alumnus SMAN 2 Bandar Lampung dan Fakultas Teknik Unila

Bayangkan dunia seperti pasar besar, penuh warung, gudang, dan pembeli. Amerika Serikat adalah warung tua yang mahal tapi masih ramai dikunjungi. China adalah pemasok utama yang mau dibayar belakangan, namun kini makin cerdik mengatur suplai dengan jalur kabel optik bawah laut yang menjadi supply chain utama era digital. Indonesia? Kita adalah pembeli yang sedang nyicil dan sering disuruh belanja lebih banyak agar tetap bisa jualan.

Apa maksud kabel optik sebagai jalur suplai? Dalam konteks modern, perdagangan tak lagi hanya tentang barang fisik, tetapi juga arus data.

E-commerce, layanan keuangan, cloud computing, dan logistik kini berjalan lewat infrastruktur digital. Kabel optik bawah laut menjadi jalur utama perpindahan informasi lintas negara — dari transaksi finansial, sistem logistik, hingga komunikasi strategis. Seperti jalur rempah di masa lalu, kini data adalah komoditas yang dipertukarkan, dan kabel optik adalah jalurnya.

Di tengah itu, Singapura seperti gudang bersih yang tahu cara untung dari segala arus barang, uang, dan data. Namun, ambisi gudang ini tak kecil: ingin jadi pusat segala hal di kawasan. Dari logistik, layanan keuangan, hingga data center, Singapura semakin mengambil posisi sentral di Asia Tenggara. Meski kecil, gudang ini punya pengaruh besar. Dan ketika negara besar mulai “jual paksa” barang, gudang bisa jadi wasit sekaligus pemain.Indonesia kini berada di tengah tarik menarik kekuatan global. CLBK ekonomi dengan China semakin intens—dari pembangunan infrastruktur, pembiayaan, hingga proyek strategis. Tapi, di saat yang sama, AS menuntut agar kita beli lebih banyak barang mereka jika ingin ekspor kita tetap bebas hambatan. Seperti langganan warung yang harus beli sabun dan sikat, agar bisa terus dagang beras dan kopi.

Blok kini bukan lagi soal Komunis atau Liberal, tapi blok ekonomi dan teknologi. China menawarkan pembangunan cepat dengan kabel dan jalur logistiknya, sementara AS menawarkan pasar ekspor besar dan sistem keuangan global yang tetap digdaya. Indonesia terjepit di antara “rudal tarif” Amerika dan “kabel optik” China.

Teori Trilemma Globalisasi dari Dani Rodrik menyebut, negara tak bisa punya tiga hal sekaligus: integrasi global, kedaulatan nasional, dan demokrasi penuh. Indonesia mencoba bertahan di tengah, tapi ketergantungan impor, utang luar negeri, dan ketimpangan ekonomi membuat posisi tawar kita lemah.

Dengan struktur seperti ini, tekanan dari blok manapun—baik China maupun AS—akan memengaruhi Indonesia. Seperti kejadian baru-baru ini, ketika AS mendorong skema perdagangan resiprokal yang mengharuskan Indonesia menambah impor barang dari AS untuk mempertahankan akses ekspor.

Singapura, gudang kecil yang rapi itu, kini menjadi pengelola arus ekonomi digital dan fisik. Posisi sebagai hub menjadikannya wasit, tapi juga bisa jadi ancaman. Bila Indonesia tak memperkuat logistik nasional, sistem digital lokal, dan kemandirian fiskal, maka kita akan kalah cepat dari gudang sebelah.

Namun, Singapura juga cermin: negara tanpa SDA yang bisa hidup dari layanan, aturan yang solid, dan kecepatan adopsi teknologi. Bila Indonesia hanya melihatnya sebagai ancaman, kita bisa kehilangan peluang. Bila menjadikannya inspirasi, kita bisa mulai merapikan gudang sendiri.

Di era di mana “data is the new oil” dan kabel optik adalah jalur suplai utama, Indonesia harus cermat menjaga keseimbangan. Tidak ada pilihan ideal, hanya pilihan strategis. CLBK dengan China dan nego dengan Amerika harus disusun dengan hitungan matang, bukan dengan romantisme masa lalu atau ketakutan akan tekanan global.

Indonesia harus menjadikan tekanan global sebagai peluang untuk memperkuat pondasi dalam negeri. Karena di pasar global hari ini, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling cepat dan tahu kapan harus beli, kapan harus jual, dan kapan harus pasang harga. []

Referensi:

Rodrik, D. (2011). The Globalization Paradox. Harvard University Press.

BPS Indonesia (2023-2024): Statistik Gini Ratio, GDP, Impor

Bank Indonesia (2024): Nilai Tukar, Suku Bunga

Tempo, Bloomberg, Kompas: Berita terkait tren geopolitik dan ekonomi kawasan

Pidato PM Singapura (2025): tentang tekanan blok dan posisi ASEAN

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda