Bandar Lampung

Cegah Penumpukan Sampah Makanan, Komunitas Ruang Pangan Gelar Edukasi Interaktif di CFD Bandar Lampung

Cegah Penumpukan Sampah Makanan, Komunitas Ruang Pangan Gelar Edukasi Interaktif di CFD Bandar Lampung

Komunitas Ruang Pangan. | Mirliana

Wartalampung.id, Bandar Lampung — Masalah sampah makanan (food waste dan food loss) masih menjadi isu lingkungan yang sangat krusial.

Merespons hal tersebut, komunitas Ruang Pangan—foodbank pertama di Lampung yang diwadahi oleh kolaborasi mahasiswa lintas kampus di Bandar Lampung—menggelar aksi edukasi publik bertajuk Food Creative Campaign di arena Car Free Day (CFD). Minggu, 18 Oktober 2026.

Bukan hanya mengedukasi para pengunjuk di CFD, komunitas ini juga melakukan aksi membagikan makanan dan minuman gratis hasil penyelamatan produk layak konsumsi, serta berbagai macam game yang bisa diikuti anak-anak.

Hal ini menarik antusiasme pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, mahasiswa, hingga orang dewasa.

Co-Founder Ruang Pangan, Ahyar, menjelaskan bahwa kehadiran mereka di CFD bertujuan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas, terutama sektor rumah tangga.

“Kami memang besar di media sosial dan lingkungan mahasiswa, tapi edukasi ini harus sampai ke tingkat rumah tangga dan anak-anak. CFD jadi tempat yang tepat karena disinggahi ribuan orang. Harapannya, masyarakat teredukasi untuk tidak membuang-buang makanan,” ujar alumni Universitas Lampung (Unila) angkatan 2018 tersebut.

Melalui kampanye ini, para relawan Ruang Pangan turut mengedukasi masyarakat mengenai perbedaan mendasar antara food loss dan food waste:

Food Waste: Makanan olahan/siap saji yang tersisa atau dibuang (misalnya nasi atau lauk yang tidak dihabiskan).

Jika membusuk di TPA, sampah jenis ini menghasilkan gas metana yang memperparah efek rumah kaca dan mencemari udara.

Food Loss: Bahan pangan mentah yang belum diolah (seperti sayur dan buah-buahan) yang rusak atau tidak terjual di tingkat pedagang/pasar.

Untuk mengatasi kedua isu tersebut, Ruang Pangan memiliki program harian seperti Food Rescue (penyelamatan dan pendistribusian makanan layak dari mitra bisnis seperti bakery ke panti asuhan setiap Selasa, Kamis, dan Jumat) serta program Greening (penyelamatan sayuran/buah dari pasar tradisional untuk diolah kembali atau dijadikan pupuk kompos dan eco-enzyme).

Ahyar menegaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari di rumah.

“Langkah paling sederhana adalah mengambil makanan sesuai porsi dan menghabiskannya. Selain itu, buat catatan belanja agar tidak berlebihan dan lebih peka terhadap tanggal kedaluwarsa produk. Jangan sampai belanjaan menumpuk hingga membusuk di dalam kulkas,” pesannya.

Ia berharap melalui Food Creative Campaign yang diadakan 2–3 kali dalam setahun ini, kesadaran masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan (sustainability) dapat terus meningkat. [Mirliana Amira]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda